EQUITYWORLD FUTURES – Antrean puluhan mobil roda empat di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Nunukan menyebabkan antrean panjang dan mengular hingga ke badan jalan, Rabu (15/10/2014). Antrean ini tetap terjadi meski telah terdengar kabar bahwa BBM bersubsidi yang diambil dari Tarakan baru akan tiba besok.

Sebagian dari mobil yang antre tersebut tetap memilih bertahan di antrean sambil berharap informasi yang mereka terima tersebut keliru. Sebab, mereka sudah melakukan antrean sejak pagi hari.

Sejak beberapa hari terakhir, tak satu pun dari 3 APMS di Nunukan yang bisa melayani masyarakat karena stok BBM mereka telah habis. Kelangkaan tersebut membuat sebagian sopir angkutan kota memilih menggunakan bensin dari Tawau, Malaysia meskipun mereka terpaksa membayar lebih mahal.

“Satu botol air mineral yang satu setengah liter, itu pun tidak penuh, kita belinya Rp 15 ribu. Kadang sampai Rp 20 ribu. Lebih mahal karena bensin Tawau,” kata Lukas, salah satu sopir angkutan kota di Nunukan.

Lukas mengaku, akibat membeli BBM dengan harga lebih mahal, dia pun terpaksa memilih-milih penumpang. “Kalau dekat kita suruh bayar tarif normal Rp 5 ribu, kalau agak jauh kita minta Rp 10 ribu,” ujar Lukas lagi.

Kelangkaan BBM bersubsidi juga dikeluhkan oleh warga melalui jejaring sosial. Salah satu pemilik usaha agen koran Narotama bahkan mengaku merugi. Sebab, dia tidak bisa mengantarkan koran kepada para pelanggannya.

Melalui media sosial pula, Narotama mengaku mendapat info tentang di mana bisa membeli bensin asal Tawau. “Hari ini koranku tidak beredar. Loper gak simpan BBM. Kutaksir mengalami kerugian 1 Mber. Di mana ada BBM ya?” tulisnya di media sosial.

Tak lama kemudian temannya menginformasikan bahwa ada penjual bensin dari Tawau meski harganya lebih mahal.

Berkah
Namun berbeda dengan kisah Narotama yang merugi, kondisi kelangkaan BBM bersubsidi malah membawa berkah bagi Paulus. Paulus, warga Buton, membuka kios kecil di Jalan Gajah Mada. Setiap hari Paulus mengaku mampu mendatangkan bensind dari Tawau sebanyak 30 liter. Ada kenalannya yang mengantar menggunakan speedboat ke Nunukan.

“Sehari bisa pesan 30 liter. Harganya Rp 330 ribu dari sana. Cuma agak susah juga kalau ketahuan police Malaysia, diambil itu bensin. Kita bisa jual per botol, kalau penuh botol (air mineral)itu Rp 20 ribu. Enggak lama kalau sudah datang biasanya jam 3 sore, biasanya enggak sampai setengah jam sudah habis,“ kata Paulus.

Sementara Kepala Bidang Migas Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan Ahmad mengatakan, kelangkaan BBM bersubsidi di Nunukan disebabkan lambatnya pengiriman BBM dari Tarakan.

“Ini hanya keterlambatan pengiriman dari Tarakan ke Nunukan. Mungkin besok (hari ini) kita harapkan sudah bisa sampai Nunukan lah,” ujar Akhmad saat ditemui di kantornya kemarin.