EQUITYWORLD FUTURES – Proses pencarian bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di kawasan Selat Karimata hingga saat ini terus berjalan. Sejak hari pertama pesawat dinyatakan hilang kontak pada Minggu (28/12), Basarnas berupaya untuk melakukan pencarian dan evakuasi baik terhadap korban maupun pada tubuh pesawat.

Proses pencarian tersebut kini telah memasuki hari ke-16, Senin (12/1). Sepanjang waktu itu, Basarnas dibantu tim gabungan baik dari unsur TNI, Polri, dan asing telah berhasil menemukan 48 jiwa dari 162 korban yang meninggal dalam insiden tersebut. Tak hanya itu, proses pencarian pun membuahkan hasil yaitu mulai ditemukannya serpihan pesawat satu demi satu.

Sebagian besar tubuh pesawat sudah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. Tidak hanya itu, black box juga dikabarkan sudah ditemukan.

Koordinator Tim Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Tonny Budiono, menjelaskan black box ditemukan tim penyelam TNI AL di KN Jadayat pada posisi 03.37.21 S / 109.42.42 E dengan kedalaman sekitar 30 sampai dengan 32 meter. Namun, anehnya Badan SAR Nasional belum merilis informasi serupa.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Muda Bambang Sulistyo menyatakan, pihaknya akan merilis informasi penemuan black box jika sudah ada buktinya.

“Saya tidak ingin kalian (wartawan) dapat info simpang siur kalau itu benar sebelum saya dapatkan bukti dan lapor pada kita,” kata Bambang di Kantor Pusat Basarnas, Jakarta, kemarin.

Meski menurut Tim Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, black box sudah ditemukan. Alat perekam semua komunikasi penerbangan itu baru akan diangkat pagi ini, karena cuaca buruk yang menjadi kendala kemarin.

Berikut, kendala-kendala tim sampai akhirnya menemukan black box tersebut:

1. Black box tidak ada di ekor pesawat

Proses pencarian pesawat AirAsia melibatkan banyak tim juga alat yang cukup canggih. Hal itu berbuah hasil ditemukannya ekor pesawat pada Jumat (9/1).

Awalnya, Basarnas berpatokan pada skenario black box ada di bagian ekor. Tetapi, setelah ekor pesawat berhasil dikonfirmasi, tim penyelam menyatakan tidak menemukan black box.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi. Menurut dia, tim penyelam hanya menemukan ekor AirAsia QZ8501.

“Black box belum ada kabar terbaru. Tim penyelam masih mencari, tidak ada di ekor,” ujar Supriyadi di Lanud Iskandar, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Sabtu (10/1).

2. Tiga kapal tangkap sinyal ‘ping’

Bersamaan dengan penemuan ekor pesawat, tiga kapal yang ikut dkerahkan melakukan pencarian yaitu Baruna Jaya, Java Imperior, dan Geosurvey menangkap sinyal ‘ping’ di sekitar lokasi. Hal itu langsung dilaporkan dan Basarnas segera memerintahkan penyelam untuk melakukan penyelaman.

Sayangnya penyelaman tersebut ternyata tidak membuahkan hasil. Setelah mendapat konfirmasi dari penyelam, objek yang ditangkap oleh ketiga kapal tersebut merupakan karang.

Tim penyelam dikerahkan begitu Basarnas mendapat informasi penangkapan sinyal tersebut. Tetapi, setelah melakukan penyelaman selama 12 jam keberadaan black box masih belum ditemukan.

“Jam 12.00 masih menyelam tapi tidak ada hasil. Alat dapat menerima sinyal ping, tapi penyelam nggak dapat (black box),” kata Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi di Lanud Iskandar, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Minggu (11/1).

Supriyadi menjelaskan, penyebab belum ditemukannya black box masih dikarenakan gelombang laut yang tinggi dan arus yang mencapai 5-8 knot.

“Jarak pandang hanya satu meter. Meraba-raba nggak ketemu yang kita pikir selama ini ping berjarak satu kilometer. Pukul 13.00 WIB berhenti menyelam setelah menyelam sejak pukul 01.00 WIB,” katanya.

3. Kapal Baruna Jaya dapatkan koordinat lokasi sinyal

Kapal Baruna Jaya berhasil menangkap sinyal diduga berasal dari black box pesawat AirAsia QZ8501. Asal sinyal tersebut berada di kawasan Selat Karimata.

