EQUITYWORLD FUTURES – Pemilik kendaraan baik roda empat maupun roda dua, masih banyak yang belum mengerti tentang perbedaan bahan bakar Pertamax, Pertamax Plus dan Premium. Padahal, penting mengetahui perbedaan bahan bakar tersebut untuk perawatan kendaraan.

Kendaraan keluaran baru, memiliki rasio kompresi tinggi seharusnya menggunakan bahan bakar bensin berjenis Pertamax. Pertamax memang harganya mahal, tapi banyak keuntungannya, ungkap Kepala Bengkel Suzuki Sugito Darmawan saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta, Jumat(14/11).

Sugito menerangkan dampak buruk pada kendaraan berkelas alias mewah yang menggunakan Premium. Dampak ini memang tidak terjadi dalam jangka pendek namun jangka panjang dan akan memerlukan biaya yang tidak sedikit bila mesin sudah mengalami kerusakan.

Lantas bagaimana keuntungan menggunakan bahan bakar jenis Pertamax?.

“Pertamax memang harganya cukup tinggi. Tapi, jenis bahan bakar Pertamax memiliki nilai oktan 92 dengan stabilitas oksidasi tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene pada level yang rendah, dengan begitu menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin kendaraan,” imbuhnya.

“Bahan bakar biasanya diukur dengan Research Octane Number atau disingkat RON. Jenis Premium punya RON 88, Pertamax dengan RON 92 dan Pertamax Plus RON 95. Research Octane Number adalah nilai yang digunakan untuk mengukur ketahanan mesin motor bahan bakar bensin terhadap efek mesin “batuk” (ngelitik),” jelasnya.

Dia menambahkan, pada mesin yang menggunakan bahan bakar Premium, bahan bakar akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan gerakan piston. Gejala ini yang dikenal dengan knocking atau mesin ngelitik. Pertamax juga bisa membersihkan timbunan deposit pada fuel injector, intake valve, ruang bakar dan mampu melarutkan air di dalam tangki kendaraan.

Bagi kendaraan yang memiliki rasio kompresi minimal 91, serta menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers, dan catalytic converters sebaiknya menggunakan bahan bakar Pertamax.

Karena memiliki oktan tinggi, sambungnya, maka Pertamax bisa menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi. Sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan Pertamax lebih maksimal, karena BBM digunakan secara optimal.

Lalu bagaimana efisiensi bahan bakar, apakah hitungan jangka panjang Pertamax lebih ekonomis?

Ternyata untuk jangka panjang mengkonsumsi Pertamax (bensin non subsidi lainnya) jauh lebih ekonomis. Meski secara hitungan kasat mata, selisih masih banyak dibanding pakai Pertamax atau bensin yang setara (Rp 6.500, asumsi harga Pertamax Rp 9.000 per liter).

Dari hasil uji coba yang pernah dilakukan, untuk pemakaian 1 liter bensin non subsidi, mampu lebih irit sekitar 10- 20% dibanding Premium. Tak hanya itu, ruang bakar juga selalu terjaga bersih karena adanya additive terbaru yang terkandung di dalam Pertamax yang bersifat membersihkan dan merawat mesin.

Begitu juga kalau mencampur Premium dengan Pertamax dengan perbandingan 1:1 untuk mencari nilai oktan setara 90 (dari oktan 88 + 92 = 180 lalu dibagi 2). Biaya yang keluar misal untuk membeli bensin 50 liter berkisar Rp 162.500 (25 liter Premium) ditambah Rp 231.250 (25 liter Pertamax senilai Rp 9.250) totalnya yakni Rp 393.750, hanya beda sekitar Rp 68 ribu dari membeli bensin non subsidi full, yang berkisar di angka Rp 462.500, namun mendapat benefit berlebih dari minimnya kerak ruang bakar.

Untungnya lagi dalam jangka panjang, jika bongkar mesin ketika kerak menumpuk bakal lebih kecil dan biaya perawatan pun tidak menguras kantong.