EQUITYWORLD FUTURES – Tidak lama lagi di tubuh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) akan terjadi pergantian kepemimpinan. Pasalnya, di penghujung bulan Desember ini, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio sebagai orang nomor satu di tubuh TNI AL akan memasuki masa pensiunnya. Lazimnya, jabatan Kasal akan beralih kepada Perwira Tinggi (Pati) TNI AL yang berbintang tiga. Dan saat ini TNI AL memiliki tiga nama Pati, yakni Wakasal Laksdya TNI Didit Herdiawan, Kasum TNI Laksdya TNI Ade Supandi, dan Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksdya TNI DA Mamahit.

Sebelumnya, Laksamana TNI Marsetio dilantik sebagai Kasal menggantikan Laksamana TNI Soeparno. Pria kelahiran Jakarta, 3 Desember 1956 itu dilantik sebagai Kasal oleh Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada tanggal 17 Desember 2012.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku telah menyiapkan calon pengganti orang nomor satu di tubuh angkatan laut ini. Yang pasti calon yang diajukan adalah kandidat terbaik. Jenderal Moeldoko menegaskan tidak ada pesan memesan dalam pergantian pemimpin di tubuh TNI AL.

“Kayak KFC aja pake pesen-pesenan,” jawab Jenderal Moeldoko sambil bergurau, Selasa (12/13).

“Calon Kasal nggak ada pesenan-pesenan. Kita punya sistem pembinaan personel yang baik, semua melalui sistem. Tidak ada main-main dalam pemilihan. Lewat proses Wanjakti, lalu kita kasih saran ke presiden. Tidak ada pesen-pesenan kayak McDonalds,” gurau Moeldoko.

Berikut ini nama-nama 3 Pati calon pengganti Kasal TNI Laksamana Marsetio

1. Laksdya TNI Didit Herdiawan

Laksdya TNI Didit Herdiawan memulai karirnya di akademi Angkatan Laut (AAL) pada tahun 1981 dan lulus pada tahun 1984.Selesai dari AAL, dirinya mengenbam tugas perdana sebagai Perwira Divisi Anti kapal Selam di KRI Ngurah Rai-344 pada tahun 1985. Kemudian Ia dimutasi ke Perwira Seksi Watpers Satkor Armatim tahun 1988. Dan pada tahun 1994 ia menjabat Perwira Seksi Glapur Kolat Armatim.

Setahun kemudian ia dimutasi ke Kasubdiv Evagiat Puslatlekdalsen Kodikal. Di tahun yang sama kemudian menjabat sebagai Kasubdis PBA Puslatlekdalsen Kodikal.

Setahun kemudian Laksdya TNI Didit Herdiawan menjadi Palaksa KRI Lambung Mangkurat-374 tahun 1996 dan Palaksa KRI Fatahillah-361 tahun 1997. Bagi seseorang yang berkarir dalam TNI AL tidak lengkap jika tidak menjabat sebagai Komandan KRI.

Di tahun yang sama, Didit menjabat sebagai Komandan KRI Nuku-373. Karena pengalamannya sebagai Komandan KRI, akhirnya dipercayakan kembali membina personel TNI AL di Kodikal selama tiga tahun.

Setelah dari Kodikal, sempat menjabat Sahli Pang ?D? Jemen Koarmatim dan Assisten Danlantamal VIII Koarmatim tahun 2003. Pada tahun 2004 ia dimutasi ke Koarmabar dan menjabat sebagai Dansatkor dan saat itu ia telah berpangkat Kolonel. Karena kegemilangannya, Presiden RI Susilo Bamabang Yudhoyono mengangkatnya menjadi ajudan selama lima tahun.

Selesai dari Ajudan Presiden berpangkat Bintang Satu ia menjabat sebagai Danguspurla Koarmabar dan pada tahun 2010 menjadi Kepala Staf Koarmabar.

Naik pangkat menjadi Bintang Dua, Ia menjabat sebagai Pangkolinlamil tahun 2011 dan Pangarmabar tahun 2012. Kasal saat itu, Laksamana (Purn) Suparno langsung mempercayakannya menjadi Assiten Operasi (Asops) kasal. Dan akhirnya pada bulan Mei 2014 lalu, Didit dilantik menjadi Wakasal dan dinaikan pangkatnya menjadi Bintang Tiga (Laksdya) sampai saat ini.

Dari segudang pengalamannya itu,ia berpeluang menjadi Kasal pengganti Laksamana Marsetio. Lulusan Lemhanas angkatan ke-17 tahun 2011 dan S-2 Master Bussines ini tergolong cepat dalam karir militernya.

Banyak pihak yang menganggap itu diperolehnya karena kedekatannya dengan mantan Presiden SBY. Namun, dengan sederet prestasinya saat menjabat di berbagai jabatan dalam jajaran TNI AL, Ia telah menapik tudingan itu.

2. Laksdya TNI Ade Supandi

Pria kelahiran Bandung 54 tahun silam ini masuk AAL pada tahun 1980 dan lulus tahun 1983. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya pada Suspadiv dan Kursus CTT & NBCD di Belanda tahun 1986. Di TNI AL, kariernya diawali di beberapa KRI di bawah jajaran Koarmatim baik Satuan Kapal Eskorta maupun Satuan Kapal Patroli, diantaranya di KRI Mongisidi-343 sebagai Asisten Kadiv Senjata Atas Air (SAA) dan Kadiv Komunikasi tahun 1983.

