EQUITYWORLD FUTURES – Jenazah AKP Anumerta Bryan Theophani Tatontos yang tewas tertembak saat kontak antara polisi dengan kelompok sipil bersenjata di Gunung Langka, Poso,Sulawesi Tengah pada Kamis (20/8/2015) malam, tiba di Rumah Sakit Bhayangkara, Jumat (21/8/2015) pagi. Jenazah perwira polisi itu tiba bersama jenazah anggota kelompok Santoso, yang juga tewas dalam kontak senjata Rabu kemarin.

Dua jenazah tersebut diangkut dari Kecamatan Poso Pesisir dengan menggunakan dua unit ambulans. Sebelumnya, jenazah diangkut oleh Tim Brimob Polda Sulteng dari lokasi kontak senjata di pegunungan Langka menuju Poso pesisir pada Kamis siang.

Begitu tiba di RS Bhayangkara, keduanya langsung dibawa ke kamar jenazah untuk dibersihkan. Kemudian, jenazah perwira polisi tersebut disemayamkan di Gedung Torabelo Polda Sulteng, sambil menunggu keluarga yang akan datang dari Manado, Sulawesi Utara.

Sementara jenazah terduga anggota kelompok Santoso disimpan di ruang pengawet di kamar jenazah RS. Bhayangkara.

“Rencananya Jumat pagi jenazah perwira polisi yang gugur akan diterbangkan ke kampung halamannya di Manado, Sulawesi Utara,” Kata Waka Polda Sulteng, Kombes Leo Bona Lubis.

Sebelum tewas, perwira polisi Bryan Theophani Tatontos baru naik pangkat pada 1 Juli 2015 lalu menjadi Iptu. Perwira muda tersebut menjabat sebagai Komandan Kompi Brimobda Sulteng, di Poso. Oleh Mabes Polri, Bryan dianugerahi kenaikan pangkat menjadi Ajun Komisaris Polisi Anumerta.

Bryan tewas dalam baku tembak antara polisi dengan sekitar 30-an orang yang diduga merupakan anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso. Kontak tembak itu terjadi saat anggota polisi melakukan pengejaran terhadap beberapa orang bersenjata di sekitar pegunungan itu.

Satu anggota terduga teroris tewas dalam baku tembak itu. Kemudian, saat akan mengangkut jenazah terduga teroris, pasukan Brimob di bawah gunung pimpinan Bryan ditembaki dari arah atas perbukitan oleh sejumlah orang. Akibatnya Bryan tertembus peluru di bagian perut dan pinggang sebelah kiri.

Saat itu polisi sempat menyita barang bukti yang ditinggalkan oleh kelompok Santoso di kamp persembunyian mereka.

Barang bukti tersebut berupa sepucuk senjata api sniper M160 organik merk Bareta, sepucuk senjata rakitan laras panjang, 28 bom pipa jenis lontong, sebuah laptop kecil, sebuah handycam, 4 buah bendera MIT, black powder, 4 baterai, 4 lembar peta, charger heandphone dan handytalky, 4 buah peluru kaliber 12,7 milimeter, buku-buku jihad dan sejumlah catatan.