EQUITYWORLD FUTURES – Patung bercat putih setinggi lima meter itu berdiri tegak di samping Stasiun Bogor. Seorang pria berpakaian militer menggenggam pistol dan memberi komando untuk menyerang.

Setiap hari ribuan orang melewati patung itu. Cuma sedikit yang tahu kisah perjuangan Kapten Muslihat.

“Jangankan meneladani, banyak orang Bogor yang tidak tahu siapa Kapten Muslihat,” kata Mahruf, petugas sekretariat Museum Perjuangan Bogor saat ditemui merdeka.com pekan lalu.

Mahruf bercerita tanggal 25 Desember 1945, rentetan suara senapan terdengar dari pusat Kota Bogor. Letnan Tubagus Muslihat memimpin anak buahnya menyerang tangsi Pasukan Inggris di Jalan Banteng.

Pertempuran sengit terjadi. Kedua pasukan sama-sama hanya bisa berlindung sambil membalas tembakan musuh.

Letnan Muslihat mengambil langkah berani yang cenderung nekat. Dia berdiri dan merangsek maju seorang diri ke arah kubu senapan mesin musuh.

Tembakan pistol Muslihat menewaskan beberapa orang tentara Inggris. Namun tak diduga, sebutir peluru lawan mengoyak tubuh sang letnan.

Gustiman, adik Muslihat segera maju ke arah posisi kakaknya. Dia mencoba menyelamatkan Letnan Muslihat dengan memeluknya. Namun Muslihat malah mendorongnya supaya mundur.

“Berlindung, jangan sampai ada jatuh korban lagi,” kata Muslihat pada adiknya.

Dor! Sebutir peluru menembus punggung Muslihat. Dia jatuh tersungkur.

Gustiman merayap maju. Diseretnya tubuh sang kakak ke tempat yang aman. Langkah itu diikuti seluruh pasukan Kompi IV Batalyon II anak buah Letnan Muslihat yang tersisa.

Muslihat dibawa ke rumahnya oleh pasukannya dan anggota PMI. Dalam keadaan kritis, dia masih sempat menanyakan kondisi anak buahnya yang jadi korban.

Mahruf menceritakan pada saat kiritis itulah Muslihat berpesan pada istrinya agar seluruh uangnya yang berjumlah 600 rupiah disedekahkan pada fakir miskin.

“Ini teladan yang luar biasa. Masih ingat anak buah, masih ingat bersedekah sebelum meninggal,” kata Mahruf.

Pesan Kapten Muslihat yang lain adalah anaknya yang masih dalam kandungan diberi nama Gelar Merdeka. Dia juga berpesan seluruh pasukannya tetap berperang melawan penjajah.

Letnan Muslihat gugur hari itu. Saat tewas usianya baru 19 tahun. Dia meninggalkan istri yang sedang hamil.

Sebagai penghormatan atas jasanya, pangkat Letnan Muslihat dinaikkan menjadi kapten anumerta.

Siapa Kapten Muslihat?

Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang 26 Oktober 1926. Ayahnya Tubagus Djuhanuddin adalah seorang kepala Sekolah Rakyat. Karena tugas, Ayahnya kemudian pindah ke Jakarta dan akhirnya Bogor.

Muslihat sempat bekerja di Bosbouw Proefstation atau Balai Penelitian Kehutanan. Baru beberapa bulan, Jepang mengalahkan Belanda dan menguasai Indonesia tahun 1942.

Dia sempat bekerja sebagai juru rawat di RS Kedunghalang dan kembali lagi ke Djawatan Kehutanan.

“Tapi tidak pernah lama. Paling-paling cuma tiga bulanan lalu berhenti karena tidak betah,” kata Mahruf yang Ketua asosiasi museum Jabar wilayah I, sukabumi cianjur, bogor depok ini.

Saat Jepang memanggil para pemuda untuk menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA), Muslihat terpanggil. Dia mendaftar dan kemudian diterima untuk menjadi calon komandan peleton atau chodancho.

Di pendidikan militer PETA ini Muslihat berkenalan dengan Ishak Dhuarsa, Abu Umar, Bustomi dan para pemuda lain. Diskusi antara para calon perwira itu melahirkan bibit nasionalisme di dada pemuda Muslihat.

Ketika Jepang dibom Atom hingga akhirnya menyerah pada sekutu, PETA dibubarkan. Para perwira Indonesia didikan Jepang ini disuruh mengembalikan senjata mereka pada Jepang.

“Muslihat termasuk orang yang menolak perintah ini. Dia membawa senjata dan pedang supaya tak dikembalikan ke Jepang,” kata Mahruf.

Euforia kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga dirasakan di Bogor. Para pemuda ramai-ramai mendirikan barisan untuk menjaga keamanan kota. Mereka merampas senjata tentara Jepang. Bangunan-bangunan milik asing pun dirampas dan kemudian digunakan untuk kepentingan Republik Indonesia.

Kemudian Barisan Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat. Muslihat bergabung, dia diangkat menjadi komandan Kompi IV Batalyon II TKR. Pangkatnya Letnan Satu.

Bulan Oktober 1945 Tentara Inggris memasuki Kota Bogor. Mereka bertugas melucuti Jepang yang kalah perang. Namun Belanda ikut membonceng pasukan Inggris kembali ke Indonesia. Mereka ingin kembali berkuasa di sini.

Ketegangan timbul di mana-mana. Pertempuran antara laskar serta TKR melawan Inggris dan Belanda sering terjadi.

Muslihat dan pasukannya berkali-kali berhasil menyerang konvoi maupun pos Inggris. Sebelum akhirnya gugur dalam peristiwa 25 Desember 1945.

Minim data sejarah

Bicara sosok Kapten Muslihat, berarti bicara sejarah. Namun sayangnya sumber data soal sosok Kapten Muslihat ini sangat terbatas.

Di Museum Sejarah Bogor, hanya ada dua lembar kertas yang menceritakan sosok Kapten Muslihat. Tulisan itu disusun rekan-rekan Kapten Muslihat dan saksi mata sejarah.

Ada juga kaos Kapten Muslihat yang penuh darah saat tertembak. Namun tak ada foto sang kapten. Yang ada cuma sketsa wajah Kapten Muslihat.

Pengelola Museum mengaku tak berhasil menemukan foto Kapten Muslihat. Wajah asli pahlawan Bogor ini pun masih jadi teka-teki.

Sementara itu Bogor Historical Comunity (BHC), sebuah komunitas pecinta sejarah di Kota Hujan ini mengakui masalah yang sama. Sulit menemukan data lengkap soal sosok Kapten Muslihat.

“Yang paling sulit menemukan nara sumber. Rekan seangkatannya yang bisa berkisah soal itu,” kata Sufiyanto, koordinator BHC.

Saat ini BHC sedang bergerak untuk riset melengkapi sejarah tentang Kapten Muslihat. Mereka berharap bisa membuat sebuah film indie yang bisa mengenalkan sosok Kapten Muslihat pada khalayak ramai.

Tentu bukan hal mudah. Selain kendala pendanaan, yang merogoh kocek sendiri, masalah riset juga lumayan membuat kening berkerut.

“Ada beberapa versi soal Kapten Muslihat. Ini yang sedang kami pelajari. Memang butuh kerja ekstra,” kata Sufi.