Selanjutnya tahun 1986 sebagai Kadiv Pusat Informasi Tempur (PIT). Tahun 1990 menjabat sebagai Kadiv Artileri KRI Ahmad Yani-351. Dua tahun kemudian tahun 1992 dimutasikan ke KRI Oswald Siahaan-354 sebagai Kadep Operasi.

Penugasan di kapal perang pun masih terus berlanjut. Palaksa KRI Nuku-373 dijabatnya pada tahun 1993. Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1995 dipercaya sebagai Komandan KRI Tongkol-813, selang setahun kembali dipercaya sebagai orang nomor satu di KRI Sutedi Senaputra-378.

Usai mengikuti pendidikan Seskoal pada tahun 1997, ia bergabung di Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai Kepala Subdit Perencanaan dan pengembangan tahun 1998. Meski telah bergabung di AAL, namun ia tetap dipercaya menjabatan sebagai komandan di berbagai KRI diantaranya sebagai Komandan KRI Malahayati-362 pada tahun 2000 dan Komandan KRI Ahmad Yani-351 yang dijabatnya satu tahun kemudian pada tahun 2001.

Pada tahun 2002 menjabat sebagai Asisten Operasi Gugus Tempur Laut Koarmabar dan ditahun yang sama memegang jabatan sebagai Sahli ?F? Binpotnaskuatmar Pangarmabar. Usai berdinas di Koarmabar, tahun 2002 hingga 2004 kembali bergabung memperkuat jajaran Koarmatim dengan jabatan masing-masing Komandan Satuan Kapal Amfibi, Komandan Satuan Kapal Eskorta dan Komandan Komando Latihan.

Karir Laksdya Ade Supandi Ade terus melejit di lingkungan TNI AL. Pada tahun 2007 dengan pangkat Kolonel, dirinya mengabdi di Lembaga Pendidikan Kobangdikal hingga 2009, dengan jabatan masing-masing sebagai Direktur Operasi Pendidikan (Dir Opsdik) dan Komandan Komando Pendidikan Operasi laut (Dankodikopsla). Satu tahun menjabat sebagai Dankodikopsla, bulan Juli tahun 2009 jabatan sebagai Orang nomor satu di jajaran Guskamlabar dipercayakan kepadanya. Dan setahun kemudian dipercayakan menjadi Gubernur AAL.

Karirnya berlanjut pada tahun 2011 dengan menjabat sebagai Pangarmatim dan diteruskan dengan menjadi Assiten perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal setahun kemudian. Saat itu dirinya berpangkat Bintang Dua (Laksda), dan pangkatnya dinaikan menjadi Bintang Tiga setahun kemudian ketika dilantik menjadi Kasum TNI hingga saat ini.

3. Laksdya TNI DA Mamahit

Pria kelahiran Manado 54 tahun silam ini memiliki nama lengkap Desi Albert Mamahit. Dan ia merupakan lulusan AAL tahun 1984. Selama berkarir di lingkungan TNI AL, dirinya pernah menjabat sebagai Asops Pangarmabar dan Paban V/Straops Sopsal. Kemudian pada tahun 2011, Mamahit diamanatkan menjabat sebagai Danguskamlabar. Karena pengalaman dan kepiawaiannya, pada tahun 2012 diangkat menjadi Waasrena Kasal. Saat itu Ade Supandi menjabat sebagai Asrena Kasal. Karirnya kian menanjak saat menjabat sebagai Danseskoal pada tahun 2013 menggantikan Laksda TNI Arief Rudianto yang dimutasi ke Asops Kasal.

Selama setahun memegang Danseskoal, Mamahit dipercayakan menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorkamla dan dinaikan pangkatnya menjadi Bintang Tiga (Laksdya). Baru-baru ini dirinya digantikan oleh Laksda TNI SM Dorojatim sebagai Kalakhar Bakorkamla yang sebelumnya menjabat Pangarmatim.

Mamhait juga diangkat sebagai Rektor Universitas Pertahanan Indonesia di pertengahan tahun 2014 menggantikan Letjen TNI Subekti yang pada tanggal 21 Maret 2014 ditarik menjadi Pati Mabes TNI AD dalam rangka pensiun. Jabatan itu dipegangnya hingga saat ini. Menjelang pergantian Kasal, dirinya pun berpeluang menempati posisi sebagai Kasal karena syarat kepangkatannya. Meskipun terdapat aturan tidak tertulis dalam TNI AL mengenai Kasal harus dipegang oleh orang yang pernah menjabat Pangarmabar atau Pangarmatim, namun bukan berarti Mamahit tidak dapat menjadi Kasal.

Pasalnya di tahun 2001 saat Presiden Megawati Soekarnoputri mengangkat Laksamana (Purn) Bernard Kent Shondakh menjadi Kasal. Padahal, Bernard Kent Shondakh tidak pernah menjabat sebagai Pangarmabar atau Pangarmatim. Laksdya Mamahit bukan tidak mungkin meneruskan jejak Bernard Kent Shondakh.