EQUITYWORLD FUTURES – Presiden Joko Widodo berulang kali menekankan pentingnya mengurangi anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasalnya, anggaran untuk itu terus melonjak setiap tahun melebihi lebih anggaran untuk sektor produktif.

Jokowi menggambarkan subsidi BBM tahun ini sebesar Rp 330 triliun. Total, lima tahun terakhir subsidi BBM telah mencapai Rp 714 triliun. Adapun anggaran untuk kesehatan hanya Rp 202 triliun dan infrastruktur Rp 577 triliun.

“Kalah dengan subsidi BBM. Setiap hari kita bakar, bakar, bakar terus, tapi yang justru penting, kesehatan dan infrastruktur, jauh dari subsidi BBM,” katanya saat membuka rapat koordinasi nasional Kabinet Kerja di Istana Negara, Jakarta, Selasa (4/11).

Selain itu, Jokowi menambahkan, BBM subsidi lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas. Atas dasar semua itu, Jokowi ingin memangkas anggaran subsidi BBM dan mengalihkannya ke sektor lain. “Ini yang segera kami ubah,” kata Jokowi.

Dan, cara paling cepat memangkas anggaran subsidi BBM adalah dengan menaikkan harga komoditas vital tersebut. Hanya saja, Jokowi tidak pernah secara tegas kapan mengambil kebijakan tersebut.

Di sisi lain, harga-harga barang, terutama kebutuhan pokok, mulai merangkak naik.

Untuk persoalan satu ini, Jokowi kalah berani ketimbang pendamping dan anak buahnya di kabinet kerja, sudah memberikan isyarat kapan harga BBM subsidi naik.

Padahal, Jokowi sudah membagi-bagikan empat kartu perlindungan sosial kepada masyarakat miskin yang rentan terkena dampak penaikan harga BBM subsidi.Barangkali mantan gubernur DKI Jakarta itu masih perlu mengukur seberapa dalam popularitasnya jatuh jika dia menaikkan harga BBM subsidi.

Lalu siapa saja mereka? Berikut paparannya.

1. Wapres Jusuf Kalla

 

Dia menyebut pemerintah akan menaikan harga BBM subsidi pada November ini

“Pokoknya bulan inilah,” kata mantan ketua partai Golkar ini di kantor wapres, Senin (3/11).

Menurutnya, kenaikan harga BBM subsidi akan dilakukan usai Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) telah tersebar di seluruh Indonesia. Sejumlah kartu itu merupakan bentuk pengalihan subsidi BBM biasanya dinikmati warga kelas menengah ke atas ke masyarakat miskin.

Adapun besaram penaikan harga BBM subsidi masih akan disesuaikan dengan harga minyak dunia.

2. Menko Perekonomian Sofyan Djalil

 

Dia mengamini perkataan Jusuf Kalla. Sofyan Djalin menyebut penaikan harga BBM subsidi dilakukan pada November ini.

“Kenaikan bulan ini, nanti akan diumumkan, tunggu saja ya, tanggalnya belum,” ujar dia saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (5/11).

Menurut Sofyan, selama ini pemerintah tengah melakukan sosialisasi penaikan harga BBM subsidi tersebut. Sejalan dengan itu, dia meminta aparat penegak hukum bergerak cepat mengatasi penimbunan dan penyelundupan BBM subsidi.

3. Menkeu Bambang P.S Brodjonegoro

 

Sedikit di bawah Jusuf Kalla dan Sofyan Djalil, Menkeu Bambang hanya mengisyaratkan bahwa harga BBM subsidi bakal naik sebelum akhir tahun.

Menurutnya, pemerintah punya anggaran cukup untuk menggelontorkan kompensasi kepada masyarakay miskin. Selain itu, pemerintah juga fokus menyiapkan program perlindungan sosial.

4. Menteri ESDM Sudirman Said

 

Senada Menkeu, Sudirman Said menyebut harga BBM subsidi bakal naik sebelum 1 Januari 2015.

Sudirman memastikan semua persiapan untuk itu sedang berjalan. Namun, dia enggan mengungkapkan besaran penaikan harga BBM subsidi.

“Sedang disiapkan dengan baik. Saya kira, pengamat, ekonom, politisi sudah paham. Apa bisa menunda tahun depan? Saya kira tidak. Jadi tahun ini,” ucap Sudirman saat berbincang dengan wartawan di ruangannya, Jakarta, Jumat (31/

Sudirman meminta masyarakat memahami bahwa pemerintah tidak punya pilihan lain. Anggaran negara dinilainya terlambat untuk diselamatkan jika harga BBM subsidi dinaikkan tahun depan.

“Begitu diputuskan akan diumumkan, efektif begitu saja. Kalau tahun depan kita tidak selamat budgetnya.”