EQUITYWORLD FUTURES – Tiga puluhan petugas kebersihan di masjid (marbot) di seputaran Jakarta mendapatkan hadiah dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Ahok, sapaannya, memberikan mereka kesempatan umrah ke Tanah Suci.

Hadiah ini mereka terima tidak cuma-cuma. Ada persyaratan yang harus dilalui seperti mahir melafalkan ayah suci Alquran.

Mayoritas marbot yang terpilih menilai hadiah ini seperti sebuah keajaiban. Mereka masih tak percaya dengan kesempatan tak biasa ini.

Sehari-hari hidup sederhana, kini mereka bisa pergi ke rumah Allah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Berikut luapan kebahagiaan mereka setelah mendapat marbot:

1. Sebelum dapat hadiah umrah, Fatulloh pernah bermimpi ke Mekkah

Senang tak terkira, itulah yang dirasakan Fatullah, petugas kebersihan di sebuah masjid di Jakarta, setelah mendapatkan kesempatan umrah.

Hadiah ini tak diterimanya cuma-cuma. Ada perjuangan yang harus dia tempuh untuk mendapatkan hadiah tak ternilai ini.

“Sebetulnya ingin dari dulu berangkat umroh, tapi belum ada uang. Tentu semua pasti ingin (umroh),” ungkapnya.

Fatullah sudah sebelas tahun menjadi pembersih masjid. Dengan pengasilan Rp 500.000 perbulannya, Fatullah sebelumnya hanya bisa bermimpi untuk pergi ke sana.

“Itulah keberkahan Allah. Dari mana saja jalannya ada saja,” katanya.

Sebelum dikabarkan namanya masuk dalam kandidat 30 marbot yang berhak pergi umrah gratis, ayah empat orang anak ini mengaku pernah mendapatkan pertanda dari Allah. Pertanda itu datang dua tahun melalui mimpi saat dia tertidur di masjid yang dijaganya. Tapi dia memilih tak menggubris dan menganggap itu hanya bunga tidur.

“Mimpi itu sudah lama. Ternyata sekarang saya berangkat umrah,” terang pria 58 tahun ini.

2. Maksum tak percaya, 14 tahun jadi marbot berhadiah keberkahan umrah

“Kehendak Tuhan melebihi segala logika yang dimiliki manusia,” begitulah ungkap bahagia yang keluar dari mulut Muhammad Maksum.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek ini sedang senang karena mendapat kesempatan umrah gratis. Selain ngojek, Maksum juga mengisi hari-harinya dengan menjadi penjaga (marbot) di Masjid Nur Rohman di Cawang, Jakarta Timur.

“Saya nggak pernah menyangka sama sekali. Lillahitaala saja tidak berpikir macam-macam dalam mengurus masjid,” ungkapnya.

Sebagai marbot, dia harus datang lebih awal dari jemaah utamanya ketika salat subuh. Terkadang, dia juga ditunjuk sebagai imam. Usai menjadi imam, Maksum dipercaya memberi tausiah.

“Allah sudah membukakan pintu rezeki yang lain,” ucapnya terharu.

3. Suweha: Hadiah umrah berkat keikhlasan jadi marbot

Suweha tak pernah menyangka, diusianya yang sudah senja mendapat kesempatan pergi umrah gratis. Suweha dulunya ngojek sampai akhirnya memutuskan jadi marbot.

“Saya baru jadi marbot tahun 1971, sebelumnya ngojek di Pelabuhan Tanjung Priok,” ujar pria bertubuh kurus itu saat ditemui di rumahnya di Jalan Papanggo II RT 07/03, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Suweha mengisahkan, saat menjadi tukang ojek dia mulai di jalan sejak pukul 03.00 WIB dini hari sampai pukul 08.00 WIB. Dalam sehari, dia biasanya mengumpulkan uang Rp 50.000 untuk dibawa ke rumah.

“Dulu itu uang Rp 50 ribu sangat berharga. Bisa buat bayar kuliah anak,” cerita ayah 6 anak ini.

Usia semakin uzur, Suweha memutuskan berhenti menjadi tukang ojek dan fokus menjadi marbot sejak tahun 1971. Menurut dia, pekerjaan tersebut sangat mulia dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Bekerja sebagai marbot itu ibadah. Ada sebuah hadist tertulis, kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi kita gak usah pikirkan hasilnya, yang terpenting nanti di akhirat dan menjadi seorang marbot itu bagaikan menabung pahala dan ibadah di akhirat nanti,” tandasnya.