EQUITYWORLD FUTURES – Nama Gayus Tambunan kembali mencuat, menyedot perhatian, dan ramai diperbincangkan. Untuk kesekian kalinya, ia diketahui melakukan aktivitas di luar tahanan.

Beberapa tahun lalu, Gayus yang masih menjalani masa hukuman di Brimob Kelapa DUa, diketahui menyaksikan pertandingan tenis internasional di Bali. Ia mengenakan wig dan kacamata. Keberadaannya tertangkap kamera seorang fotografer Kompas.

Kali ini, foto Gayus bersama dua orang lain di sebuah restoran kembali beredar. Padahal, ia masih berstatus tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Gayus sebenarnya mendapatkan izin untuk menghadiri sidang gugatan perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Utara pada 9 September 2015.

Selama meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Gayus dikawal dua petugas lapas dan seorang personel kepolisian. Namun, ia tak segera kembali ke Lapas seusai menghadiri sidang perceraian. Gayus justru mengajak ketiga pengawalnya itu untuk makan di restoran. Petugas yang mengawal justru mengizinkan dengan alasan sama-sama dalam keadaan lapar.

Dalam foto itu, terdapat dua perempuan yang duduk berhadapan dengan Gayus. Dari hasil pemeriksaan yang dipimpin Direktur Bina Keamanan dan Ketertiban, Charles Maail, Gayus mengaku tidak mengenal dua perempuan tersebut dan membantah ponsel yang tergeletak di meja makan adalah miliknya. Kedua perempuan itu adalah teman dari seorang rekan Gayus yang turut hadir di restoran itu. Foto yang beredar adalah hasil jepretan seorang polisi yang mengawal Gayus.

“Temannya Gayus itu orang yang pintar menghitung pajak. Bukan orang pajak, tapi orang yang pintar menghitung pajak,” kata Kepala Biro Humas Kementerian Hukum dan HAM, Ansarudin, di Kantor Ditjen Pemasyarakatan, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2015) malam.

Ulah Gayus ini membuat Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly berang. Yasonna langsung memerintahkan agar Gayus dipindah dan diisolasi ke Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, yang memiliki teknologi pemutus sinyal ponsel dengan pengamanan maksimum.

“Saya sudah minta (Gayus) dipindahin ke Gunung Sindur saja. Saya juga akan meninjau Gunung Sindur karena itu adalah lapas yang kita konsentrasikan khusus untuk bandar narkoba, biar saja dia gabung di situ,” kata Yasonna.

Lalai

Kabiro Humas Kemenkumham Ansarudin mengakui adanya kelalaian dari petugas Lapas Sukamiskin dalam mengawal Gayus Tambunan. Kelalaian ini, kata Ansar, berkaitan erat dengan mental petugas lapas yang bertugas.

Ansar mengungkapkan, dengan rekam jejak Gayus yang pernah meninggalkan tahanan untuk menyaksikan pertandingan tenis di Bali beberapa tahun lalu, seharusnya petugas Lapas Sukamiskin dapat lebih mewaspadainya. Belum diketahui persis adanya motif lain yang membuat petugas mengizinkan Gayus makan di restoran tersebut.

“Ini anak (Gayus) memang nakal, harusnya di sini ada kepekaan dengan tingkah laku Saudara Gayus. Sudah orangnya begini kok dibiarkan bisa makan (di restoran) begini,” kata Ansar.

Saat ini, proses pemeriksaan terhadap Gayus dan para pengawalnya masih berlanjut. Gayus diduga melakukan pelanggaran kategori register F dan akan diberi sanksi berat berupa diisolasi di Lapas Gunung Sindur, tidak memiliki hak dibesuk kecuali oleh pengacaranya, dan kehilangan hak mendapatkan remisi dalam jangka waktu tertentu.

Sementara, dua petugas lapas yang mengawal gayus sementara ini dipindah ke bagian administrasi Lapas Sukamiskin.