EQUITYWORLD FUTURES – Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno dua hari terakhir menjadi bulan-bulanan di media sosial. Pernyataannya yang menganggap massa pendukung KPK adalah massa yang tidak jelas dikritik banyak orang.

“Pertemuan kemarin di KPK maupun pertemuan di Polri kan diharapkan tidak terjadi suatu pernyataan-pernyataan yang menyudutkan apalagi menyatakan ingin… Pokoknya anulah… Tidak boleh seperti itu. Harus menenangkan. Jangan membakar-bakar massa, mengajak rakyat ‘ayo rakyat, kita ini’ enggak boleh begitu itu. Itu suatu pernyataan sikap yang kekanak-kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Dia akan didukung, konstitusi mendukung, bukan dukungan rakyat yang enggak jelas itu. Konstitusi yang mendukung,” kata Tedjo di kompleks Istana kepresidenan, Jakarta, Sabtu (24/1).

Tak cuma kritikan pedas, banyak pula meme-meme lucu yang isinya menyindir politikus Partai Nasdem tersebut.

Berikut kritikan-kritikan pedas terhadap Menteri Tedjo, seperti yang berhasil dihimpun merdeka.com, Senin (26/1):

1. KontraS sindir Menteri Tedjo: Cuma politisi yang enggak jelas
Koordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar menyindir balik Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno soal ucapan ‘rakyat tidak jelas’. Menurutnya, oknum yang tidak jelas itu adalah politisi, bukan rakyat.

Rakyat, justru punya kejelasan karena membela keadilan. “Rakyat yang enggak jelas ini mendukung KPK. Tidak ada lembaga hukum yang bekerja mewakili kepentingan masyarakat sungguh-sungguh. KPK menunjukkan itu dengan semua perdebatannya, cuma politisi yang enggak jelas, enggak suka dengan KPK, mengkritik KPK dan tidak ada kontribusinya,” jelas Haris Azhar di Restoran Eatology, Jakarta, Minggu (25/1).

Haris Azhar pun menilai PDIP sama tidak jelasnya dengan politisi. Dia menuding Partai pendukung Jokowi pun tidak dapat mewakili suara rakyat.

“Hari ini PDIP ternyata mental 11 -12 sama partai lainnya tidak ada partai bisa bekerja mewakili rakyat. Klaim wong cilik tidak terbukti apapun,” sambung dia.

Pembelaan pun datang dari politisi PDIP Dwi Ria Latifa. Dia mengatakan sekaligus mengklarifikasi pernyataan Tedjo dengan menegaskan status semua rakyat yang dukung KPK itu jelas.

“Semua rakyat jelas, rakyat yang mendukung proses hukum, rakyat yang mendukung keutuhan NKRI jadi dipahami jangan terjebak kepentingan sesaat dan memporak porandakan sistem negara dan orang menonton dan menertawakan kita,” tegas Dwi.

2. Menko Polhukam di-bully di medsos, kata tak jelas diganti Tedjo

Ucapan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno yang mengatakan pendukung KPK adalah rakyat tak jelas banyak menuai kritik. Kritik pedas kepada politikus NasDem itu bukan hanya dari kalangan profesional saja, melainkan masyarakat luas.

Di jejaring sosial Twitter, Menteri Tedjo di-bully habis-habisan. Netizen mengolok-olok Tedjo karena dinilai tak pantas seorang menteri mengucapkan kata ‘rakyat tak jelas’.

Bahkan, hingga pukul 13.45 WIB Tedjo masuk dalam trending topic nomor empat di Indonesia. Lucunya, pengguna media sosial mengganti kata ‘tak jelas’ dengan ‘Tedjo’.

“Krn sikap penguasa yg tedjo, rakyat bergerak. Mereka dituduh tedjo oleh Menteri Tedjo. Pdhal akar semua ini ya ketedjoan sikap pemerintah,” tulis akun Twitter @PoncoWijaya.

“Duh tv gue antenanya tedjo banget nih, gambarnya renyek,” tulis @millyshafiq.

“Ada pepatah “The good man speak well”. Dlm kasus Menkopolhukam, dia jelas bkn org baik. Omongan dia menyakiti hati rakyat #Tedjo,” ucap @almubarak.

“Udah tahu Tedjo tapi kok diangkat jadi Menteri? :)” tulis @IndraYunadi.

Sebelumnya, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno mengingatkan pimpinan KPK untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan pihak lain terkait kasus yang dialami Bambang Widjojanto.

“Pertemuan kemarin di KPK maupun pertemuan di polri kan diharapkan tdk terjadi suatu pernyataan-pernyataan yang menyudutkan apalagi menyatakan ingin… Pokoknya anulah… Tidak boleh seperti itu. Harus menenangkan. Jangan membakar-bakar massa, mengajak rakyat ‘ayo rakyat, kita ini’ enggak boleh begitu itu. Itu suatu pernyataan sikap yang kekanak-kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Dia akan didukung, konstitusi mendukung, bukan dukungan rakyat yang enggak jelas itu. Konstitusi yang mendukung,” kata Tedjo di kompleks Istana kepresidenan, Jakarta, Sabtu (24/1).

