Menteri Perindustrian MS Hidayat mengakui impor kopi Indonesia naik tajam sepanjang tahun lalu. Bahkan, kopi yang diimpor adalah kopi dengan kualitas rendah.

Menanggapi ini, MS Hidayat berjanji menerapkan SNI wajib untuk produk kopi. Aturan ini rencananya diterapkan tahun ini.

“Tahun ini berlaku dan SNI kopi sedang diproses di BSN. Kita protek juga kopi-kopi impor itu kualitas rendah tak boleh masuk,” ucap Hidayat di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (24/6).

Pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah, salah satunya membangun laboratorium kopi untuk mencegah semakin derasnya impor kopi. Namun Hidayat mengakui tidak mudah menghentikan impor. “Masih ada impor memang terjadi karena ada demand,” tegasnya.

Dari data statistik dagang kopi 2013, ekspor kopi tahun lalu mengalami penurunan tajam. Sebaliknya impor kopi justru naik signifikan.

Berdasarkan data yang dimiliki MS Hidayat, ekspor produk kopi olahan pada 2013 mencapai USD 243,87 juta atau turun 24,41 persen dibandingkan 2012 yang tercatat menembus USD 322,62 juta. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Singapura, RRC dan Uni Emirat Arab

Berbanding terbalik dengan ekspor yang menurun, impor produk kopi olahan malah naik signifikan. Impor kopi olahan mencapai USD 71,19 juta pada 2012 dan angka ini terus naik menjadi USD 81,88 juta pada 2013 atau naik 15,01 persen.

“Impor terbesar dialami produk kopi instan di mana disinyalir adalah produk bermutu rendah,” tegasnya.

Meskipun impor kopi olahan meningkat pesat akan tetapi neraca perdagangan produk kopi olahan masih mengalami surplus sebesar USD 161,99 juta.