“Lokasi penemuan sinyal ini masih berada di Selat Karimata sekitar Pangkalanbun, tidak jauh dari penemuan ekor pesawat,” ujar Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo saat dihubungi di Jakarta, Minggu (11/1).

Secara lebih rinci, Indroyono menerangkan, sinyal itu ditangkap Kapal Barunya Jaya J1BPPT pada koordinat 3 37′ 20.7″ Lintas Selatan dan 109 42′ 43″ Bujur Timur.

“Sinyal ditemukan pukul 22.25 WIB,” terangnya.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) fokus mencari dua buah black box pesawat Air Asia QZ 8501. Setelah dua kali gagal, kali ini tim pencari kembali menangkap sinyal Ping lainnya. Sinyal ini diduga dipancarkan dua buah black box AirAsia.

“Gelombang ini mempunyai besar 37,5 Khertz ditangkap alat Pinger locator kita bisa melacak lokasinya. Ada dua hasil yang didapat oleh Baruna Jaya 1 BPPT dan Java Imperia. Bedanya lokasi Pingker 20 meter yang kita konfirmasi dari penyelam,” ungkap ahli Geodetik BPPT Imam Mudita di kantornya, Jakarta, Minggu (11/1).

Setelah dilakukan verifikasi beberapa kali dan diindikasikan positif, BPPT lantas melaporkannya kepada Basarnas dan KNKT. Kemudian ditindaklanjuti dengan penyelaman sekitar pukul 10.00 WIB tadi. Penyelaman pun dilakukan pada titik 3 derajat, 37 menit 20,7 detik, Lintang Selatan Logder 42 menit 43 detik Bujur Timur.

“Sudah dilakukan pengecekan langsung ke bawah sana diindikasikan di kedalaman 30 meter. Insya Allah itu adalah lokasi black box, ketika digunakan sonar memberikan data ada gundukan di bawah mudah-mudahan badan pesawat dan black box. Angkatan laut memastikan pinger itu dan KNKT mengambil kita hanya memberikan informasi,” Kepala Seksi Program dan Sarana BPPT Muhammad Ilyas.

4. Hari ke-15, black box AirAsia QZ8501 akhirnya ditemukan

Merdeka.com – Di pencarian hari ke-15, Tim SAR berhasil menemukan kotak hitam atau black box milik AirAsia QZ8501. Adalah Tim Penyelam TNI AL di KN Jadayat yang sukses menemukan alat perekam semua komunikasi pesawat nahas yang jatuh di Perairan Karimata tersebut.

Koordinator Tim Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Tonny Budiono, menjelaskan black box ditemukan pada posisi 03.37.21 S / 109.42.42 E dengan kedalaman sekitar 30 sampai dengan 32 meter.

“Black box berada pada himpitan serpihan badan pesawat, keadaan ini sangat menyulitkan tim penyelam dalam proses pengambilannya,” kata Tonny lewat siaran pers, Minggu (11/1).

Namun, kata Tonny, karena keterbatasan waktu, maka diputuskan proses pengambilan black box akan dilaksanakan besok pagi hari dengan menggeser perlahan-lahan serpihan badan pesawat tersebut.

“Namun apabila rencana penggeseran ini mengalami kegagalan maka tim akan melaksanakan dengan cara mengangkat serpihan badan pesawat tersebut dengan menggunakan teknik balon seperti yang dilakukan pada ekor pesawat,” jelas dia.

Untuk memudahkan pekerjaan besok pagi, kata Tonny, maka tim penyelam TNI AL telah memasang penanda pelampung kecil yang sebelumnya telah disiapkan di KN Jadayat.

5.Belum ada bukti, Basarnas enggan rilis penemuan black box QZ8501

Koordinator Tim Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Tonny Budiono, mengumumkan bahwa black box AirAsia QZ8501 sudah ditemukan oleh Tim Penyelam TNI AL di KN Jadayat dalam pencarian hari ke-15, Minggu (11/1). Namun, anehnya Badan SAR Nasional belum merilis informasi serupa.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Muda Bambang Sulistyo menyatakan, pihaknya akan merilis informasi penemuan black box jika sudah ada buktinya.

“Saya tidak ingin kalian (wartawan) dapat info simpang siur kalau itu benar sebelum saya dapatkan bukti dan lapor pada kita,” kata Bambang di Kantor Pusat Basarnas, Jakarta, Minggu (11/1).

“Saya tidak akan menyampaikan, yang pasti sampai saat ini saya belum mendapatkan laporan dan bukti bahwa black box itu ada, yang ada hanya ping, sinyal yang diduga dari black box,” imbuhnya.