EQUITYWORLD FUTURES – Kelakuan pejabat daerah yang satu ini benar-benar memalukan. Seakan tak ingat dirinya seorang kepala daerah, Gubernur Riau non-aktif Annas Maamun, berprilaku mencoreng.

Dia diduga terlibat korupsi. Tak hanya itu, dia pun terlibat kasus asusila.

Tapi, untuk dua kasus ini mulanya dia membantah. Seperti bangkai yang baunya lama kelamaan akan tercium, akhirnya satu per satu bukti mengenai keterlibatannya terkuak.

Bikin geleng-geleng kepala lagi, ternyata Annas coba menyogok salah satu stasiun televisi swasta untuk meredam kasus pelecehan yang dia lakukan pada serang pegawainya di lingkungan Pemprov Riau. Kasus pelecehan ini mencuat di September lalu.

Berikut cerita kelakuan nakal politikus Golkar meski sebelumnya mengelak melakukan pelecehan:

1. Annas lecehkan putri tokoh Riau di rumah pribadinya

Wide Wirawaty (38), putri dari tokoh pendidikan Riau mengaku dicabuli gubernur berusia 74 tahun ini di rumah pribadinya, pada 30 Mei. Perbuatan Annas sudah dia laporkan ke Mabes Polri.

Soemardi, ayahanda korban menjelaskan, peristiwa itu bermula saat putrinya memiliki kegiatan di Pemprov Riau. Antara lain sebagai tutor kepala pada pelatihan bahasa inggris untuk eselon II dan III di bawah lembaga pendidikan ‘Wide School’ yang dimiliki putrinya.

Setelah beberapa bulan Annas Maamun menjabat gubernur, Wide menghadap ke Annas untuk membawa proposal kegiatan pelatihan dan seminar. Menurut dia, respons Annas sangat positif untuk mendukung kegiatan itu, bahkan menjanjikan akan mengangkat Wide sebagai staf khusus gubernur.

Wide menghadap gubernur menjelang salat Jumat untuk mengurus kepastian administrasi seminar yang disetujui oleh gubernur. Namun karena waktu yang mepet, urusan tersebut tidak selesai dan Annas meminta korban datang ke rumah pribadinya di Jalan Belimbing, Pekanbaru.

Korban mengaku tidak ada perasaan lain sedikit pun karena merasa Annas adalah seorang gubernur yang memegang amanah. Saat tiba di rumah tersebut, korban diterima oleh seorang laki-laki yang merupakan pembantu rumah tangga Annas Maamun.

Annas dan Wide berbicara di ruang tamu untuk memperlihatkan surat-surat yang belum sempat diteken gubernur pada pertemuan sebelumnya. Ketika korban mengambil pena untuk meneken dokumen itu ke mobilnya, sekembalinya ke dalam rumah pembantu Annas mengarahkannya untuk naik ke lantai atas.

Dalam pertemuan itu, Annas mengeluarkan uang Rp 10 juta dari kaus kakinya yang katanya untuk keperluan acara yang sedang digagas Wide. Saat korban hendak pamit, Annas mendekatinya sembari mengatakan ada rumah kosong di belakang rumahnya.

Korban yang penasaran dengan maksud sang gubernur kemudian diajak oleh Annas ke sebuah kamar yang berada di atas tangga sebelah kiri ruangan. Korban mengaku tidak ada perasaan apa pun karena mengira Annas akan menjelaskan masalah kamar kosong itu.

Namun, setelah keduanya di dalam kamar, Annas langsung membuka resleting celananya. Korban mengaku terkejut namun tangan kanannya langsung ditarik oleh Annas dengan paksa dan diarahkan untuk memegang bagian terlarang tubuh gubernur.

Karena korban merasa tidak nyaman dan takut akan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak senonoh, Wide mengalihkan Annas dengan mengatakan ada orang yang naik ke lantai atas.

Ketika Annas ke luar kamar untuk memeriksanya, korban langsung mencuci tangganya di wastafel di wc kamar tersebut dan langsung ke luar kamar dan masih sempat berpapasan dengan Annas.

Annas kemudian meninggalkan Wide dengan muka masam dan hanya menjawab dengan ketus ketika Wide mohon pamit.

2. Eks istri ketua DPRD juga mengaku dilecehkan Annas

Bukan cuma WW, bekas istri ketua DPRD Kota Dumai, Dwi Siswati mengaku juga menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan Annas. Peristiwa itu terjadi 4 April silam juga di kediaman pribadi Annas.

Dwi saat itu mengaku bertemu Annas untuk mengadukan masalah dengan suaminya yang nyaris bercerai. Suami Dwi satu partai dengan Annas.

Bukannya mendengar curhatan Dwi, Annas malah melakukan pelecehan. Dwi pun sempat membuat testimoni.

Tapi akhirnya kasus ini diselesaikan dengan kekeluargaan.

3. Bantah lecehkan, Annas sumpah pakai Alquran

Annas tak terima dibilang melecehkan. Dia membantah keras hal itu. Dia pun siap sumpah di depan Alquran.

“Ketika saya tanyakan kebenaran kasus itu, gubernur menyebutkan tidak melakukannya. Itu Fitnah,” kata Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Joserizal Zen.

Annas juga berani sumpah Alquran di depan istrinya Latifa Hanum atas tuduhan yang dialamatkan WW padanya.

“Gubernur mengatakan ia sampai harus bersumpah pakai Alquran di depan istrinya,” jelasnya

4. Annas polisikan WW

Annas membantah dirinya melakukan pelecehan. Dia malah mempolisikan WW.

“Kita mau laporkan balik pencemaran nama baik,” jelas kuasa hukum pribadi Annas, Evanora.

Ada lima dugaan tidak pidana yang dilayangkan kepada WW. “Kami telah sampaikan ke Mabes Polri ini jelas masuk dalam pencemaran nama baik, fitnah, keterangan palsu, penyebaran berita bohong dan tuduhan pemerasan. Lima hal itu yang kita sampaikan,” jelasnya.

5. Annas suap Metro TV Rp 200 juta redam berita pelecehan

Pemimpin Redaksi sekaligus pimpinan perusahaan Koran Riau, Edi Ahmad RM, mengakui menyetor uang Rp 200 juta buat meredam pemberitaan soal laporan kasus pelecehan terhadap perempuan berinisial WW. Dia mengaku tidak berinisiatif melainkan menjalankan perintah Annas.

“Pak Annas yang telepon. ‘Ed tolong bantu supaya pemberitaan isu itu jangan ditayangkan.’ Aku mana ada duit. Dari Bang Gulat,” kata Edi.

Edi mengatakan, duit itu dia kirim kepada anak buahnya bernama Azril. Dari dia fulus lantas ditransfer kepada mantan wartawan bernama Kahfi Siregar, buat dibagi-bagikan kepada para awak media.

“Dari Gulat Rp 200 juta kumintakan tolong ke Kahfi di Jakarta. Kusebar-sebarkan. Untuk Kahfi dipecah-pecah. Jadi tidak Rp 200 juta,” ujar Edi.

Edi berusaha meralat pernyataannya di dalam persidangan. Saat bersaksi, dia mengaku duit itu buat meredam pemberitaan di stasiun televisi swasta Metro TV. Tetapi selepas sidang, dia mengatakan duit itu buat membungkam awak media di beberapa kantor berita nasional maupun lokal.

“Sebetulnya bukan hanya Metro TV, tapi termasuk media lokal dan media nasional di Jakarta,” lanjut Edi.