EQUITYWORLD FUTURES – Jumlah bakal calon presiden (capres) AS dari Partai Republik dalam pemilihan umum tahun ini memecahkan rekor sejarah, yaitu 17 orang. Sejauh ini yang tersisa tinggal 12 orang. Lima orang lainnya telah memilih mengakhiri kampanye mereka.

Tulisan ini hanya akan membahas enam bakal calon yang, berdasarkan hasil survei, dinilai berpeluang memenangkan nominasi Partai Republik

Donald Trump

Konglomerat real estate ini telah mematahkan prediksi pengamat politik bahwa kampanyenya hanya akan bertahan seumur jagung. Trump bisa dikatakan telah menjalankan kampanye anti-konvensional tersukses dalam sejarah Amerika. Walaupun nihil pengalaman politik, terus melontarkan ucapan kontroversial, dipadu rasisme dan xenophobia yang tinggi, pesona pengusaha berumur 68 ini belum pudar sama sekali.

Dia kokoh memimpin survei nasional Capres Republik. Trump juga diunggulkan di survei di Iowa, New Hampshire, dan South Carolina yang akan memainkan peranan penting pada awal musim pemilu ini.

Tentu saja pertanyaan terbesar adalah apakah dukungan dalam survei ini dapat diwujudkan menjadi dukungan nyata di hari pemilihan. Hasil buruk di Iowa dan New Hampshire akan “meledakan” kampanyenya dan berpotensi mengakhiri status unggulan yang sudah disandangnya selama berbulan-bulan.

Politik sebenarnya bukan barang baru bagi Trump. Dia pernah mencalonkan diri tahun 2000 melalui Partai Reformasi tetapi kemudian mengundurkan diri. Dia juga pernah melontarkan ide untuk maju sebagai Gubernur New York tahun 2006 dan 2014. Trump juga hampir mencalonkan diri tahun 2012 namun akhirnya menarik diri.

Ideologi politiknya sendiri tidak pernah jelas. Trump tercatat telah berkali-kali gonta-ganti partai, mulai dari Demokrat (1987, 2001-2009), kemudian menjadi Republiken (1987-1999, 2009-2011, 2012 – sekarang), Reformasi (1999-2001) dan pernah menjadi independen (2011-2012). Layaknya seorang pebisnis, ideologi partai tidaklah penting baginya. Yang penting adalah pragmatisme yang terlihat dari caranya menjalankan kampanye presiden.

Ted Cruz

Cruz (45 tahun) baru tiga tahun menjabat sebagai senator mewakili Texas. Namun minimnya pengalaman politik tidak menghalangi dia untuk maju meramaikan bursa capres. Lulusan Hukum Universitas Harvard ini dikenal sebagai orator ulung yang mampu meluluhkan hati pendengarnya. Latar belakangnya sebagai jaksa di Texas menempanya menjadi sosok yang memegang teguh nilai-nilai konservatif Republiken.

Salah satu agenda utama Cruz jika terpilih menjadi presiden adalah membatalkan Undang-Undang Jaminan Kesehatan (Obamacare) yang menurutnya telah melanggar hak-hak konstitusional negara bagian.

Cruz selalu mencitrakan dirinya sebagai sosok outsider yang berbeda dengan rekan-rekannya di Kongres. Dia tidak segan mengecam dan melawan rekan separtainya sendiri yang menurutnya terlalu banyak berkompromi dengan pemerintahan Obama. Dia juga bersikukuh membiarkan terjadinya shutdown pemerintahan federal AS tahun 2013 silam.

Posisi politiknya yang sangat keras ini telah membuat kesal banyak anggota Kongres Amerika yang menilai dia “overacting” untuk meningkatkan citranya demi memuluskan ambisi menjadi presidennya. Sejauh ini senator berdarah Amerika-Kuba ini menjadi favorit kuat untuk memenangkan Kaukus Iowa yang demografi pemilihnya didominasi pemilih evangelical yang merupakan basis kekuatan Cruz.

Hasil buruk di Iowa hampir pasti akan menutup jalan Cruz menuju Gedung Putih.

Marco Rubio

Marco Rubio disebut sebagai “rising star” Partai Republik. Rubio menjadi sosok kuat yang difavoritkan untuk memenangkan nominasi partai. Bisa dikatakan Rubio memiliki resep-resep untuk menjadi presiden: berwajah ganteng, berdarah Amerika-Kuba ( krusial untuk memenangkan suara kaum Hispanik), memiliki posisi politik moderat, berasal dari negara bagian penting Florida, dapat diterima oleh sejumlah faksi-faksi Republiken, dan juga seorang intelektual yang tajam.

Mantan anak asuh Jeb Bush ini meniti karir politik sejak usia muda. Di usianya yang baru 29 tahun dia telah terpilih menjadi anggota DPRD Florida di tahun 2000. Dalam selang 6 tahun dia dipilih menjadi Ketua DPRD Florida. Puncaknya ketika dia terpilih menjadi senator tahun 2010.

