Lewat voting semalam, senator asal Kalimantan Barat, Oesman Sapta, terpilih sebagai wakil Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang bakal menjabat pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Siapapun empat pimpinan lain yang terpilih, satu kursi pimpinan MPR dipastikan sudah di tangan Oesman.

Oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Oesman bakal dijadikan sebagai ketua MPR karena gabungan partai pendukung Jokowi-JK sudah berjanji memberikan kursi MPR-1 untuk DPD, entah siapapun calon yang diputuskan para senator tersebut. Baik KIH dan DPD menginginkan pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat.

Sementara itu, di sisi lain, Koalisi Merah Putih (KMP) yang masih memaksakan diri dengan sistem paket dan voting, sudah menetapkan empat kursi calon pimpinan MPR akan diduduki oleh Demokrat sebagai ketua, dan Golkar, PKS dan PAN sebagai wakil ketua. Seandainya voting dilakukan dan KMP menang, Oesman hampir dipastikan tidak akan menjabat ketua MPR, karena koalisi Prabowo itu sudah menetapkan jatah MPR-1 adalah milik Demokrat.

Lalu siapa sebenarnya Oesman Sapta sebenarnya?

Pria kelahiran Sukadana, Kalimantan Barat, 18 Agustus 1950 ini memiliki nama lengkap Oesman Sapta Odang. Dia adalah pendiri Partai Persatuan Daerah dan pernah menjabat sebagai wakil ketua MPR periode 1999-2004.
Meski demikian, Oesman lebih dikenal sebagai seorang pengusaha besar ketimbang seorang politikus.

Oesman merupakan pemilik konglomerasi OSO Group yang bergerak di bidang percetakan, pertambangan, air mineral, properti, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi dan perhotelan. Saat ini, dia menjabat sebagai ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Putranya, Raja Sapta Oktohari, 38 tahun, adalah Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014.

Oesman dikenal sebagai seteru Prabowo Subianto dalam perebutan kursi ketua umum HKTI periode 2010-2015. Prabowo pernah menggugat keabsahan Oesman sebagai ketua umum ormas petani berskala nasional tersebut. Namun, gugatan Prabowo itu ditolak lewat putusan Mahkamah Agung Nomor : 310 K/TUN/2012 tertanggal 23 Juli 2013.

Dalam proses gugat menggugat itu, Oesman dikenal tidak gentar melawan Prabowo yang merupakan bekas jenderal Orde Baru. Pernyataan-pernyataannya kepada media saat perselisihan kala itu juga tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun terhadap bekas menantu Presiden Soeharto tersebut. Pada Pilpres 2014 lalu, HKTI di bawah Oesman Sapta menyatakan mendukung Jokowi-JK, pasangan rival Prabowo-Hatta.

Terpilihnya Oesman sebagai wakil DPD di MPR juga sempat mendapat kritik dari kader Partai Gerindra, besutan Prabowo Subianto. Namun, Oesman tidak terlalu menggubrisnya. Dalam pidatonya usai terpilih di DPD, dia justru mengatakan bertekad mencairkan hubungan politik Jokowi dan Prabowo, jika terpilih menjadi ketua MPR.