EQUITYWORLD FUTURES – Geliat kota wisata Bandungan, Semarang, seolah tak pernah habis untuk diperbincangkan. Baru-baru ini muncul fenomena “Tukiman” atau teman laki-laki PSK yang tinggal bersama di kos-kosan sebagai pasangan hidup dan eksodus para PSK dari kos-kosan ke kamar-kamar hotel kelas melati.

Seorang perwira polisi yang pernah bertugas di wilayah Bandungan, sebut saja Iptu AM, membagikan catatannya tentang aktivitas hiburan dan prostitusi kota Bandungan. Catatan buku harian itu sebelumnya ia sebut sebagai catatan rahasia, namun kali ini rela membaginya kepada Kompas.com dengan syarat data diri, nama tempat dan orang-orang yang ada di dalam cerita itu dirahasiakan. Berikut catatannya.

Bandungan, oh… Bandungan… tak pernah sepi dari pemberitaan. Ada saja sisi menarik bagi awak media untuk mengangkatmu menjadi berita, baik berita positif maupun negatif. Bandungan itu kawasan hidup, baik siang, petang, malam, pagi dan kapanpun akan selalu menyimpan cerita.

Pada suatu malam di bulan Januari 2014, saat aku menggelar patroli bersama anggota polsek sekitar pukul 19.00 atau selesai shalat Isya, suasana jalanan cukup ramai. Kebanyakan kendaraan mobil dan motor (melaju) dari arah bawah, arah Semarang yang akan naik ke Bandungan.

Pegawai karaoke yang ditugaskan sebagai tukang parkir sibuk memikat pengunjung yang akan mencari hiburan, agar mau mampir. Pakaiannya rapi, ada yang berdasi, ada yang pakai seragam khas, ada yang pakai tutup kepala lucu.

Suara dentuman musik juga kadang terdengar, meski rata-rata dinding ruang karaoke telah menggunakan peredam suara. Di satu sisi pinggir jalan Kendalisodo, dekat karaoke JM, terdapat salah satu rumah warga yang ramai dengan anak-anak seusai sekolah dasar yang sedang belajar mengaji, belajar membaca Alquran.

Anak laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian muslim seakan tidak peduli dengan situasi semarak di sekitarnya. Mereka tekun melaksanakan kegiatan rutin keagamaan, seakan mereka acuh terhadap kehadiran orang-orang yang menghibur diri di sekitar tempat itu.

Aku teringat kampung halaman di Jombang, Jawa Timur. Dulu sewaktu kecil aku juga sering ikut pengajian di Langgar (musala). Suasananya sepi, bahkan belum ada listrik. Tidak ada pilihan lain bagi anak-anak waktu itu selain mengaji atau belajar membaca Alquran. Tapi yang pasti dengan suasana yang jauh jauh berbeda dengan di sini. Sungguh kuat iman mereka tetap mengaji meski godaan terpapar di dekat mereka.