EQUITYWORLD FUTURES – Senjata api rakitan di kalangan pelaku kejahatan bukan barang baru. Dengan harga Rp 3 juta – Rp 5 juta, para penjahat bisa menenteng senjata api tersebut untuk melancarkan aksinya.

Kepala Unit 1 Subdirektorat Kejahatan yang Disertai Kekerasan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Gunardi menjelaskan, peredaran senjata api rakitan tersebut berasal dari daerah Jabung, Lampung Timur. Dalam dua tangkapan perampok bersenjata api bulan Agustus tahun ini, Gunardi mendapati asal senjata perampok tersebut dari daerah Jabung.

“Mereka dapat senpi (senjata api) dari Jabung, Lampung Timur,” kata Gunardi di ruangannya, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Bukan kali ini saja para perampok tersebut mengaku mendapat senjata api dari Jabung. Sejak 2012 lalu, nama daerah Jabung pun sudah masuk dalam daftar hitam Polda Metro Jaya.

“Kita sudah pernah masuk ke sana (Jabung). Tapi tidak bisa karena orang-orang di sana langsung teriakin kita maling,” kata Gunardi.

Gunardi menduga di tempat tersebut berdiri industri rumahan senjata api rakitan. Industri tersebut memasok senjata kepada para perampok di Jakarta dan sekitarnya.

Kualitas rakitan

Dua tangkapan terakhir oleh Gunardi memperlihatkan dua senjata api dengan jenis sama, namun dengan kualitas berbeda. Mulai dari tampilan hingga kaliber pelurunya.

Senjata milik Ramdhani misalnya, begal motor ini memiliki senjata api dengan peluru kaliber Colt 38. Sedangkan, senjata api milik Abdul Wahab, yang diduga hendak digunakan merampok ini memiliki peluru kaliber 9 mm. “Tapi kualitas rakitannya enggak rapi,” kata Gunardi.

Misalnya, kata Gunardi, peluru yang terlontar dari senjata api tersebut kerap tidak tepat sasaran. Jika membidik ke kaki, maka peluru tersebut bisa terlontar ke kepala. “Ini yang membuat ngeri,” kata Gunardi.

Penyebabnya,senjata api tersebut tidak memiliki ulir di laras. Sehingga peluru terlontar dengan asal tanpa bisa langsung lurus mengenai sasaran.

Senjata api milik Ramdhani dapat dikategorikan cukup baik lewat tampilannya, mulai dari gagang hingga warna keseluruhannya. Selain itu, juga memiliki tempat peluru terbuat dari besi yang ditempa. “Senpi rakitan ini bisa diisi sekaligus enam peluru,” ujar Gunardi.

Namun saat ditembakkan, pemilik harus menggeser rumah peluru senjata berjenis revolver tersebut. Inilah perbedaan dengan revolver asli yang bersifat otomatis.

Lain halnya dengan senjata api milik Abdul Wahab. Senjata milik perampok ini lebih buruk kualitasnya dengan gagang yang hanya dililit lakban hitam dan hanya memiliki satu tempat peluru.

“Jadi setiap sudah menembak, apabila hendak menembak lagi, maka harus isi peluru lagi,” ujar Gunardi.

Sulit dilacak

Membeli senjata api rakitan di daerah Jabung bukan perkara mudah. Para penjahat bersenjata api pun tak pernah tahu di mana persisnya lokasi industri rumahan senjata api rakitan tersebut.

Ramdhani, begal bersenjata api, mendatangi langsung daerah Jabung untuk membeli senjata tersebut seharga Rp 3 juta. Namun, ia pun tak bertemu langsung dengan pelaku industri rumahan senjata tersebut.

“Jadi dia ketemu di jalan dan langsung membeli. Enggak pernah tahu pabrik senjata rakitannya,” ujar Gunardi.

Setelah mendapat senjata api tersebut, ia pun langsung pulang ke Jakarta dengan menggunakan sepeda motor. Sekaligus membawa senjata api tersebut dalam perjalanan.

Berbeda dengan Abdul Wahab. Pria paruh baya ini mendapat senjata api dari temannya yang berada di penjara. Ia membeli tanpa harus datang ke Lampung.