Padahal, kata Tedjo, dalam pertemuan di Istana Bogor, Presiden Jokowi telah mengingatkan KPK dan Polri agar menjaga suasana agar tidak bertambah panas. “Jangan ada gerakan-gerakan massa, ternyata masih ada. Ini yang kita sayangkan sebagai penanggung jawab keamanan negara, kordinatornya saya agak menyayangkan. Harusnya itu tidak terjadi. Boleh asal tertutup, silakan. Jangan semua di depan media tersebar luas. Tidak baik, kekanak-kanakan,” cetus Tedjo.

3. Tak pantas seorang menteri bilang pendukung KPK rakyat tak jelas

Komentar dari Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatno yang menyatakan pendukung KPK merupakan rakyat yang tidak jelas menjadi bahan tertawaan sejumlah akademisi di Yogyakarta. Direktur Pukat (Pusat Kajian Anti Korupsi) UGM, Zaenal Arifin Muchtar, mengatakan statement tersebut membuatnya bertanya-tanya, rakyat tidak jelas mana yang dimaksud oleh Menteri Tedjo.

“Kalau Pak Menteri bilang pendukung KPK rakyat yang nggak jelas, berarti kita itu yang nggak jelas. Padahal di sini kita itu jelas, ada bu rektor UGM, ada yang lainnya, itu nggak jelas?” katanya dalam pernyataan sikap bersama akademisi di Yogya di Balairung UGM, Minggu (25/1).

Perkataan tersebut pun kemudian disambut gelak tawa para akademisi yang hadir. Bahkan beberapa di antara mereka langsung menyambut dengan komentar lainnya.

“Ini Pak representasi rakyat yang tidak jelas seperti yang bapak katakan kemarin,” seru Budi Santoso salah seorang Komisioner Ombudsman RI yang juga hadir.

Zaenal pun menyayangkan statemen Menteri Tedjo. Menurutnya, tidak sepantasnya kalimat tersebut keluar dari mulut seorang menteri.

“Menko Polhukam seharusnya bisa menenangkan rakyat dan bukan malah mengeluarkan komentar yang merendahkan publik seperti itu. Komentarnya kemarin kan malah seperti menantang rakyat, bukan seperti sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh negarawan,” ujarnya.

Dia pun balas menyidir Menteri Tedjo dengan mengatakan akan membelikan kaca supaya dia bisa berkaca. “Yuk mari ramai-ramai belikan dia kaca biar dia bisa berkaca bahwa kepada siapa dia seharusnya mengabdi,” sindirnya.

4. Adhie Massardi sebut rakyat tak jelas dulu dukung Jokowi

Pernyataan Menko Polhukam Tedjo Edhi Purdijatno yang mengatakan KPK mencari dukungan rakyat tidak jelas mengundang polemik. Atas pernyataan ini, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie M Massardi menganggap Tedjo tidak mengerti mekanisme pemberantasan korupsi.

“Tedjo saja yang tidak paham pemberantasan korupsi, bagaimana serangan dari koruptor-koruptor terhadap lembaga anti korupsi,” ujar Adhie saat ditemui di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta, Minggu (25/1).

Di samping itu, Adhie menyalahkan pernyataan Tedjo tentang dukungan terhadap KPK dari rakyat tidak jelas. Secara tegas, dukungan tersebut berasal dari rakyat yang sebelumnya mendukung Joko Widodo sebagai presiden.

“Dia (Tedjo) soal dukungan rakyat tidak jelas itu salah. Yang mendukung KPK itu rakyat yang jelas, rakyat yang sebetulnya mendukung Jokowi jadi presiden, yang ingin pemberantasan korupsi,” kata dia.

Selanjutnya, Adhie menerangkan tidak ada pihak lain yang bisa mendukung langkah KPK selain dari rakyat. Sehingga, jika bukan rakyat yang mendukung, kepada siapa lagi KPK mencari dukungan.

“Ini (KPK) kan produk rakyat, ini cermin dari keinginan rakyat. Oleh sebab itu, diminta atau tidak, rakyat pasti mendukung KPK,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Adhie meragukan konstitusi benar-benar dapat memberikan dukungan penuh jika KPK mendapat serangan. Dia mendasarkan hal ini pada kasus kriminalisasi mantan Ketua KPK Antasari Azhar.

“Kita tahu, tanpa dukungan rakyat, seperti kasus yang menimpa Antasari kemudian lewat begitu saja. Mana konstitusi yang melindungi Antasari, padahal dia menjalani hukuman atas kejahatan yang tidak dia lakukan,” ujarnya.