EQUITYWORLD FUTURES – PT Auto Trisula Indonesia (ATI) selaku Agen Pemegang Merek (APM) Maserati di Indonesia mengaku ikut “terpukul” akbat pelemahan kondisi ekonomi serta terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Otomatis, harga mobil mewah yang diimpor utuh (completely built up/CBU)  dari Italia ini terus merangkak naik, di sisi lain daya beli masyarakat tengah turun.

CEO Maserati Indonesia Fransiska Renata membeberkan, sebelum dollar AS melambung, kenaikan mobil Maserati sudah mencapai 30 persen, dan setelah kondisi mata uang AS itu terus merangkak naik terhadap rupiah, hasilnya menjadi 50 persen.

“Kondisinya saat ini memang seperti ini, bahkan untuk semua sektor, bukan hanya otomotif saja melainkan di seluruh dunia pun demikian kecuali seperti negara-negara yang sedang berkembang pesat,” kata Fransiska di sela-sela acara Maserati Lifestyle Journey 2015 di Bali, Senin (5/10/2015).

Di tempat yang sama, Hobert Kwee, Chief Executive Officer Eurokars Group menambahkan, sekarang ini konsumen otomotif khususnya roda empat banyak yang memilih untuk wait and see sampai kondisi perekonomian Indonesia kembali stabil.

“Tapi prediksi kami tahun depan masih tetap sama seperti ini. Tapi diharapkan 2017 kondisi sudah kembali normal,” ucap Hobert.

Pada 2014 lalu, secara global Maserati mencatat kenaikan pengiriman kendaraan hingga 136 persen yakni 36.500 unit, di mana angka tersebut dimotori oleh kesuksesan new Quattroporte dan Ghibli. Sepanjang 2014,  pasar utama Maserati, adalah AS dengan penjualan 14.690 unit, naik 110 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian ada Cina (9.400 unit, naik 148 persen), Eropa (6.360 unit, naik 153 persen) dan Asia-Pasifik (4.000, unit naik 206 persen) dan Timur Tengah (2.050 unit, naik 144 persen).