EQUITYWORLD FUTURES – Untuk kesekian kalinya konsep pengelolaan ekowisata di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara memikat pakar dari Uni Eropa. Hal ini melengkapi kedatangan beberapa pakar lainnya ke desa kecil tersebut sebelumnya.

Direktur Yayasan Perkumpulan Masyarakat dan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA) Akbar Digdo mengatakan bahwa para ahli yang datang ke Bahoi kali ini, justru ingin berbagi pengalaman mengenai apa yang juga sudah mereka lakukan di Uni Eropa. “Bahoi kedatangan ahli Biologi Kelautan dan Ekowisata Italia, Carlo Franzosini serta akademisi dari Universitas Wageningen Belanda Rene Henkes. Mereka berdua telah mengambil peran lewat keahliannya mengembangkan ekowisata di Karibia Belanda dan pengelolaan daerah perlindungan laut Minamare di Laut Adriatik Utara, Italia,” jelas Akbar, Kamis (12/3/2015).

Di Bahoi, baik Carlo maupun Rene terkesan dengan pengelolaan ekowisata dan daerah perlindungan laut (DPL) yang sudah dirintis oleh masyarakat Bahoi sejak tahun 2001. Lewat berbagai pendampingan dan kemitraan, kini wisata dan potensi perairan laut di Bahoi benar-benar dikelola oleh dan untuk masyarakat. “Tahun 2003 merupakan titik penting, saat kami sepakat memproteksi DPL lewat Peraturan Desa dan pada tahun 2008 desa kami ditetapkan sebagai Desa Wisata,” kata Hans Lahamende, salah satu tokoh masyarakat Bahoi.

Masyarakat Bahoi sepakat bahwa pengelolaan wisata dan potensi kelautan yang mereka miliki menjadi tanggung jawab mereka bersama. Jika ada wisatawan yang ingin datang berkunjung ke Bahoi, secara gotong royong seluruh warga Bahoi menyambutnya dan menyediakan fasilitas yang diinginkan oleh wisatawan.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Wisatawan sedang menyelam di Desa Wisata Bahoi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

“Mereka nanti menginap di rumah warga yang sudah distandardisasi. Makanan mereka disediakan oleh kaum ibu, sementara para pemuda yang sudah dilatih akan menjadi guide selama mereka melakukan aktivitas penyelaman. Kami sepakat tidak akan membangun cottage di sini tetapi memberdayakan apa yang sudah ada di desa kami,” jelas Kepala Desa Bahoi, Daud Dalerus.

Seiring dengan pemberdayaan potensi daerah yang berwawasan lingkungan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, wisatawan juga disuguhkan dengan kerajinan tangan yang semuanya dibuat oleh warga Bahoi sendiri. Pun demikian warga Desa Bahoi telah sadar untuk menjaga dan memelihara lingkungan mereka. “Jadi jangan berharap melihat ada sampah berserakan di desa kami, karena semua warga sudah sadar,” tegas Hans.

Belajar Bersama

Konsep pengelolaan ekowisata dan potensi perairan pesisir di Bahoi yang berbasis masyarakat itu memukau Rene dan Carlo. Mereka mengaku senang melihat bahwa ternyata di Indonesia, sudah ada masyarakat yang menjalankan konsep ekowisata dengan benar. “Di Karibia ada dua lokasi yang berdekatan yakni St. Eustasius dan St. Maarten. Keduanya merupakan daerah pesisir pantai. St. Maarten merupakan kawasan yang sudah berubah menjadi kawasan perkotaan, dan dalam perkembangannya menemui banyak masalah dalam aspek sosial dan lingkungan,” jelas Rene.

Sementara di kawasan St. Eustasius perkembangannya dibiarkan secara alami sebagaimana bentang alam aslinya. Ternyata dari studi yang dilakukan, lebih dari 80 persen wisatawan lebih menyukai St. Eustasius yang dikelola dengan skenario lingkungan lestari. Oleh karena iru mereka merasa senang, Bahoi bisa dikelola dengan konsep lestari dan pembangunan berkelanjutan.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Jamuan prasmanan bagi wisatawan di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara digelar lapangan terbuka dengan tetap mempertahankan suasana aslinya, termasuk sebuah sumur yang menjadi sumber air bersih bagi warga.

Sehari sebelumnya, baik kedua pakar dari Uni Eropa itu maupun para pelaku ekowisata di Bahoi dan stakeholder lainnya, dipertemukan oleh YAPEKA dalam Workshop Ekowisata Penguatan Keanekaragaman Hayati Laut dan Pesisir Melalui Dukungan Teknis dan Kebijakan untuk Ekowisata Berbasis Masyarakat. Workshop tersebut diselenggarakan di Kota Manado.

Sebagai tindak lanjut pembelajaran bersama, semua pihak kemudian bertemu lagi dalam Seminar Terbuka Marine Biodiversity, Conservation and Ecotourism yang digelar pada hari ini di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). “Ini sangat baik bagi kami di Unsrat, di mana kita bisa belajar bersama apa yang sudah dilakukan di Uni Eropa dan yang sudah dirintis serta dijalankan oleh masyarakat Bahoi,” kata Kepala Program Studi Budidaya Perairan FPIK Unsrat, Joppy Mudeng.