EQUITYWORLD FUTURES – Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup di Pegunungan Kendeng Rembang, Jawa Tengah, menguatkan perlunya melindungi ekosistem karst di sana. Temuan biota, mata air, ponor, dan fenomena lain itu berhadapan dengan penambangan gamping.

Survei yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup menemukan, dampak penambangan saat ini, misalnya oleh PT SAF, mengurangi dan bahkan menghilangkan fungsi daerah imbuhan aliran air tanah serta sedimentasi. Rekomendasi laporan, perlu pengawasan dan pemantauan di kawasan tambang.

Menurut Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Antung Deddy Radiansyah, di Jakarta, Selasa (21/10/2014), survei bersama LIPI itu untuk memperoleh data dan informasi guna menentukan status fungsi ekosistem karst Rembang. Simpulannya, ekosistem karst Pegunungan Kendeng Utara Rembang, yang juga daerah imbuhan bagi Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, punya fungsi lingkungan tinggi sehingga pemanfaatannya harus hati-hati.

”Dari aspek biologi, bisa disimpulkan kawasan ini memiliki indikasi fungsi lindung ekosistem karst,” kata Sigit Wiantoro dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Temuan itu menguatkan pernyataan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono bahwa kawasan karst yang membentang di Rembang dan Blora itu sudah ditetapkan sebagai CAT Watuputih berdasar Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang CAT Indonesia. Sebagian besar kawasan itu adalah daerah imbuhan atau perlindungan air tanah yang, berdasar Peraturan Pemerintah No 43/2008 tentang Air Tanah, harus dijaga dengan mempertahankan dan melarang pengeboran, penggalian, atau kegiatan lain pada radius 200 meter dari lokasi kemunculan mata air.

Kekayaan hayati

Pada laporan surveinya, Sigit menemukan beberapa goa dengan aliran air bawah tanah dan dihuni berbagai fauna, terutama kelelawar. Goa itu di antaranya Goa Temu, Joglo, dan Jagung. Kelelawar di Goa Temu anggota subordo Microchiroptera atau pemakan serangga, jenis Miniopterus sp. Jumlah populasinya diperkirakan ribuan individu.

Sementara di Goa Joglo dan Jagung ditemukan tiga jenis kelelawar pemakan serangga, yaitu Miniopterus australis (sekitar 240 individu), Rhinolophus pusillus (sekitar 400 individu), dan Hipposideros larvatus (sekitar 90 individu). Selain itu, ditemukan kalacemeti (Stygophrynus sp), yang diduga spesies baru endemik Kendeng dan Tuban. Itu data baru kalacemeti Jawa.

Keberadaan kelelawar di goa punya fungsi ekologi sangat penting, terutama mengendalikan populasi serangga dan penyebar biji. Hilangnya kelelawar pemakan serangga berakibat ledakan populasi hama yang mengancam ketahanan pangan, terutama pertanian dan perkebunan.

Berdasar survei KLH, ditemukan 109 mata air di ekosistem karst di Watuputih. Tiga di antaranya mengalir sepanjang tahun, yaitu mata air Brubulan di Desa Tahunan, mata air Sumber Semen, dan Brubulan Pasucen.

Selain itu juga ditemukan beberapa lubang masuknya air (ponor), di antaranya di daerah Timbrangan, Pasowan, dan Minong. ”Keberadaan mata air dan ponor menjadi salah satu dasar penentuan fungsi ekosistem karst di Rembang. Keberadaan mata air itu sangat vital menopang kehidupan masyarakat,” kata Sigit.

Menurut dia, kawasan karst di Rembang perlu perhatian khusus. Apalagi, belum ada data dan informasi semua aspek kawasan secara lengkap. Di sisi lain, pemanfaatan kawasan mulai dilakukan dan menimbulkan konflik sosial.