Paguyuban “Ini Bangsaku” bermula dari komunitas kegiatan rohani di beberapa perusahaan finansial bermarkas di Surabaya, mulai peduli terhadap negeri ini yang dikaruniai keelokan dan kekayaan alam, bumi nan subur, adat istiadat, budaya, suku, bahasa, dan agama. Sebagai bagian dari anak bangsa di jamannya dalam perenungannya turut merasakan keprihatinan terhadap rakyat dan pemimpinnya di negeri ini telah terkikis untuk mendengarkan hati nurani dan jiwanya. Berbagai potret kehidupan yang menghiasi bangsaku ini hanyalah ego kesombongan, kekerasan, ketamakan, ketidakadilan, tiada kerendahan hati, tiada kepedulian terhadap bumi, sesama, dan semua mahluk cipataan Tuhan, sehingga bumi negeri kita tercinta ini turut menanggung beban akibat sikap dan perbuatan penghuni bangsa ini, menjadi rusak dan panas.Potret bangsaku ini sudah tergambarkan dari sepenggal Serat Kalatidha milik Pujangga Jawa Rongowarsito: “Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada.”

“Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada”

Kini sudah saatnya anak bangsa ini turut bergerak untuk “MEMBANGUN JIWA BANGSA” karena jiwalah yang sebenarnya menjadi komando atas raga yang diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan setiap manusia. Jiwa yang senantiasa mendengarkan hati nurani, karena itulah Bimbingan, Penyertaan, dan Kekuatan yang diberikan ALLAH kepada ciptaanNya. Itulah KASIH ALLAH agar apa yang telah semua Beliau berikan begitu melimpah ini kita syukuri dan seharusnya dapat digunakan sebaik-baiknya oleh yang tercipta ini seturut dengan kehendakNya (bukan sebaik-baiknya menurut kemauan pikiran manusia).

Buah dari Keinginan JIWA adalah KESEDERHANAAN yang begitu luas, mudah dipahami dan dimIriawan Widadi - Tuanku Imam Bonjol Manadoengerti dalam rasa. Buah dari Keinginan Ego Pikiran adalah ruwet, terkadangsukar dipahami, penuh intrik dan tipu muslihat. Dengan kesadaran dan kekuatan Jiwa maka kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bersyukur karena diberi banyak kelimpahan dan masih dipersatukan di negeri ini. Namun bila bangsa ini terbiasa dengan ego pikirannya, maka yang terjadi adalah perpecahan, tubuh yang tercerai berai, akibatnya umat manusia, bumi beserta isinya turut menderita. Sejarah pun mencatat berbagai peristiwa politik sosial dunia dari abad kuno hingga sekarang, masih banyak para pemimpin bangsa masih menunjukkan egonya. Tiada relung jiwa mereka untuk mendengarkan suara hatinya, hingga jiwanya menjadi gelap oleh ego pikirannya.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah dikaruniai tanah air, adat, budaya, agama, perjuangan para luluhur dan pahlawan dalam membangun “Indonesia Raya”, maka berbagai kegiatan adat, budaya dan keagamaan yang telah dan akan diselenggarakan oleh Paguyuban “Ini Bangsaku” di beberapa tempat, kiranya dapat dijadikan Tonggak Kesadaran dan Kebangkitan Jiwa Anak Bangsa, untuk kemudian semangat yang telah diwariskan ini selalu menggugah jiwakita dalam kehidupan kita sehari-sehari, dan juga dapat diteruskan kepada generasi muda berikutnya.

Itulah Harapan dan Kerinduan Jiwa Anak Bangsa.