EQUITYWORLD FUTURES – Gempa bumi besar yang melanda Nepal pada Sabtu (25/4/2015), diprediksi bakal membuat lonjakan klaim asuransi properti. Beberapa perusahaan asuransi di negara tersebut, telah menempatkan sejumlah surveyor untuk menilai klaim dan memastikan prosesnya efisien dan cepat.

Perusahaan reasuransi milik negara, General Insurance Corporation of India (GIC) Re akan menanggung kerugian beban gempa yang telah menyebabkan kerusakan luas pada properti industri dan komersial.
“Kami adalah perusahaan reasuransi internasional terbesar di pasar Nepal dan kami telah mengirim tim dari 10 surveyor untuk menilai kerugian,” kata Kepala dan Direktur Pengelola GIC Re., AK Roy.

Roy menambahkan, ia tengah mencari tahu estimasi kerugian akibat gempa tersebut. Meski begitu, bagi perusahaan asuransi swasta, tidak semudah itu menggapai Nepal.
“Kantor asurasi ikut rusak, komunikasi juga sulit. Kami tidak dapat mengubungi kantor kami di sana (Nepal). Klaim dari kerusakan properti diprediksi lebih tinggi daripada klaim asuransi jiwa, sebab tidak banyak orang mengasuransikan jiwanya,” kata seorang senior eksekutif sektor publik.

Perusahaan asuransi jiwa dan asuransi umum tengah mengusahakan proses klaim di Nepal dan beberapa bagian India lainnya menjadi lebih sederhana.

Seorang eksekutif di sebuah perusahaan asuransi jiwa menyebutkan, pihaknya memahami sensitivitas isu tersebut. Dokumen yang biasa diperlukan sebagai persyaratan juga akan dikurangi.
Perusahaan asuransi nasional telah menyebarkan surveyor di Nepal melalui kantor-kantor cabang, seperti yang dilakukan GIC. Sementara itu Bajaj Allianz Insurance mengumumkan sejumlah nomor yang bisa dihubungi para korban.

Pelanggan bisa menghubungi nomor tersebut untuk klaim asuransi atau mencari bantuan lainnya. Bajaj juga telah membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini.

Seperti diketahui, gempa bumi Sabtu lalu adalah yang terburuk yang melanda wilayah Nepal dalam 80 tahun terakhir. Gempa ini telah merobohkan beberapa bangunan dan kuil tua yang berusia berabad-abad.