EQUITYWORLD FUTURES – Awal Januari 2015, PT Freeport Indonesia secara resmi punya bos baru. Di tengah alotnya proses renegosiasi dengan pemerintah Indonesia, pucuk perusahaan yang berafiliasi ke Freeport McMoran di AS ini berganti.

Perusahaan pengelola tambang emas terbesar di dunia itu menunjuk Maroef Sjamsuddin menggantikan Rozik B Soetjipto untuk duduk di kursi direktur utama.

Yang menarik, Maroef bukan murni pebisnis atau yang selama ini malang melintang dalam dunia bisnis. Latar belakangnya adalah militer.

Maroef adalah purnawirawan Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia. Tak banyak referensi mengenai rekam jejaknya. Yang jelas, Maroef merupakan jebolan Badan Intelijen Negara (BIN). Bahkan pernah menjabat sebagai wakil kepala BIN untuk periode 2011-2014.

Maroef pernah ditugaskan menjalankan operasi stabilitas keamanan di Papua. Sedangkan yang berkaitan dengan ekonomi atau manajemen, dia tercatat pernah mendapat penghargaan gelar Master of Business Administration dari Jakarta Institute Management Studies.

“Ini merupakan saat yang paling menarik bagi PTFI yang akan mengembangkan tambang baru di Papua yang akan memberikan banyak manfaat bagi karyawan, masyarakat setempat, pemerintah Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan sepanjang beberapa dekade yang akan datang.” ujarnya saat diperkenalkan pertama kali sebagai bos baru Freeport Indonesia, awal bulan ini.

Kemarin, Maroef buka-bukaan soal perjalanannya menjadi orang nomor satu di Freeport Indonesia meski tidak banyak memiliki pengalaman bisnis. Dia juga banyak bercerita dan mengungkapkan pendapatnya soal Freeport. Merdeka.com mencatatnya. Berikut paparannya.

1. Kisah perkenalan dengan petinggi Freeport

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Maroef Sjamsuddin bercerita mengenai awal pertemuan dan perkenalannya dengan bos besar Freeport-McMoran yang berkantor di Amerika Serikat.

Dari penuturannya, perkenalan dimulai pada 2011 ketika terjadi pemogokan besar-besaran di area pertambangan Freeport. Saat itu pemerintah berinisiatif mengirim Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menyelesaikan persoalan itu demi menjaga stabilitas keamanan di Papua.

Dari pengakuannya, cara penyelesaiannya itu akhirnya membuat petinggi Freeport kepincut. Dalam waktu 3 pekan, masalah di Papua selesai dan Freeport bisa kembali beroperasi. Dalam kondisi ini, Maroef akhirnya bertemu langsung dengan Komisaris Freeport-McMoran Copper & Gold Inc, James Robert alias Jim Bob.

“Tuhan memberikan jalan dan melindungi saya pada saat itu. Di situ saya mulai berkenalan dengan Freeport. Di situlah saya kenal Jim Bob,” ucapnya.

2. Pendekatan Freeport sejak 2011

Maroef Sjamsuddin bercerita mengenai proses pengangkatan dirinya menjadi Presiden Direktur Freeport Indonesia. Maroef direkrut menjadi bos perusahaan tambang emas terbesar di dunia tersebut setelah pensiun dari pegawai Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut Maroef, pada 2011 sudah ada pendekatan yang dilakukan PT Freeport. Namun, komunikasi saat itu tidak berjalan lancar karena Maroef masih berdinas. Setelah pensiun pada Juni 2014, Maroef langsung kembali ditawari mengomandoi Freeport.

“2011 saya tidak bisa berkomunikasi langsung. Saya masih aktif. Kemudian Juni 2014 saya pensiun. Menikmati holiday dengan keluarga dan berkesempatan diajak bicara. Tertarik dengan saya. Di situ terjadi tawaran, saya cuma purnawirawan TNI,” ucap Maroef dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1).

3. Berbisnis sama dengan perang

Menurut Maroef Sjamsuddin mengaku sempat berpikir lama ketika ditawari posisi sebagai Dirut Freeport. Setelah belajar seluk beluk bisnis, akhirnya Maroef memutuskan untuk menerima pinangan Freeport.

“Saya mikir-mikir lama. Ternyata ini sama seperti strategi militer di bisnis. Bagaimana merebut market, strategi yang sama bagaimana harus memenangi peperangan. Komitmen sama dia dan kita punya personality,” katanya.

4. Freeport lamban ikuti aturan

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Maroef Sjamsuddin mengakui selama ini pihaknya masih lamban menjalankan komitmen dengan pemerintah. Istilah Maroef, Freeport masih berada di jalur lambat.

“Terkait isu hangat. Memang saya akui bahwa ada suatu perlambatan-perlambatan atau jalan di jalur lambat perusahaan ini dalam rangka tunjukkan komitmen ke regulator,” kata Maroef, dalam konferensi pers di Kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (21/1).

Melihat kinerja Freeport yang lamban, Maroef mengaku marah pada jajarannya. Keterlambatan Freeport tidak hanya berakibat pada perusahaan tetapi juga dampak sosial di Papua tempat perusahaan mengeruk emas.

“Memang lambat maka saya marah ke staff. Kenapa enggak dipercepat. Kalau enggak jalan bagus bagaimana dengan Papua sendiri,” tegasnya.

5. Rakyat Papua tergantung Freeport

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Maroef Sjamsuddin angkat bicara terkait ancaman pemerintah membekukan izin ekspor konsentrat lantaran pihaknya dinilai tidak serius merealisasikan pembangunan smelter.

Dia hanya berharap proses renegosiasi dengan pemerintah bisa berjalan lancar. Sebab, jika proses ini terhambat dan ekspor terhenti, dampaknya luas ke masyarakat sekitar Tembaga Pura, Papua.

Maroef menegaskan, dampak pelarangan ekspor tidak hanya masalah bisnis. Ada dampak sosial dan pembangunan Papua.

Maroef menegaskan, kebanyakan masyarakat Papua menggantungkan hidup dari operasional perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.

“Tidak mungkin penghentian operasional. Bagaimana menghidupi keluarga dan sebagainya? Jangan hanya angka-angka, tapi sosial kehidupan di sana, kota yang hidup. Orang asli Papua, pendatang. Kita harus lihat social cost, tidak bisa dibandingkan dengan angka,” katanya.