EQUITYWORLD FUTURES – Empat kelompok teroris di Filipina selatan telah bergabung untuk membentuk cabang Negara Islam atau ISIS. Demikian menurut video yang di-posting di sebuah situs kaum militan.

Video tersebut menunjukkan kaum militan membawa bendera ISIS dan sejumlah komandan bersenjata berat dari kelompok-kelompok yang telah menyatakan kesetiaan mereka kepada ISIS pemimpin Abu Bakr al-Baghdadi.

Kelompok-kelompok itu, di masa lalu, secara terpisah mengaku mendukung ISIS. Namun video itu menunjukkan, mereka mungkin telah sepakat untuk mengkonsolidasikan kekuatan mereka, bahkan menciptakan ancaman yang lebih kuat di wilayah kepulauan yang tak tersentuh aturan hukum yang berbatasan dengan Malaysia.

Kelompok-kelompok itu, termasuk kelompok Abu Sayyaf yang brutal, sudah bertahun-tahun membenarkan penggunaan kekerasan, tetapi para analis mengatakan mereka mengusung ideologi tertentu hanya untuk menutupi tindak pidana, termasuk penculikan demi mendapatkan uang tebusan.

Sepuluh anggota salah satu kelompok itu yang disebut Ansar al-Khilafah di Filipina dibunuh tentara dan polisi Filipina dalam sebuah operasi di pulau Mindanao pada 26 November.

Video yang di-posting pada 4 Januari 2016 menampilkan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang sedang berbaris dengan para pemimpin kelompok ekstremis lain yang beroperasi dari sejumlah pangkalan di kepulauan Sulu dan Basilan. Video tersebut kemudian telah dihapus.

Amerika Serikat (AS) telah menawarkan hadiah 5 juta juta dollar AS untuk penangkapan Hapilon, yang telah mendalangi banyak serangan, pemenggalan dan penculikan di seluruh wilayah itu selama beberapa dekade terakhir. Dia diyakini telah terluka dalam baku tembak dengan tentara Filipina pada Oktober.

Hapilon pertama kali menyatakan kesetiaan kepada ISIS dalam sebuah video yang di-posting di YouTube pada Juli 2014.

Kelompok-kelompok di Filipina selatan telah mem-posting beberapa video propaganda sejak November, termasuk salah satu video ancaman serangan pada pertemuan para pemimpin Asia Pacific Economic Co-operation (APEC) di Manila. Namun ancaman itu ternyata tidak terwujud.

Sebuah video yang dirilis pada Desember konon menunjukkan sejumlah petempur di kamp pelatihan rahasia yang diklaim sebagai “tentara Khilafah di Filipina”.

Sejumlah foto yang diterbitkan The Long War Journal menunjukkan kaum militan sedang menjalani pelatihan penggunaan senjata dengan apa senjata-senjata yang tampak merupakan senapan serbu buatan AS.

Keberadaan sebuah kamp pelatihan ISIS di Asia Tenggara belum terverifikasi.

Rohan Gunaratna, pakar terorisme dari International Centre for Political Violence and Terrorism Research di Singapura, mengatakan kepada situs berita Rappler online bahwa sebuah penggabungan kelompok teror di Filipina selatan akan menyajikan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pemerintah di Manila.

“Dengan proklamasi cabang ISIS di Filipina selatan, pengaruh ISIS tampaknya akan berkembang, mempengaruhi Filipina selatan dan Malaysia timur,” kata Gunaratna. “Negara Islam kemungkinan akan menciptakan sebuah tempat aman di Basilan dan sejumlah operasi dari kepulauan Sulu ke Filipina dan Malaysia.”