Makam Askia yang terletak di Gao, Mali adalah tempat bersemayamnya Askia Mohammad I, salah satu raja terbesar dari Kekaisaran Songhai. Situs ini dibangun pada akhir abad kelima belas. Kompleks ini meliputi piramida makam, dua masjid, dan sebuah pemakaman. Dengan ketinggiannya yang mencapai 17 meter menjadikan situs itu sebagai pra-kolonial terbesar di wilayah tersebut. Situs ini adalah bentuk dari gaya arsitektur Islam paling tua yang kemudian menyebar di seluruh wilayah.

Askia Mohammad I sendiri adalah kaisar Askia pertama yang berperan besar dalam memperluas wilayah Kekaisaran Songhai dan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Menurut Wikipedia, Askia yang memerintah pada akhir abad 15 telah berjasa menjadikan kerajaannya sebagai negara terbesar dalam sejarah Afrika barat. Kebijakan ekonomi yang ia terapkan menyebabkan Songhai mampu melakukan ekspansi perdagangan dengan Eropa dan Asia.

Askia Mohammad I juga dikenal sebagai seorang muslim yang taat dan penguasa yang memahami pentingnya ilmu pengetahuan. Sang raja meresmikan Islam sebagai agama negara dan memasukkan prinsip-prinsip Islam dalam menjalankan negara. Askia Mohammad I memerintahkan pendirian banyak sekolah dan pendalaman agama Islam. Salah satunya adalah akademi Mali yang dikenal menghasilkan ulama-ulama terkemuka. Banyak di antara lulusan akademi ini yang menulis buku dan manuskrip penting, misalnya saja Ahmed Baba dan Muhammad Kati.

rr5w3

Photo by David Sessoms

ret54

Photo by www.pbase.com

Makam Askia dibuat atas perintah Askia Mohammad I sendiri. Ia sempat menunaikan ibadah haji di Mekkah pada tahun 1495. Merasa terkesan dengan pengalaman spiritual yang ia dapatkan di sana, sekembalinya dari ibadah haji ia membawa serta lumpur dan kayu dari Mekkah. Kemudian atas perintahnya dibuatlah sebuah makam berukuran besar dengan bahan lumpur dan kayu tadi. Bagian dalam makam memiliki struktur dan arsitektur seperti sebuah rumah, dengan beberapa kamar dan lorong-lorong yang disegel begitu jenazah Askia Mohammad disemayamkan di dalamnya. UNESCO menggambarkan makam ini sebagai salah satu struktur dari bahan lumpur ala Sahel, Afrika Barat yang paling mengagumkan. Kemudian situs itu dinobatkan sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO. Sayangnya saat ini situs tersebut sudah nyaris rusak karena dihancurkan oleh Al-Qaeda dan Ansar Dine.