EQUITYWORLD FUTURES – Perjalanan Mudik biasanya diwarnai berbagai kisah menarik. Mulai dari Mudik menggunakan kendaraan pribadi, hingga angkutan umum. Baik itu transportasi darat, air maupun udara, pasti masing-masing punya kisah dan cerita yang menarik.

“Terlepas dari debu vulkanik di Bali, disambut kabut asap di Pontianak.”

Begitu bunyi status kontak Blackberry Mesenger milik Dwi Suprapti, warga Kalimantan Barat. Kompas.com pun tertarik untuk mendengar secara langsung kisah Dwi tersebut dan menyambanginya di Bandara Supadio Pontianak, Senin (13/7/2015).

Dwi mulai mengawali ceritanya sejak ditutupnya Bandara Ngurah Rai, Jumat (10/7) yang lalu karena letusan Gunung Raung. Beberapa rekan kantor yang saat itu hendak berangkat dengan tujuan Jakarta semua penerbangannya ditunda hingga batas waktu yang tak ditentukan. Sebagian rekannya tersebut memutuskan menggunakan bus dari Bali menuju Surabaya dan melanjutkan penerbanagan menuju Jakarta via Juanda.

“Saya memilih untuk tetap bertahan di Bandara Ngurah Rai dan membeli tiket untuk pulang Minggu sore. Tentunya berharap bandara sudah aktif kembali”, ujar Dwi, Senin (13/7/2015) sore di terminal kedatangan Bandara Supadio Pontianak.

Ternyata pada hari Minggu bandara masih dinyatakan ditutup hingga pukul 16.00 Wita baru dibuka kembali. Jadwal pesawat yang ditumpangi Dwi tertera pukul 16.05 Wita dengan Garuda GA 439 menuju Jakarta dan connecting ke Pontianak pukul 16.20 WIB dengan GA 510. Seharusnya pukul 19.55 Wib di hari yang sama sudah tiba di Pontianak.

“Sejak pukul 14.00 Wita, saya dan adik saya yang juga akan terbang ke Pontianak dengan Kalstar sudah menunggu di bandara agar bisa check in lebih awal. Namun muncul sms dari Kalstar bahwa penerbangan adik saya dari Bali ke Pontianak di-cancel,” kata dia.

Dwi pun dengan sabar menanti penerbangan. Hingga akhirnya pukul 17.00 Wita pihak bandara kembali mengumumkan beberapa penerbangan yang dinyatakan ditunda, termasuk Garuda. Jadwal penerbangan pun berubah tanpa ada kejelasan akan dibatalkan atau tetap dilanjutkan.

“Jadi hanya bisa pasrah menunggu, hingga akhirnya menjelang berbuka Puasa diinformasikan bahwa pesawat saya GA 439 akan diterbangkan pukul 21.05. Namun akhirnya sekitar 21.45 baru ada panggilan boarding,” ujar Dwi.

Tak hanya sampai di situ, ternyata Dwi bersama penumpang lain harus kembali bersabar dan menunggu di dalam pesawat hingga pukul 22.30 Wita, pesawat lepas landas menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta sekitar 23.30 WIB, namun pesawat yang sedianya akan membawa ke Pontianak yaitu GA 510 sudah terbang.

Dwi akhirnya harus menunggu selama 6 jam untuk diterbangkan dengan penerbangan pagi menggunakan pesawat Garuda GA-500 yang jadwal penerbangan pukul 5.20 pagi. Lagi-lagi pesawat dinyatakan ditunda hingga pukul 06.20 WIB.

Penundaan dikarenakan bandara Supadio Pontianak tertutup kabut asap. Penundaan kemudian diperpanjang hingga pukul 07.10 WIB dan akhirnya diperpanjang lagi hingga 08.20 WIB.

“Namun kenyataannya pukul 08.40 baru boarding dan sekitar 9.30 baru lepas landas menuju Pontianak,” tutur Dwi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 15 menit perjalanan, sekitar pukul 10.45 pesawat sudah berada di atas landasan pacu bandara Supadio. Namun lagi-lagi pesawat tidak bisa mendarat dan bermanuver selama kurang lebih 10 menit di atas udara Pontianak.

Hingga kemudian pesawat terbang naik kembali dan berputar selama hampir 10 menit dan terlihat berupaya untuk mendarat.

“Akhirnya terdengar informasi bahwa pesawat sudah siap untuk mendarat di Supadio. Namun kemudian diinformasikan kembali karena mendapat instruksi dari Supadio untuk mendarat di Batam karena landasan pacu tertutup oleh pesawat militer dan kita menuju Batam dengan waktu tempuh 57 menit,” kata Dwi melanjutkan ceritanya.

Saat itu, kata Dwi, semua penumpang di dalam pesawat ribut sesaat karena tak mengerti makna informasi tersebut. Sekitar pukul 12.00 Wib pesawat mendarat di Batam dan diinformasikan bahwa pesawat akan mengisi bahan bakar terlebih dahulu sebelum kembali ke Pontianak. Sembari menunggu informasi dari Supadio, selama di Batam penumpang tidak diperkenankan turun dari pesawat.

“Hingga akhirnya sekitar 1 jam menunggu di Batam, pukul 13.00 diinformasikan kembali bahwa landasan di Pontianak sudah clear dan pesawat siap diterbangkan kembali dengan waktu tempuh 54 menit. Akhirnya sekitar 13.54 pesawat tiba di bandara Supadio Pontianak” ujar Dwi.

Staf Ahli Bandara Supadio Pontianak, Syarif Usmulyani membenarkan adanya penundaan kedatangan maupun keberangkatan pesawat karena kendala kabut asap. Jarak pandang yang tidak ideal serta beresiko dan tentu saja tidak memungkinkan pesawat untuk mendarat.

Kabut asap yang menyelimuti Pontianak berdampak pada aktivitas penerbangaan. Jarak pandang yang terbatas menyebabkan beberapa penerbangan pagi terpaksa ditunda keberangkatannya.

“Jarak pandang dipagi hari pun hanya berkisar 400-500 meter saja. Kondisi demikian tentu saja tidak memungkinkan pesawat untuk melakukan pendaratan. Karena standar daripada pendaratan jarak pandang itu harus berada minimal 1,2 hingga 1,5 kilometer,” ujar Usmulyani.

Terkait dengan dialihkannya pesawat Garuda ke Batam, Usmulyani menegaskan bahwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan kabut asap. Penerbangan sudah kembali normal sejak pukul 09.00 pagi.

“Ada sedikit hambatan teknis, pesawat militer nge-lock di runway bandara, sehingga membutuhkan waktu untuk memperbaiki sistem teknis sekitar 15 menit. Sehingga pesawat Garuda terpaksa dialihkan sementara ke Batam” Jelas Usmulyani.