EQUITYWORLD FUTURES – Masih ingat Chaim Fetter, bule Belanda yang sempat dituduh melakukan Kristenisasi saat hendak mendirikan Yayasan Peduli Anak di Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat? Ternyata sudah cukup lama dia menjadi seorang muslim. Berikut kisahnya saat tertarik dengan Islam dan akhirnya menjadi mualaf.

Memang tak mudah saat orang asing masuk ke wilayah terpencil apalagi melakukan kegiatan yang sejatinya justru amat membantu kehidupan warga sekitar. Itu sempat dialami Fetter. Lelaki 33 tahun ini sempat dituding hendak melakukan program permurtadan.

“Saya sampai harus jelaskan, saya bukan Kristen, saya bukan Ateis, saya tidak punya agama tapi saya percaya Tuhan. Mereka sangat bingung,” ujar Fetter dijumpai merdeka.com, Kamis (11/12) di Jakarta.

Fetter memaklumi tudingan itu. Warga di sana mayoritas muslim tentu ketakutan itu wajar. Mereka tidak ingin anak-anaknya berpindah keyakinan. Namun pria fasih berbahasa Indonesia ini tak patah arang. Dia melakukan segala upaya demi tercipta cita-citanya membantu anak-anak jalanan di Lombok.

Fetter membuka dialog antar warga dan para pemuka masyarakat. Pendekatan ini pun berbuah manis. Tidak ada lagi warga yang menolak atau melakukan perlawanan. Dia pun akhirnya berhasil membeli tanah sempat ditahan penduduk untuk mengembangkan yayasan impian dia dan membantu lebih banyak anak-anak jalanan yang ingin kembali ke sekolah.

Sejak diterima dan lebih banyak bergaul dengan warga muslim di Lombok, Fetter mengaku terkesan atas keramahan mereka. “Setiap hari lihat warga salat, azan terdengar, anak-anak mengaji, itu membuat saya terpanggil menjadi mualaf,” kata Fetter.

Sebagai bule dibesarkan oleh spiritualitas cukup kuat, Fetter beruntung memiliki keluarga yang terbuka soal keyakinan. Dia mengaku tak mendapat kendala apa pun dari ibu atau ayahnya di Belanda saat memutuskan hendak jadi muslim.

“Mereka sama, tidak fanatik dengan satu agama. Mereka lebih mendalami kepercayaan pada Tuhan. Spiritual. Meski banyak informasi soal kekerasan dilakukan oleh ISIS atau ekstremis tidak membuat keluarga saya menilai Islam itu keras. Mereka mendukung apa pun keputusan saya,” ujar Fetter.

Bagi keluarga Fetter agama apa pun intinya sama, mengajarkan kebenaran, dan mencintai Tuhan. Tujuannya tetap ke pencipta.

Proses masuk Islam pun berjalan cukup mulus. Awalnya dia mengungkapkan pada ulama setempat hendak berpindah keyakinan dan langsung diumumkan ke seluruh warga.

“Saat itu warga berkumpul dan saya gugup luar biasa. Mereka ingin menyaksikan saya membaca dua kalimat syahadat. Meski agak gemetar proses itu berhasil saya lalui. Saya belajar sedikit sedikit menjadi muslim yang baik. Kini terbiasa dengan bacaan salat, dan sebagainya,” kata pemilik Yayasan Peduli Anak ini.

Fetter mengatakan salah satu bentuk mengaplikasikan ajaran Islam yakni membantu mereka yang kesusahan dan itu sudah dilakukannya sebelum dia menjadi muslim. Menurutnya siapa saja bisa membantu banyak orang tanpa melihat agama, suku, dan ras mereka. “Jangan mudah terprovokasi dengan perbedaan,” ujar Fetter menutup perbincangan.