Serangan malware dan virus elektronik yang menyasar sisi perbankan memang kerap terjadi khususnya di negara-negara Eropa sana, namun bukan berarti di Indonesia aman dari serangan tersebut.

Menurut pengamatan dari perusahaan software antivirus Trend Micro, untuk wilayah Indonesia, serangan malware dengan menyasar sisi perbankan naik 224 persen dibandingkan kuartal pertama tahun 2014 ini.

Dikutip dari Antara (25/08), salah contoh serangan malware adalah seperti yang pernah ditweetkan oleh penjahat online dengan menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan momen ketika pesawat Malaysia Airlines, MH17 kecelakaan.

Para cybercriminal membuat satu tweet di Twitter dengan link palsu yang apabila diklik maka korban akan terperangkap ke laman atau domain-domain berbahaya yang mengandung malware.

“Perusahaan harus menempatkan keamanan informasi perusahaan di posisi yang sangat penting dalam kerangka strategi bisnis jangka panjang, bukan lagi hanya sekadar menjadikannya sebagai isu keamanan yang harus ditanggulangi,” kata Rik Ferguson, Global VP of Security Research di Trend Micro.

Setelah berhasil menjebak korban, maka para penjahat online akan mencuri semua data pribadi termasuk data-data yang berhubungan dengan rekening bank korbannya tersebut, kemudian mengurasnya.