Dadang Muhammad Fasa baru berusia enam tahun. Namun keberaniannya luar biasa. Siswa kelas 1 SD ini mampu menaklukkan berbagai jenis ular, dari yang tidak berbisa hingga ular berbisa, seperti kobra dan phiton.

Di rumahnya, di Kampung Cibunar, Desa Pangguh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, berbagai jenis ular berkeliaran dengan bebas. Di tengah ular-ular tersebut, terlihat Fasa tengah memainkannya. Seolah mengerti bahasa satu sama lain, Fasa dan puluhan ular-ularnya begitu akrab bermain.

“Saya sayang ular-ular ini. Kalau saya ingin bermain dan berlatih dengan mereka, saya lepaskan ular dari kandangnya. Kalau selesai bermain saya kembalikan ke kandang,” ucap Fasa sambil memainkan ular cin-cin emas di Bandung, Kamis (2/10/2014).

Kedekatan Fasa dengan ular karena peran sang ayah, Atep (42) yang berprofesi sebagai pawang ular. Sejak bayi, Fasa sudah diperkenalkan dengan ular-ular milik ayahnya tersebut. Hingga usia lima tahun, anak imut ini merasa lebih tertarik dengan ular dan  mengorek semua pengetahuan soal ular.

Kini, Fasa sudah bisa membantu ekonomi keluarga. Bersama sang ayah, ia kerap mengisi acara hiburan dan hajatan sebagai pawang cilik. Ular yang diajak serta, bukan ular sembarangan. Tapi ular hutan yang masih ganas. “Saya gak takut. Saya sayang ular-ular itu,” ucap Fasa.

Sang ayah, Atep mengatakan, ular-ular tersebut ia dapatkan dari hutan. Namun karena pengetahuan dia soal ular bertambah termasuk ancaman hukuman yang mengintai para pemburu hewan langka, sejak 2008 ia menghentikan kegiatannya berburu ular.

Kini, Atep mendapatkan ular dengan cara membeli. Atau sering pula ada orang yang meminta bantuannya untuk menangkap ular yang masuk rumah, gedung kosong, atau perkampungan. Nah, ular-ular inilah yang ia gunakan.

“Saya juga pernah menangkap ular raksasa pyton jenis Retic Jawa. Ukurannya delapan meter. Sekarang ularnya ada di Kebun Binatang Ragunan,” imbuhnya.