EQUITYWORLD FUTURES – Sebuah lembaga survei, Economist Intelligence Unit (EIU), melakukan jajak pendapat soal kualitas keamanan (the Safe City Index) di 50 kota di dunia. Hasilnya, Jakarta dinobatkan sebagai kota paling tidak aman sejagat, dengan skor 53,71 bersama empat negara lainnya.

Kategori yang jadi penilaian seperti keamanan warga, infrastruktur, digital, hingga jaminan kesehatan. Turut diperhatikan adalah angka kejahatan, jumlah warga meninggal akibat kematian tidak wajar, serta kemampuan teknologi informasi pemerintah setempat memantau aktivitas kejahatan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Singapura, Osaka dan Tokyo. Tingkat keamanan di tiga negara ini justru paling tinggi.

Lantas apa tanggapan Ahok dan Djarot sebagai pemimpin DKI soal survei ini?

Beberapa waktu lalu, Ahok memang meminta pada dinas terkait untuk segera memasang closed circuit television (CCTV) di sejumlah daerah rawan di Jakarta. Tujuannya, untuk memantau daerah rawan kejahatan maupun infrastruktur yang tak layak.

Belum lagi perintah itu terealisasi, sebuah survei sudah lebih dulu merilis betapa rendahnya tingkat keamanan di Jakarta. Padahal selama ini, Jakarta sendiri dikenal dengan slogan Enjoy Jakarta.

Slogan ini muncul sekitar tahun 2005 lalu. Tujuan slogan ini sebenarnya untuk memotivasi semua pihak untuk berlomba-lomba menyediakan yang terbaik untuk warga Jakarta sehingga jumlah kunjungan wisatawan asing (wisman) terus bertambah dari tahun ke tahun.

Meski nyatanya jumlah turis bertambah, sayang pelayanan di Jakarta juga semakin menurun. Meski sejumlah pembangunan, transportasi, dan infrastruktur berkembang, tapi efek negatifnya ke masyarakat belum begitu dirasakan.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, hanya menanggapi santai persoalan ini.

“Ya kamu tanya polisi. Kami pasang CCTV, nanti yang nggak aman kami lumpuhkan semua,” ujarnya kemarin.

Dia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta hanya bertindak sebagai pihak yang membantu pengamanan wilayah. Bahkan, mantan Bupati Belitung Timur ini mengungkapkan, telah memberikan bantuan motor kepada Polisi dan TNI.

“Kami sudah sumbang motor 300 lebih kepada Brigif (Brigadir Infantri) termasuk kepolisian. Kami akan monitor setiap sudut,” jelasnya.

Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, berjanji akan melakukan berbagai cara agar warga merasa aman tinggal di Jakarta.

“Memang (angka kejahatan. Tinggi), makanya kami buat program untuk memberantas preman di Jakarta. Dan kami bisa meminimalisir penyakit masyarakat ini,” ujar Djarot kemarin.

Tapi menurutnya, bukan cuma Jakarta semua kota yang berkembang pasti angka kriminalitasnya ada.

“Hampir tidak ada (kota bisa zero crime), tunjukan pada saya kalau memang ada,” tegasnya.

Lalu, apakah hasil survei ini akan mempengaruhi jumlah wisatawan di Jakarta?

Bicara soal hasil survei seperti ini sebenarnya bukan hal baru buat Jakarta. Jakarta beberapa tahun terakhir sering masuk dalam kategori kota yang ikut survei dan dibandingkan dengan sejumlah kota besar di berbagai negara.

Mayoritas, survei yang dilakukan bertujuan untuk melihat selayak apakah Jakarta untuk jadi kota tempat tinggal, bisnis, sekolah dan tentunya liburan.

Pada 2012, lalu portal berita CNN dalam sebuah artikelnya coba mengurutkan kota-kota yang paling benci di dunia. Kota Jakarta masuk sepuluh besar menempati urutan ketujuh tepat di bawah, kota Lima, Peru.

“Ini adalah kota yang paling diharap dalam perspektif traveler karena penuh kejutan dan kesulitan,” kata seorang ekspatriat dari TripAdvisor yang mengaku perlu enam bulan untuk ‘mencintai’ Jakarta.

Faktor kebencian itu muncul karena kondisi lalu lintasnya, polusi, kemiskinan, dan tak ada ‘pemandangan’ lain selain epidemi mal.

Tak cuma masalah keamanan dan kecintaan pada Jakarta, masalah kebersihan kota metropolitan ini pun juga pernah di survei. Hasil penelitian Regional Environment Manajemen Agency, Jakarta menduduki peringkat ke 3 sebagai kota paling buruk kualitas udaranya di dunia setelah Mesiko City dan Bangkok.

Tinggal di kota Jakarta yang sangat padat sungguh jauh dari kenyamanan. Hampir semua sumber kehidupan yang vital seperti air dan udara, sudah tidak layak lagi dikonsumsi. Tak hanya itu 90 persen sumur contoh yang dioperasikan secara acak di kota Metropolitan ini terbukti mengandung ikoli, bakteri yang berasal dari kotoran manusia.

Hal ini membuktikan bahwa teknologi septic tank yang selama ini diandalkan untuk mendaur ulang kotoran manusia kuno dan justru lebih banyak mencemari air tanah yang kemudian dikonsumsi lagi.

Sementara mengenai pencemaran udara Kosasih menambahkan, manusia tidak punya pilihan untuk bernapas.

Selain masalah lingkungan, apalagi survei yang menilai tentang Jakarta?

Sebuah perusahaan asuransi bernama Swiss Re melakukan sebuah penelitian untuk dapat menciptakan ranking kota mana yang paling memiliki risiko terhadap bencana alam. Dalam penelitiannya tersebut, akhirnya terkumpul 10 kota di seluruh dunia, yang Jakarta adalah salah satunya.

Jakarta tepat berada di peringkat keenam di bawah Nagoya, Jepang. Penyebabnya, banjir kerap dialami oleh banyak masyarakat di Jakarta. Buruknya sistem pembuangan sampah sampai dengan drainase serta sekitar 40 persen letak Jakarta berada di daerah yang rendah, membuat sekitar 27,7 juta jiwa terancam. Selain itu, Jakarta juga berada di atas garis patahan yang sewaktu-waktu bisa bergeser dan mengakibatkan gempa bumi sampai dengan tsunami.

Bahkan Jakarta juga pernah disurvei sebagai kota kedua. termahal se-Asean setelah Singapura. Survei itu dilakukan Mercer, sebuah perusahaan konsultan global untuk masalah sumber daya kemanusiaan dan jasa keuangan.

Mercer melakukan survei pada 143 kota di 6 benua dengan membandingkan 200 jenis biaya di tiap lokasi, termasuk transportasi, makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan hiburan. Mercer mengungkapkan survei sebagai tolak ukur untuk dapat membantu pemerintah dan perusahaan multinasional dalam menentukan biaya hidup bagi karyawan ekspatriatnya.

Dengan berbagai penilaian masalah lingkungan, alam hingga tingkat konsumtif kota ini, bahkan sebuah survei menyebut Jakarta urutan ke 208 sebagai kota yang layak dihuni. Sementara urutan pertama kota layak huni lagi-lagi dikuasai Singapura bagi ekspatriat.

Jajak pendapat ini dilakukan ECA International, sebuah lembaga konsultan. Selain Jakarta, surabaya juga masuk dalam kategori layak huni urutan ke 217.