EQUITYWORLD FUTURES – Beberapa raksasa minyak seperti Eropa Royal Dutch Shell dan Total melaporkan penurunan laba secara signifikan pada kuartal II 2016.

Hal ini sejalan dengan terus melemahnya harga minyak dunia yang berimbas pada menurunnya pendapatan.

Shell melaporkan pendapatan berbasis current cost of supplies (CCS) yang dapat diatributkan kepada pemegang saham mencapai 1 miliar dollar AS.

Angka ini anjlok 72 persen dibandingkan 3,8 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

CCS adalah penghitungan akuntansi yang umum digunakan dalam bisnis yang terkait dengan komoditas. Capaian CCS Shell pun di bawah ekspektasi analis sebesar 2,2 miliar dollar AS.

EQUITYWORLD FUTURES : “Harga minyak yang rendah terus menjadi tantangan signifikan pada bisnis, khususnya pada bisnis hulu,” kata Ben van Beurden, CEO Shell.

Ini adalah laporan kinerja keuangan pertama yang menyertakan BG Group, yang diakuisisi Shell pada awal tahun ini dengan nilai transaksi mencapai sekira 50 miliar dollar AS.

Menurut Shell, proses integrasi keduanya berjalan dengan baik.

Sementara itu, Total melaporkan pendapatan bersih pada kuartal II 2016 turun 30 persen secara tahunan (year on year) menjadi 2,2 miliar dollar QS. Akan tetapi, pendapatan bersih secara kuartalan dilaporkan naik.

“Meskipun masih bergejolak, harga minyak Brent telah pulih sejak awal tahun dan secara rata-rata mencapai 46 dollar AS per barel pada kuartal II 2016. Total menangkap peluang rebound ini dan menyesuaiian pendapatan bersih menjadi 2,2 miliar dollar AS,” kata CEO Total Patrick Pouyanne.

Total juga menyatakan terus melakukan upaya pemangkasan biaya dan akan mencapai target penurunan biaya mencapai 2,4 miliar dollar AS tahun ini.

Belanja modal untuk tahun 2016 pun diprediksi akan berada pada kisaran 18 miliar dan 19 miliar dollar AS. Selain itu, Total melaporkan proyek di Bolivia dan Kazakhstan diharapkan dapat dimulai pada paruh kedua di 2016 ini. – Equity world Futures