Perusahaan raksasa berbasis teknologi dan internet, Google, tampaknya harus lebih berhati-hati dalam melaksanakan proyek-proyek prestisiusnya. Sebab minggu lalu, salah satu balon udara buatannya sempat membuat ‘kekacauan’.

Balon udara yang termasuk dalam proyek Loon ini dikabarkan jatuh hari Rabu, minggu lalu, di wilayah Yakima, negara bagian Washington, AS. Akibatnya, listrik di beberapa daerah Yakima diketahui padam setelah kejadian tersebut.

Google sendiri telah mengonfirmasi kebenaran kecelakaan balon udara itu dan mengungkapkan jika balon tersebut tengah dalam proses pendaratan yang memang ‘direncanakan’.

Tapi sebelum pendaratan selesai dilakukan, balon tersebut menghantam beberapa kebel listrik, tepatnya pada pukul 1 dini hari waktu setempat, NBC News (3/6).

Google juga diketahui bergerak cepat untuk mengatasi ‘aib’ tersebut. Seperti yang dikabarkan oleh The Verge (3/6), ‘TKP’ jatuhnya si balon telah ‘dibersihkan’ hanya dalam waktu 5 jam saja. Bahkan laporan tentang kejadian ini tidak sempat sampai di telinga polisi atau pemadam kebakaran setempat.

Balon udara ini sebenarnya telah dibekali dengan panel surya sebagai sumber energi utamanya dan diklaim mampu terbang selama 3 bulan atau 100 hari untuk menyebarkan sinyal internet di daerah-daerah terpencil.

Lalu mengapa balon ini bisa terjatuh?

Walaupun Google belum bersedia menyampaikan detail pasti kejadiannya, sumber lain menyatakan balon udara ini mungkin terkena benturan angin saat mengudara di ketinggian 18 kilometer di atas permukaan tanah. Ketinggian tersebut lebih terbilang aman karena terletak di atas zona penerbangan komersial.

Google pun menyatakan akan menambah sistem keamanan pada balon ini untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Sejatinya proyek Loon sudah mempunyai sistem keamanan berupa parasut yang akan terkembang sewaktu balon udara dirasa jatuh terlalu cepat.