EQUITYWORLD FUTURES – Kondisi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat semakin memprihatinkan. Selain diterpa masalah konflik keraton yang berkepanjangan, ditambah kasus asusila Raja Surakarta Pakubuwono XIII Hangabehi, kini keraton kian tercoreng lantaran kepercayaan masyarakat surut.

Terbukti, beberapa waktu lalu Kiai Bagong, salah satu kerbau pusaka milik keraton keturunan Kiai Slamet, Selasa (4/11) malam tewas. Kerbau yang sering dikeramatkan itu tak kuasa menahan sakit setelah ditusuk benda tajam di bagian perut dan kaki oleh orang tak dikenal beberapa waktu lalu.

Menurut Pemerhati Budaya Solo Tunjung W Sutirto, Keraton Solo sekarang memang sedang mengalami krisis kewibawaan. Penyebabnya karena tidak ada dukungan dari para pemilik kebudayaan, yakni pihak keraton sendiri dan masyarakat Kota Solo.

“Sebuah kebudayaan akan lestari bila didukung pemilik kebudayaan, sistem internal keraton dan masyarakat. Kalau masyarakat tidak mendukung sistem keraton, ya pasti akan mati sendiri,” ujarnya kepada merdeka.com.

Lalu bagaimana sih kondisi Keraton Surakarta, apakah martabatnya benar-benar luntur? Berikut ini ringkasan ceritanya seperti dirangkum merdeka.com:

1. Konflik panjang rebutan tahta keraton

 

Berita paling panas adalah soal konflik keraton. Muasalnya rebutan tahta pewaris keraton. Raja hendak menobatkan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan sebagai Maha Menteri di Sasono Narendro, yang juga menjadi kediaman raja di dalam kompleks Keraton. Namun Lembaga Adat menolak pelantikan dan membubarkan secara paksa acara ini.

Dewan Adat yang menolak figur Tedjowulan juga dipimpin oleh anggota keturunan keraton, GRAy Koes Murtiyah. Saat acara pelantikan itu dibubarkan secara paksa, raja dan permaisurinya masih berada di dalam keraton itu.

Konflik ini ternyata berjalan panjang. Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo turun tangan untuk mendamaikan kondisi, tapi belum reda. Bahkan ketika Presiden SBY turun tangan, konflik juga belum padam.

Akhirnya pemerintah menginstruksikan agar masalah keraton dikembalikan kepada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, untuk segera mengambil tindakan dan langkah politik, hukum, sosial budaya dan agama.

Artinya, sesuai undang-undang pemerintah menginstruksikan membubarkan atau tidak memberikan izin perpanjangan organisasi masyarakat yang selama ini menyebabkan konflik yakni Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat dan mengembalikan otoritas Sri Susuhunan Pakubuwono XIII.

2. Asusila Raja Surakarta rusak martabat keraton

 

Belum reda konflik antar-pewaris tahta, kini martabat Keraton Surakarta kian terpuruk. Penyebabnya adalah raja Pakubuwono XIII sendiri. Dia terlibat kasus asusila terhadap AT (14), siswi SMK di Solo. Apa yang dilakukan PB XIII tersebut menunjukkan contoh yang buruk bagi masyarakat.

Dihubungi wartawan, sejarawan asal Kota Solo, Hery Priyatmoko, mengatakan tindakan itu sangat jauh dari nilai-nilai moral. Menurut dia, sebagai raja, Hangabehi harus menunjukkan tindakan terpuji yang dapat dicontoh oleh masyarakat di luar lingkungan keraton.

“Tindakan asusila seperti itu seharusnya tidak terjadi, apalagi sampai terdengar di luar Keraton. Kalau ingin melakukan hubungan intim seharusnya di dalam kompleks keraton, bukan malah di luar apalagi dengan wanita yang tidak jelas,” tegasnya.

Dalam, perspektif keraton, lanjut Hery, sebenarnya raja memiliki hak untuk berhubungan intim dengan wanita selain istrinya. Asalkan para wanita itu diangkat sebagai istri selir, dan dibiayai kehidupannya layaknya selir-selir lain.

