EQUITYWORD FUTURES – “Yang belum tuntas dari situ (kasus pembunuhan Munir) apa?” kata Gubernur Joko Widodo awal September lalu di Balai Kota Jakarta, saat ditanya wartawan soal otak pembunuhan Munir belum tertangkap. “Ya nantilah, belum dilantik kok. Yang belum jelas diperjelas.”

Kini hampir tiga bulan sehabis pernyataan itu keluar, pembunuh Munir, Pollycarpus Budihari Prijanto, justru menghirup udara bebas. Dia dilepaskan berdasarkan surat keputusan pembebasan bersyarat ditetapkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bertanggal 13 November 2014.

Polly Sabtu pekan lalu melenggang keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, setelah menjalani delapan tahun dari masa hukuman 14 tahun. Bebasnya sang eksekutor Munir Said Thalib ini menuai banyak kritikan buat Jokowi. Padahal saat kampanye pemilihan presiden lalu, Jokowi atau Jusuf Kalla berjanji menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi terjadi di masa lalu.

Sebulan sebelum pemilihan presiden dilangsungkan, Jokowi sesumbar bakal mengusut kasus pelanggaran hak asasi. “Kasus pelanggaran HAM harus dituntaskan,” katanya. Dia mengatakan negara ini jangan terus menerus dihantui catatan kelam pelanggaran hak asasi masa lalu.

Saat berbicara itu, Jokowi secara sengaja menyindir lawannya saat pemilihan presiden, Prabowo Subianto. Pada kampanye lalu media nasional gencar memberitakan keterlibatan mantan Komandan Jendral Komando Pasukan Khusus itu dalam penculikan aktivis pada 1998.

Namun bebasnya Polly justru menjadi pertanyaan besar terhadap janji Jokowi menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi. Apalagi saat kampanye dulu, Jokowi jarang berbicara soal kasus pembunuhan Munir. Dia lebih banyak menyindir soal hilangnya 13 aktivis 1998. Padahal kedua kasus itu sama-sama pelanggaran hak asasi.

Ketika datang ke rumah transisi September lalu, Direktur Eksekutif Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) Choirul Anam menuntut Jokowi mengusut tuntas kasus pembunuhan Munir. Menurut dia, sepuluh tahun kematian Munir, aktor utama pembunuhan suami dari Suciwati itu masih berkeliaran.

“Padahal setiap fakta telah terungkap memberi makna dan menunjukkan arah siapa pembunuh Munir,” kata Choirul. Saat mengunjungi rumah transisi, Choirul membawa beberapa dokumen berisi fakta, siapa saja nama-nama pelaku pembunuhan Munir. “Yang terlibat dari investigasi kami ada Hendropriyono, Muchdi, dan mantan wakil kepala BIN (Badan Intelijen Negara) Asad Said Ali,” ujarnya.

Sayang, Suciwati tidak memberikan respon saat merdeka.com mengirim pesan untuk wawancara melalui telepon seluler semalam.