EQUITYWORLD FUTURES – Wanita pekerja seks komersial (PSK) termasuk kategori kelompok rentan dalam rantai resiko tinggi penularan penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Namun, pencegahan dan penanggulangan penyakit yang belum ada obatnya itu tidak bisa hanya dibebankan kepada para PSK itu. Harus ada pelibatan para pihak dari lingkungan terdekatnya.

Salah satunya melalui pasangan intim (pacar) dari PSK tersebut. Di Kediri, Jawa Timur, ada istilah “kiwir”.

Kurang jelas asal muasal kata itu maupun artinya. Namun istilah itu merujuk pada seorang laki-laki yang mempunyai hubungan khusus dengan PSK.

Bukan pelanggan, juga bukan muncikari. Lebih pada pasangan hidup, namun tidak resmi.

Hubungan itu tidak sekadar soal materi, namun kerap pada kecocokan hati. Perasaan nyaman dan aman itulah yang menjadi pijakan bagi mereka untuk saling berhimpun seperti layaknya relasi suami istri, meski tanpa ikatan pasti.

Keberadaan “kiwir” ini mempunyai sumbangsih besar dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di kalangan wanita penjaja seksual sebagai kelompok rentan penularan, maupun bagi kelompok “kiwir” itu sendiri.

“‘Kiwir’ itu juga peduli AIDS. Secara rutin mereka periksa kesehatan bersama pasangannya. Kalau gak peduli, mana mungkin mereka mau periksa kesehatan,” ujar mantan ‘kiwir’ yang kini menjadi tokoh di sebuah lokalisasi pelacuran yang ada di Kabupaten Kediri, Senin (30/11/2015) kemarin.

Jumlah “kiwir” tergolong banyak. Di Kabupaten Kediri, “kiwir” mempunyai wadah mengaktualisasikan diri, yaitu dalam sebuah komunitas.

Wadah itu menjadi kawah menempa diri bagi sesama “kiwir” untuk peningkatan wawasan perihal kesehatan hingga soal tanggung jawab.

Keberadaan komunitas “kiwir” itu tidak lepas dari campur tangan SuAR, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Kediri yang menaruh perhatian di bidang HIV/AIDS.

Lembaga ini memprakakarsai penanggulangan HIV/AIDS dengan cara mengorganisasi komunitas-komunitas kelompok rentan sejak tahun 2007 silam.

Selain komunitas “kiwir”, ada juga kelompok kerja (pokja) se- Kediri Raya yang beranggotakan para mucikari dari seluruh lokalisasi pelacuran yang ada di Kediri, Rumah Sehat Plus bagi PSK dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Perempuan Pekerja Mandiri, serta Dering dari kelompok gay.

“Fungsi pengorganisasian itu lebih pada distribusi peran. Menempatkan komunitas mereka sebagai subyek dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS itu sendiri,” ujar Koordinator SuAR, Sanusi.

Selain fungsi tersebut, Sanusi menambahkan, komunitas itu juga sebagai wahana membangun daya nalar dan tempat perubahan perilaku bagi anggotanya.

Dengan berkomunitas, memudahkan mereka menjalin komunikasi dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

Berinteraksi dengan jaringan masyarakat lainnya itu, dapat menjadi momentum aktualisasi diri. Aktualisasi diri menjadi penting karena bertujuan untuk menghilangkan stigma maupun diskriminasi dari masyarakat akibat latar belakangnya.

“Yang tidak kalah penting, dari pengorganisasian komunitas itu memunculkan tanggung jawab pribadi, komunitas, serta keberlangsungan program yang ada,” imbuh dia.

Sanusi mengungkapkan, penanggulangan AIDS dengan model pengorganisasian komunitas itu telah membuahkan hasil dengan terus menurunnya prosentase infeksi menular seksual (IMS).

“Pada (pemeriksaan) IMS pertama angkanya hampir 98 persen lalu turun 87, turun 67, sekarang sekitaran angka 47 persen. Bahkan di beberapa hotspot (lokalisasi pelacuran) sudah di bawah 30 persen,” ungkap dia.

SuAR mencatat, jumlah hotspot di Kabupaten Kediri ada sembilan tempat, yang tersebar di beberapa wilayah.

Dari praktik itu, terdapat sekitar 600 PSK yang beroperasi. Hingga kini pendampingan kepada mereka terus dilakukan.

Selain mengorganisasi kelompok yang ada di lokalisasi pelacuran, SuAR juga mengorganisasi kelompok masyarakat yang berada di luar kalangan pelacuran. Di antaranya dengan membentuk komunitas Warga Peduli AIDS dan Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat.

Dengan demikian berarti ada dua kutub pendekatan dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, yakni dari internal lokalisasi pelacuran itu sendiri dan dari kalangan luar lokalisasi pelacuran.

Bentuk aksi penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS melalui pengorganisasian komunitas itu cukup berbeda dengan aksi-aksi yang telah dilakukan oleh penggiat AIDS lainnya. Langkah mereka dianggap sebagai sebuah terobosan yang inovatif.

Itu dibuktikan dengan legitimasi yang didapat dengan disabetnya penghargaan terbaik dalam kategori Program Inovasi Pencegahan Melalui Transmisi Seksual.

Ajang itu diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, UNAIDS, serta Center for Indonesia’s Strategic development Initiative (CISDI) pada 27 Oktober 2015 lalu.