Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengusulkan lima pengembangan soal ide tol laut yang digagas Joko Widodo. Kemenhub menyadari kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan sangat besar sehingga angkutan laut harus diperkuat.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan untuk dapat mewujudkannya setidaknya harus dilakukan lima hal yakni pengembangan pelabuhan modern sesuai dengan kebutuhan ekonomi lokal dan regional, pembangunan sistem yang transparan, akuntabel, efisien dengan menggunakan sistem elektronik untuk meminimalisir penyimpangan.

“Ide Jokowi sejalan dengan roadmap yang telah dirancang oleh Kementerian Perhubungan yang dinamakan Pendulum Nusantara. Ini akan terus dikembangkan pemerataan potensi antara barat dan timur,” ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (20/8).

Menurut dia, diperlukan pengembangan sistem multimoda dan pengembangan sumber daya manusia yang mumpuni. Soal biaya yang dibutuhkan yang dikhawatirkan terlalu mahal, Bambang menyatakan, transportasi terkait dengan arus penumpang dan barang.

“Karena itu saat terjadi kejadian yang tak imbang di mana muatan hanya terisi pada satu jalur (pergi atau pulang) saja, maka mekanisme subsidi harus diberlakukan,” jelas dia.

“Sampai nanti kondisi ekonominya terbentuk, kalau sudah terbentuk subsidi bisa dipangkas,” ungkapnya.

Bambang menegaskan, untuk membangun semua potensi tentu harus mengembangkan prinsip antarmoda dan Ini butuh koordinasi antarmoda. Saat ini yang dikembangkan adalah laut plus-plus.

“Semua kita perkuat, kereta, darat dan semuanya. Jadi kita membangunnya harus secara totalitas dan komperhensif yang terintegrasi antarmoda,” kata Bambang.

Saat ini yang ditekankan lanjutnya, adalah satu konetivitas yang lebih kuat lagi untuk pengembangan semua sektor dari sisi ekonomi, sosial, budaya.

“Dilihat dari kebutuhan semuanya, kita membutuhkan kapasitas yang lebih besar di laut,” ujarnya.

Adapun kelima faktor tersebut antara lain pertama, tentu harus membangun pelabuhan-pelabuhan modern yang bisa melayani kapal-kapal sesuai dengan kebutuhan ekonomi-ekonomi lokal nasional.

Kedua membangun sistem, sehingga semua proses bisa transparan, akuntabel dan efisien. “Ini untuk mengurangi sentuhan orang per orang. Semua dilakukan secara elektronik,” bebernya.

Ketiga adalah kapalnya akan disesuaikan, keempat mengembangkan multimodanya seperti akses ke pelabuhan. Kelima adalah institusi dan sumber daya harus juga mengikuti.

“Konektivitas ini juga penting untuk menghubungkan antara pusat dan daerah,” ujar Bambang.

Di samping itu, pihaknya juga mengharapkan sistem transportasi yang dibangun ke depan tak bisa mengandalkan pada satu moda saja. Sebab, integrasi antar moda mutlak diperlukan dengan pembangunan sistem transportasi yang komperhensif.

“Kita perlu memanfaatkan semua potensi untuk mengatasi masalah transportasi,” papar dia.

Prinsip integrasi antarmoda harus dilanjutkan. Menurutnya, masyarakat tidak bisa dimobilisasi jika hanya mengandalkan sistem satu moda saja. “Contohnya barang tak hanya cukup dengan kapal laut saja, di darat perlu ditopang oleh angkutan kereta api lengkap dengan rel jalur ganda. Di tambah dengan infrastruktur yang memadai di antara titik penghubung.