Namun apa yang dilakukan PB XIII itu jauh dari konsep selir. Pasalnya hubungan intim yang dilakukan oleh sang raja tersebut tidak didasari rasa suka sama suka. Bahkan diketahui sang raja itu membayar kepada sang gadis atas apa yang telah diperbuatnya tersebut.

“Kalau hubungan seperti itu sama saja seperti warga lain yang jajan sembarangan pada orang-orang nakal pada umumnya, apalagi ini sampai hamil dan raja tidak mau bertanggung jawab,” ujarnya.

3. Kebo bule dibunuh warga

 

Ketika kasus asusila Raja Surakarta sedang bergulir ke kepolisian, kemarin ada berita mengejutkan. Kiai Bagong, salah satu kerbau pusaka milik keraton yang masih keturunan Kiai Slamet, Selasa (4/11) malam tewas.

Kerbau yang sering dikeramatkan itu tak kuasa menahan sakit setelah ditusuk benda tajam di bagian perut dan kaki oleh orang tak dikenal beberapa waktu lalu.

Salah satu kerabat keraton, KRMH Satriyo Hadinagoro membenarkan matinya kerbau berwarna bule tersebut. Menurut Satriyo pihaknya akan menguburkan kerbau kesayangan raja tersebut malam ini juga di Alun-alun Selatan Keraton, tak jauh dari kandangnya.

“Benar mas, kerbau yang ditombak itu meninggal di Kandang Grogol, Sukoharjo tadi jam tujuh malam, ini kita bawa ke alun-alun, langsung kita kuburkan,” ujar Satriyo saat dihubungi merdeka.com.

Dihubungi terpisah, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusumo mengatakan, sebelum dikuburkan kerbau bule tersebut telah disucikan dan dibalut kain kafan. Setelah itu akan didoakan oleh para ulama keraton.

“Semua sudah siap, warga juga banyak yang membantu. Menggali kubur, menyiapkan bunga dan lain-lain,” katanya.

Terkait penyebab matinya kerbau, Winarno membenarkan jika kerbau tersebut pernah dianiaya seseorang tak dikenal. Menurut dia kerbau jantan berusia sekitar 60 tahun itu mengalami luka-luka di daerah perut dan kakinya akibat terkena benda tajam semacam tombak, saat berada di daerah Grogol, Sukoharjo.

4. Masyarakat sudah tak bangga dengan Keraton dan Raja Surakarta

 

Pemerhati Budaya Solo Tunjung W Sutirto, mengatakan Raja Surakarta dulu merupakan kebanggaan rakyat, kiblat dan rujukan bagi para pendukungnya. Setiap ada masalah, rakyat akan datang ke raja untuk mengadu.

“Tapi kalau masyarakat sudah tidak bangga, seperti apapun upaya melestarikan, berapapun dana dikucurkan, lama-lama mati sendiri. Karena rakyatnya sudah tidak bangga kok,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi keraton sekarang ini sedang mengalami krisis kewibawaan. Penyebabnya karena sistem di internal keraton sudah tidak mendukung. Begitu juga dengan rakyat, sudah tidak bangga dan tidak mendukung sistem keraton itu.

Dulu, dia melanjutkan, raja itu sangat dihormati. Sebagai pemangku kebudayaan keraton dan pemimpin masyarakat dia seharusnya berdiri di atas semua golongan. Dia menjadi rujukan rakyat. Tapi sekarang nilai itu tidak diperoleh rakyat.

“Dulu setiap kerbau bule itu mati, orang-orang Solo sudah ramai. Jadi bahasan hangat seluruh rakyat, mengait-ngaitkan dengan gejala yang akan terjadi. Sekarang tidak, malah masyarakat sendiri ada yang menyengaja menusuk kerbau, itu artinya keraton memang sudah mengalami krisis kewibawaan,” tuturnya.