EQUITYWORLD FUTURES – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menetapkan status tanggap darurat asap sehubungan kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang semakin menjadi di daerah ini.

“Informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, status tanggap darurat asap di Kotim diberlakukan mulai 26 Agustus sampai dengan 30 Oktober 2015. Dasarnya yaitu indeks standar pencemaran udara (ISPU) pada 22 dan 23 Agustus 2015 terukur PM10: 293,7 ugram/m3 (normal maksimal 150 ugram/m3) sehingga membuat status udara tidak sehat,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kotim, Multazam di Sampit, Kamis (27/8/2015).

Asap yang menyapu daerah ini juga dilaporkan telah menyebabkan peningkatan penyakit infeksi saluran pernapasan atas pada pertengahan Agustus ini yakni sebanyak 506 orang.

Jumlah kebakaran lahan yang terjadi selama 1 hingga 26 Agustus sebanyak 294 kali dengan luasan 233,46 hektare. Petugas pemadam kebakaran harus berjibaku karena kebakaran lahan tergolong marak.

Potensi kebakaran lahan juga masih terbilang tinggi. Setidaknya itu terlihat pada pantauan titik panas atau hotspot di Kotim pada Rabu (26/8) ada 134 titik yang tersebar di Kecamatan Baamang 34 titik, Cempaga 11 titik, Kota Besi 25 titik, Mentaya Baru Ketapang 20 titik, Mentaya Hilir Selatan 21 titik, Mentaya Hilir Utara 12 titik, Mentaya Hulu 1 titik, Pulauhanaut 10 titik. Jarak pandang terpendek pada pukul 07.00 WIB sejauh tiga kilometer.

“Penetapan darurat asap ini melihat kondisi di lapangan. Seluruh instansi terkait juga sudah diinformasikan supaya turut menyikapi sesuai bidang masing-masing. Misalnya, Dinas Kesehatan terkait dampak asap terhadap kesehatan, Bandara Haji Asan Sampit terkait penerbangan, BMKG terkait prediksi cuaca, serta instansi lainnya,” sambung Multazam.

Pantauan di lapangan, kebakaran lahan banyak terjadi di sisi Jalan Tjilik Riwut yang menghubungkan Sampit-Kotabesi, Jalan Jenderal Sudirman, lingkar utara dan lingkar selatan. Akibatnya, asap tipis masih terjadi di Kota Sampit, khususnya pada pagi dan sore.

Multazam berharap hujan yang diprediksi akan terjadi dalam beberapa hari ini benar-benar terjadi. Kamis pagi, Sampit ditutup mendung sehingga masyarakat berharap hujan akan turun agar kebakaran lahan dan asap bisa berakhir.