EQUITYWORLD FUTURES – Ada berbagai cara dan gaya rakyat Indonesia untuk menyatakan dukungannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akhir-akhir ini tengah terancam. Di Purbalingga, Jawa Tengah, gerakan SaveKPK dilakukan dengan cara yang unik khas anak muda pada Minggu (25/1) dinihari.

Beberapa anak muda di Purbalingga, melakukan aksi mendukung KPK dengan medium seni jalanan (street art) untuk menyuarakan aksi keprihatinan untuk lembaga antirasuah tersebut. Motor gerakan tersebut, Bowo Leksono mengemukakan ide ini muncul karena gerakan mendukung KPK tidak cukup hanya di media sosial saja.

“Kami butuh turun ke jalan dan pilihannya memasang pamflet dukungan kepada KPK dengan bahasa banyumasan yang tentunya setiap warga mengerti,” katanya yang juga Direktur Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, Senin (26/1).

Pamflet berukuran A3 dengan beberapa tulisan berbahasa banyumasan seperti, “Inyong rakyat ora jelas, jelas dukung KPK”, “KPK Rika Ora Dewekan” dan “Inyong Rika adalah KPK” ditempel di beberapa titik strategis, bahkan pos polisi. “Salah satu sasaran kami adalah simbol polisi, yaitu pos polisi yang tersebar di pusat kota,” kata Bowo.

Sasaran pertama, aksi ini adalah pos polisi yang berada di depan Taman Kota Usman Janatin. Namun, di luar dugaan, aksi tersebut kepergok dua polisi yang masing-masing memakai mobil pribadi. Hingga terjadilah perdebatan antara pemuda ini dengan polisi yang memergoki mereka.

“Mereka menegur kami, namun kami tidak takut. Apa yang kami lakukan murni inisiatif kami dan merupakan suara hati rakyat,” tegas Bowo.

Bowo mengemukakan, dalam perdebatan tersebut, para pemuda dianggap melakukan pelanggaran. Tetapi, para pemuda ini malah balik mempertanyakannya karena pos polisi juga merupakan bagian dari fasilitas umum.

“Kami tak sepakat jika hal itu dianggap melanggar, karena fasilitas umum dibangun dengan biaya dari pajak rakyat. Makanya rakyat seperti kami ini boleh untuk menyampaikan aspirasi melalui fasilitas umum tersebut,” ucapnya.

Setelah terjadi perdebatan, mereka kembali memasang pamflet di pos polisi berikutnya. Tak begitu lama, ada warga yang menginformasikan pamflet yang dipasang di depan Taman Kota Usman Janatin dirobek. Mendengar kabar tersebut, anak muda menyambangi polisi yang ternyata sudah selesai menyobek semua pamflet yang terpasang. Pun akhirnya, percekcokan pun tak terhindarkan.

Menurut Bowo, semua kejadian tersebut direkam dalam media video yang digunakan sebagai media aksi mereka.

“Harapan dari aksi kami, tidak hanya mengampanyekan bagaimana kegentingan program penegakan anti korupsi di Indonesia dengan kondisi KPK sekarang ini, tapi juga mengajak kelompok seniman lain di Purbalingga untuk melakukan gerakan dengan cara masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, pengamat dari Fisip Unsoed Purwokerto, Indaru Setyo Nurprojo mengemukakan aksi aktivis dan pemuda Purbalingga ini merupakan aksi spontan menyikapi realitas Indonesia hari ini untuk menyuarakan dukungan pemberantasan korupsi.

Ia mengemukakan, aksi pemuda di Purbalingga ini cukup menarik dan mencuri perhatian khalayak. “Mereka independen dan cerdas. Yang menarik apa yang mereka lakukan juga mereka dokumentasikan menjadi film. Ini yang menjadi nilai lebih tersendiri,” ujarnya.

Video yang diberi judul “KPK, Rika Ora Dewekan!” pun diunggah ke youtube pada tanggal 25 Januari 2014. Berikut video berdurasi 6 menit 42 detik tersebut: