EQUITYWORLD FUTURES – Karto (50), salah satu tukang ojek dari pangkalan yang biasa mangkal di seputaran Stasiun Bandung, Jalan Stasiun Barat, Kota Bandung, mengaku kesal dengan Go-jek yang sudah hadir di Kota Bandung.

Karto kesal karena penumpang yang turun dari Stasiun Bandung biasanya meminta diantar atau dijemput oleh ojek dari pangkalan di sekitar stasiun. Namun, penumpang berpindah setelah hadirnya Go-jek.

“Bayangkan aja, kita udah nungguin lama, apalagi sedang sepi, tiba-tiba ada penumpang datang (keluar dari stasiun). Eh, tak tahunya pas ditawarin enggak mau,” keluh Karto saat ditemui di pangkalan ojek Stasiun Bandung, Jalan Stasiun Barat, Bandung, Jawa Barat, Kamis, (25/6/2015).

Biasanya, kata dia, ojek dan taksi selalu laris manis ketika para penumpang itu turun dari kereta. Namun, para penumpang yang baru turun dari kereta itu rata-rata kini berdiri dan sibuk dengan gadgetnya.

“Kok malah main hapenya, saya heran awalnya,” katanya.

Awalnya, dia berpikir, para penumpang itu sedang menunggu jemputan keluarganya. Namun, akhirnya Go-jek yang datang.

“Ya, itu kan ada kecemburuan dengan ojek-ojek yang mangkal di sini. Kita udah lama nunggu, tapi, yang ngambil orang lain (Go-jek), jadinya kesel,” keluhnya.

Karto menyebutkan, ada banyak ojek yang mangkal di kawasan Stasiun Barat, Stasiun Bandung. Ojek-ojek tersebut mempunyai kartu resmi.

“Ya, ojek-ojek di sini pada punya kartu,” kata dia.

Selain itu, sistem penarikannya pun bergantian. Mereka mengantre berbaris menunggu giliran menarik penumpang.

“Jadi, kita ini sistemnya ngantre. Kalau sudah narik ya sudah dulu, jangan narik penumpang dulu, kasih kesempatan kepada yang belum kebagian narik,” kata dia.

Disinggung soal adanya ancaman, pengusiran, bahkan sampai adu jotos, Karto mengaku dia dan tukang ojek setempat lainnya tidak pernah melakukan hal itu.

“Ya, enggaklah, enggak sampai kayak gitu. Kita masih punya pikiran dan hati,” pungkasnya.