EQUITYWORLD FUTURES – Yusril Ihza Mahendra percaya diri dalam Pilkada DKI 2017. Meski sikap partai politik belum jelas, ia lebih dulu mengumumkan ada 20 kursi dari berbagai partai yang mengusungnya untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta.

Jumlah tersebut hanya kurang dua kursi dari minimal syarat di Pilkada DKI. Dukungan partai politik tersebut didapat setelah ia melakukan safari politik ke beberapa petinggi partai dan tokoh nasional. Namun Yusril enggan membeberkan siapa saja partai politik yang mengusungnya.

Ia beralasan tak mau mendahulukan kewenangan partai. Berbekal pengalaman sebagai mantan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia di Kabinet Gotong Royong pada tahun 1999, Yusril yakin dirinya perlu diperhitungkan.

“Saya pikir ini penting posisi sekarang ini. Sudah terbentuk opini dan polling kalau nanti head to head antara saya (Yusril) dan petahana (Basuki Tjahaja Purnama),” kata Yusril kepada Kompas.com, Jakarta, Rabu (16/3/2016).

Yusril mengungkapkan, cukup sulit untuk calon ketiga di luar dirinya dan Ahok maju dalam pilkada. Bahkan, jika calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekali pun disebut cukup sulit untuk melawan Yusril dan Ahok.

“Andai kata, kalau sekarang ini PDIP mau munculkan pasangan, siapa? Karena persoalannya harus bisa mengalahkan pasangan Ahok dan saya. Kalau tidak bisa mengalahkan keduanya ini buat apa maju ke pencalonan,” kata Yusril.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu mengungkapkan agar PDI-P untuk masuk dalam koalisinya. Ia terbuka lebar jika PDIP mau menyodorkan nama calon wakil gubernur.

“Kalau saya terbuka. Kalau sekiranya PDIP mau ajukan wakil, saya syukur alhamdulillah. Siapa pun yang diajukan oleh PDIP, bisa kita terima dan sepakati. Prinsipnya, saya enggak pernah masalah kalau bekerjasama dengan orang lain,” ucap Yusril.

Namun, hingga kini, tak satu pun partai politik, kecuali Partai Nasdem, bersuara soal calon gubernur yang diusung.