EQUITYWORLD FUTURES – Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI mencapai 4,73 persen pada kuartal III 2015. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi kawasan Kalimantan malah jauh di bawah besaran pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan berada pada kisaran minus. Mengapa demikian?

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kawasan Kalimantan pada kuartal III 2015 mencapai -0,1 persen, lebih rendah ketimbang -1,39 persen pada kuartal II 2015.

“Kalimantan sebenarnya di beberapa tahun terakhir sangat tergantung pada komoditas batu bara dan minyak. Dua-duanya itu harga dan permintaannya turun,” ujar Juda di Kantor Perwakilan (KPw) BI Yogyakarta, Kamis (12/11/2015) malam.

Juda menjelaskan, akibat penurunan harga dan permintaan kedua komoditas tersebut, maka tidak mengherankan apabila pertumbuhan ekonomi Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, begitu anjlok.

Porsi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur, kata Juda, merupakan porsi mayoritas pendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan. Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan masih tumbuh mencapai 3,9 persen.

Sementara itu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencapai 4,2 dan 6,7 persen.

Namun, porsi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur begitu besar, sehingga ketika pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut anjlik, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan ke bawah.

Juda mengungkapkan bahwa ke depan bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kalimantan akan tumbuh positif. Hal ini akan terjadi apabila dari sisi global akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. Sehingga, permintaan komoditas diharapkan akan membaik.

“Harganya (komoditas) diperkirakan tidak turun drastis seperti tahun ini. Tahun ini turun 15 persen, tapi tahun depan diharapkan (penurunannya) sekitar 6 sampai 7 persen, walaupun trennya turun tapi penurunannya tidak rendah,” terang Juda.