Apakah Anda pernah bertanya-tanya mengapa es krim bisa begitu lembut di mulut? Pertanyaan yang banyak keluar dari otak penikmat es krim tersebut kini telah ada jawabannya.

Menurut Dr Matthew Hartings dari American University, salah satu penyebab utama kelembutan es krim adalah ukuran kristal es pembentuk es krim itu sendiri. Semakin kecil ukuran kristal ‘heksagonal’ es krim, semakin lembut es krim terasa di lidah, begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu produsen es krim menyiasati pembuatan es krim dengan dua cara. Yang pertama adalah dengan menambahkan pengemulsi. Karena pada dasarnya es krim terdiri dari air dan lemak, kedua zat tersebut cenderung memisah dan membentuk kristal es besar saat didinginkan. Di sinilah pengemulsi berperan dengan membuat air dan lemak mudah tercampur agar tercipta kristal es berukuran mini.

Metode kedua yang dipakai adalah dengan meningkatkan kecepatan putaran alat pembuat es krim. Ternyata semakin cepat air dan lemak membeku, semakin kecil pula kristal es yang akan terbentuk untuk menghasilkan es krim dengan tingkat kelembutan ekstra.

Untuk membuktikan teori tersebut, Dr Hartings membuat sebuah penelitian pembuatan es krim dengan tiga cara, yang pertama memakai pembuat es krim elektrik, kedua memakai cara ‘kuno’ kantong es yang tercampur dengan garam, sedangkan yang terakhir menggunakan nitrogen cair yang saat ini banyak digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat es krim.

Hasilnya, nitrogen cair lah yang mampu menghasilkan es krim yang paling lembut, disusul oleh alat pembuat es krim, dan kantong es plus garam. Nitrogen cair menjadi juara sebab zat tersebut mampu mendinginkan bahan awal es krim paling cepat di antara ketiga cara yang dipakai.

Hal lain yang patut dicermati adalah rendahnya suhu es krim bisa membuat indera pengecap pada lidah tidak mampu merasakan manisnya es krim. Oleh sebab itu es krim yang telah mencair terasa memiliki tingkat kemanisan lebih dibanding dengan yang beku.