EQUITYWORLD FUTURES – Ismail Ahmad sesekali membetulkan letak sarung lusuhnya saat menjawab pertanyaan beberapa wartawan yang berkunjung ke rumahnya yang sangat sederhana di Gang Pak Jana, Jalan PLN Lama, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pria berusia 74 tahun itu juga merasa kurang nyaman saat melihat wartawan hanya duduk di lantai tanpa karpet plastik, karena secuil karpet plastik di ruang tamu itu hanya seluas kasur lusuh sebagai alas tempatnya berbaring.

Anggota veteran saat perang konfrontasi Indonesia–Malaysia ini sesakali menahan sakit karena baru beberapa hari ini keluar dari rumah sakit, pasca-dirawat karena terkena stroke. Beruntung masih ada BPJS yang meringankan beban Ismail saat membutuhkan pengobatan.

“Sakit ini sudah 6 bulan. Dua kali dibawa biniku ke rumah sakit kemarin. Saya terkena stroke,“ ujar Ismail sambil sedikit meringis menahan sakit.

Sebagai pejuang saat konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1963, Ismail memang menempati rumah yang sangat sederhana, hanya berukuran 4 X6 meter. Dinding papan yang sudah lapuk terlihat ditambal plywood di sana-sini. Rumah yang ditempatinya bertahun tahun itu pun merupakan sumbangan dari wakil ketua DPRD Nunukan kala itu, Abdul Wahab Kiak.

Meski telah lanjut usia dan sakit sakitan, namun Ismail Ahmad masih bersemangat menceritakan masa pergolakan tahun 1963. Dengan suara terbata, Ismail Ahmad menceritakan saat masuk mendaftarkan diri menjadi sukarelawan membantu pasukan KKO di garis depan, dalam pertempuran melawan Malaysia. Perang yang membuat dirinya ditawan selama 3 tahun sebagai tahanan musuh.

”Tertangkap karena kehabisan makanan. Ndak kuat jalan saya waktu itu. Saya ditangkap di Serudong. “ ujarnya.

Di usia senja, Ismail Ahmad masih harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan keempat anaknya. Setiap hari Ismail bekerja sebagai tenaga penyapu jalanan. Upah yang tak seberapa tentu saja tidak akan pernah cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tapi Ismail Ahmad tak pernah mengeluh. Di tengah keterbatasan, Ismail Ahmad juga tak pernah berharap mendapat bantuan yang seharusnya didapat karena statusnya sebagai anggota legiun veteran. Alih alih mendapat tunjangan sebagai legium veteran setiap bulan, bantuan beras pun hanya datang saat bangsa ini memperingati hari kemerdekaan. Itupun hanya setahun sekali.

”Selama ini ndak ada bantuan dari pemerintah. Baru sembako ini yang kita terima. (Beras pembagian dari kantor veteran yang dibawa beberapa teman wartawan–red) Enggak ada juga bantuan uang, enggak ada.” ujar Ismail.

Dia mengaku tidak pernah menerima bantuan tunjangan uang maupun sembako dari pemerintah karena tidak bisa menunjukkan surat keterangan sebagai veteran perang. Surat keterangan yang dimilikinya itu hilang entah ke mana saat berada di Tarakan.

Masih banyak Ismail Ahmad lain di wilayah perbatasan yang terpaksa hidup prihatin karena kehilangan secarik kertas tanda buktinya sebagai veteran perang konfrontasi. Namun nyatanya, bangsa yang berusia 69 tahun ini masih membutuhkan secarik kertas itu untuk memberikan sedikit penghargaan, sedikit “ucapan” terima kasih kepada para pejuangnya.

Meski begitu, Ismail Ahmad tidak membutuhkan secarik kertas itu untuk menjadi bukti keberaniannya dalam membela negara. Begitu pula Ismail Ahmad-Ismail Ahmad yang lain, terutama di sekitar perbatasan.