EQUITYWORLD FUTURES – Jepang adalah negara paling strategis dan paling lama menghadirkan para investornya di Indonesia. Mereka membawa nama global, keahlian, dan teknologi ke Tanah Air.

Chairman Lippo Group James Riady mengutarakan hal itu usai peresmian hari pertama sekolah Jepang, Hikari Japanese School, di Orange County, Lippo Cikarang, Bekasi, Selasa (5/5/2015).

“Di koridor timur ini mereka (Jepang) punya 1.600 pabrik. Dalam waktu 3-5 tahun bisa meningkat sampai 6.000 pabrik. Ini akan menyerap tenaga ratusan ribu orang,” ujar James.

Investasi Jepang di Indonesia tahun ini, kata dia, masih dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan konsistensi Jepang di Indonesia selama 30 tahun.

Oleh sebab itu, saat ini momen terbaik melihat Jepang, mengingat tahun 2015 adalah tahun bahaya karena ekonomi dunia tengah melemah. Pertumbuhan ekonomi mengerucut, sehingga beberapa daerah mengalami tantangan cukup besar.

Di tengah-tengah kekhawatiran ini, Indonesia perlu jeli melihat negara mana yang punya potensi untuk masuk lebih besar lagi. Negara tersebut, tidak lain adalah Jepang.

“Kalaupun secara makro negara Jepang mengalami tantangan, tapi secara mikro, perusahaan Jepang itu dengan konsolidasi dan reformasi, jadi perusahaan terbaik di dunia, rating bagus, kemampuan bagus, keuangan bagus. Mereka inginnya ke Indonesia. Saat mereka ke Asia Tenggara, mereka lihat Indonesia,” jelas James.

Menurut dia, Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar dan ramah terhadap Jepang, serta negara-negara lain. Jika melihat perkembangan saat ini, pabrik mesin Jepang sudah dibangun di Cikarang.

James juga mengatakan, dari lima besar investor luar negeri di Indonesia yaitu Jepang, Korea, Amerika, Inggris, dan Jerman, khususnya Cikarang, Jepang memiliki porsi 30-35 persen. Meski secara formalitas Jepang seringkali menanamkan investasi melalui Singapura, tetapi selama 30 tahun ini, negara dengan julukan matahari terbit ini konsisten di Indonesia.

Andalkan UKM Jepang

Senada dengan James, Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Meow Chong Loh, menargetkan Indonesia bisa menyaingi Thailand yang sudah lebih dulu memfasilitasi pabrik-pabrik dari Jepang.

“Di Thailand, ada 6.000 pabrik khusus Jepang. Indonesia baru 1.600, sekarang mulai investor Jepang masuk expansion Toyota, Suzuki, Mitsubishi, Yamaha, semua Japan Company masuk Indonesia, semuanya ekspansi,” tutur Loh.

Untuk mengundang lebih banyak lagi investor Jepang di Cikarang, Loh memfokuskan pengembangan usaha kecil menengah atau Japanese Small Medium Enterprise (SME). Menurut dia, proyek ini sangat strategis bagi perusahaan-perusahaan kecil sampai menengah Jepang, untuk membangun pabrik dengan modal yang tidak banyak. Para investor hanya perlu menyewa lahan selama lima tahun dengan harga 13 dollar AS per meter persegi.

“Dari 1.500 pabrik, sekarang sudah 2.000 yang register. Dalam lima tahun, bisa menambah 5.000 pabrik. Ada yang (sewa lahannya) kecil, 400-500 meter persegi, yang besar 1.000-2.000 meter persegi,” jelas Loh.

Kebanyakan perusahaan ini, tambah dia melakukan uji coba pabrik di Indonesia, dan SME berfungsi sebagai pusat inkubatornyanya.

Nantinya, perusahaan yang banyak bergerak di bidang otomotif dan elektronik ini, bisa menentukan akan terus menyewa atau mau beli tanah, mengingat nilai Yen juga masih baik. Dengan demikian, membeli tanah di Indonesia juga tergolong lebih murah.