Sejak itu namanya mulai digaungkan sebagai sosok yang mampu mengembalikan Gedung Putih ke tangan Partai Republik. Namun sejauh ini perolehan suara Rubio di survei masih stagnan, tidak banyak berubah. Walaupun selalu konsisten tampil baik di debat capres, momentum yang diharapkan tidak kunjung tiba.

Hasil di Iowa dan New Hampshire akan memberikan gambaran apakah Rubio benar-benar sosok yang layak diperhitungkan. Jika dia gagal untuk setidaknya menempati posisi ketiga di Iowa dan kedua di New Hamsphire, ambisi presidennya akan lebih terjal dari yang dibayangkan.

Jeb Bush

Keluarga Bush bisa dikatakan terus menghiasi kancah perpolitikan Amerika dalam empat dekade terakhir. Kali ini Jeb Bush, adik kandung Mantan Presiden George W Bush berharap menjadi Bush ketiga yang menghuni Gedung Putih.

Kampanye kepresidenan kali ini tidak semulus seperti yang diharapkan Jeb. Mantan Gubernur Florida ini sempat menyandang status unggulan ketika mendeklarasikan pencapresannya. Namun seiring waktu dan kemunculan Donald Trump, dukungan terhadap Jeb terkikis dan dia saat ini terseok-seok dengan hanya meraih dukungan 5-10 persen.

Hal ini sangat mengejutkan mengingat dia dilengkapi dengan jumlah dana kampanye yang tidak terhingga dan organisasi kampanye yang kuat. Selalu disebut sebagai sosok paling intelektual di keluarga Bush, Jeb memiliki posisi politik moderat yang membuatnya populer di kalangan pemilih independen. Sayangnya posisi politknya yang moderat itu menjadi kelemahannya di kalangan pemilih primary Republiken yang cenderung lebih konservatif.

Selain itu nama keluarganya juga menjadi beban berat yang harus dipikul. Rakyat Amerika jenuh dengan dinasti Bush dan juga masih belum dapat melupakan krisis ekonomi dan 2 perang yang terjadi ketika George W Bush menjabat. Jeb membutuhkan hasil yang cemerlang, setidaknya posisi kedua di New Hampshire jika ingin melanjutkan kampanyenya. Hasil buruk di New Hamsphire, negara bagian yang cenderung lebih ramah terhadap calon moderat, akan memunculkan tekanan terhadapnya untuk mundur dari bursa capres.

John Kasich

John Kasich Kasich adalah politisi veteran yang sudah malang melintang di kancah politik Amerika sejak era Presiden Ronald Reagan di tahun 1980-an.
Gubernur Ohio ini menjabat sebagai anggota DPR selama 18 tahun dari 1983-2001. Dia juga dipercaya menjadi Ketua Badan Anggaran DPR dari tahun 1995-2001. Pencapresan kali ini bukanlah yang pertama baginya. Di tahun 2000, politisi berusia 63 ini sempat mencalonkan diri namun akhirnya mundur karena rendahnya dukungan.

Sempat beristirahat dari kancah politik, dia terpilih menjadi Gubernur Ohio di tahun 2010 dan kembali untuk periode kedua tahun 2014. Sama seperti Jeb Bush, Kasich juga memiliki posisi politik moderat yang membuatnya tidak populer di kalangan pemilih konservatif Republiken. Ambisi presidennya akan ditentukan di New Hamsphire di mana dia berkampanye dengan gencar dan telah berhasil mendapatkan dukungan dari surat kabar terkemuka setempat Boston Globe. Hasil buruk di New Hampshire hampir pasti akan mengakhiri kampanyenya.

Chris Christie

Chris Christie terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. Ia sempat menjadi favorit di pilpres empat tahun lalu. Ketika itu sejumlah sosok establishments Republik meminta Christie maju untuk menantang Mitt Romney yang dinilai terlalu lemah.

Christie yang merupakan rising star partai ketika itu pada akhirnya menolak permintaan itu. Namanya juga sempat masuk di daftar finalis cawapres Mitt Romney.

Kali ini politisi yang selalu menjadi bahan lelucon karena postur tubuhnya yang gemuk itu memutuskan untuk bertarung merebut kursi presiden. Namun keadaan sudah berubah bagi Christie. Dia tidaklah sepopuler seperti di tahun 2012.

Skandal “Bridgegate” menjadi biang kerok kejatuhan popularitasnya. Adapun skandal lalu lintas itu terjadi karena adanya surat elektronik dan pesan pendek yang menyiratkan salah seorang pembantu utama Christie sengaja menciptakan kemacetan September 2014 untuk menghukum seorang wali kota yang berasal dari Partai Demokrat. Skandal itu berhasil merusak Christie yang selama ini memperlihatkan diri sebagai seorang pemimpin pragmatis yang bersedia bekerja sama dengan lawan politiknya. Itu juga mencemarkan reputasinya sebagai orang yang lurus karena sebelumnya dia membantah bahwa dia atau stafnya terlibat