EQUITYWORLD FUTURES – Jangan berpikiran kalau komunitas sepeda motor cuma bisa touring, nongkrong, atau kopdar (kopi darat). Banyak hal yang bisa dilakukan dan jauh lebih inspiratif.

Misalnya, yang dilakukan Yamaha V-ixion Club Indonesia (YVCI) chapter Pelaihari, Kalimantan Selatan. Klub ini sepakat membentuk tim balap dan aktif di sejumlah kejuaraan dengan biaya sendiri.

Seperti yang bisa ditemui pada seri terakhir kejuaraan nasional (kejurnas) balap sepeda motor atau bernama resmi Indonesia Road Racing Championship (IRRC) seri terakhir di Sirkuit Balipat, Binuang, Kalimantan Selatan, Minggu (22/11/2015). Tim balap LV Racing yang mengikuti dua kelas dalam perlombaan itu tak lain adalah anggota komunitas.

”Kami ikut kejurda (kejuaraan daerah) rutin setahun tiga kali, dan kejurnas dua kali, termasuk di Binuang ini. Semua atas inisiatif klub, karena kebetulan hampir semua berangkat dari hobi yang sama, suka balap. Daripada balap liar, kami menampungnya di tim ini,” kata Fachrizal Ruzani dari YVCI chapter Pelaihari, memulai pembicaraan dengan jurnalis di sela IRRC 2015.

Tak ubahnya tim balap betulan, mereka berlaga layaknya tim profesional dengan sepeda motor standar yang sudah ”dioprek” hingga perlengkapan balap. Uniknya, semua biaya ditanggung anggota komunitas yang mayoritas sudah punya pekerjaan tetap. Di IRRC 2015 seri terakhir, LV Racing turun di dua kelas balap pendukung (supporting race), yakni matik 150 cc dan sport 4-tak 150 cc.

”Siapa yang bisa bantu, ya bantu. Total butuh sekitar Rp 5 juta per event, dua motor. Biaya itu sudah termasuk pendaftaran, kartu izin start (KIS), sewa paddock, bahan bakar, oli, sampai ban. Ada sponsor-sponsor kecil dari merek knalpot dan aksesori, kadang juga sumbangan dari YVCI Chapter Jakarta dan chapter lain di Kalsel,” kata Fachrizal.

Soal sepeda motor, semua juga dikerjakan sendiri. Kebetulan, Fachrizal dan beberapa anggota komunitas paham tentang teknis. Saking ngiritnya, tim tidak menyewa mekanik dari luar. Baju balap pun cuma ada beberapa. Kalau sobek, tim harus menjahit dan menambal sendiri. Tapi satu yang pasti, semua rider yang turun tetap diasuransi.

Prestasi
Kendati terbilang iseng tapi serius, LV Racing tetap memburu prestasi. Pebalap yang turun ternyata bukan kacangan. Menurtu Fachrizal, pebalap adalah anggota komunitas yang sudah turun di ajang balap sejak muda usia. Tidak ada pelatihan, semua dijalani dengan pembelajaran sendiri.

Prestasi tertinggi adalah mencapai podium di kelas salah satu kelas tahun lalu. Lainnya, karena keterbatasan pengembangan, mencapai posisi tengah dari banyak starter sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Bagaimana kalau bikin tim lebih profesional?

”Agak susah, karena rata-rata kami berkerja. Ada yang PNS, polisi, dan sebagainya. Kami ingin main di daerah dulu, mengangkat nama klub, dan merek tentunya,” kata Fachrizal.