EQUITYWORLD FUTURES – Masa libur sekolah yang panjang di pengungsian juga dialami oleh anak-anak sekolah dasar, termasuk anak-anak Desa Mardingding, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, yang sudah delapan hari mengungsi di Jambur Tanjung Mblang. Ini kali ketiga mereka ikut orang tuanya mengungsi sejak erupsi 2013 lalu karena desa mereka termasuk 21 desa yang rusak parah akibat erupsi Gunung Sinabung.

Untuk mengisi waktu liburan anak-anak ini, APePeBe Medan dan Cakrawala Anak Sinabung yang berinisiatif memberikan hiburan yang mengedukasi anak-anak tersebut. Mereka patungan dengan uang kantong sendiri untuk membeli makanan kecil yang dibungkus dalam kantong plastik mungil menjadi 300 bingkisan tersedia. Lalu tersedia pula kertas bergambar untuk diwarnai dan dongeng yang mendidik oleh kakak-kakak yang jago bercerita.

Minggu (21/6/2015) siang, rombongan berangkat menuju Kecamatan Tiganderket menumpang pick-up tetangga sekretariat. Perjalanan ditempuh hampir dua jam. Sepanjang jalan, rombongan disuguhi pemandangan Gunung Sinabung yang aktivitas vulkaniknya tengah tinggi dan deretan sawah yang sebagian tertutup abu dan sungai serta parit-parit besar hasil kerja tangan aliran lahar dingin.

Saat matahari tepat di atas kepala, rombongan sampai dan disambut Kepala Desa Mardingding dan Sekretaris Desa, Minarti Br Sembiring.

Menurut Minarti, apa yang dilakukan para pemuda dan pemudi ini sangat kreatif dan membantu sekali. Apalagi mereka baru mengungsi delapan hari, jadi bantuan masih sangat minim dan semuanya masih sangat terbatas. Ini menimbulkan beban psikologis bagi orang tua dan anak-anak.

“Jadinya mereka rewel dan merengek terus. Minta jajan terus. Kalau ada kalian gini kan, terbantu sikit (sedikit) kami. Kurang sikit beban kami. Anak-anak pun terhibur dan tetap belajar,” katanya.

SDN Nomor 040496 Tanjung jadi lokasi tempat berkumpul anak-anak tersebut. Mereka di ajak bermain, bernyanyi, dibagi sesuai kelasnya lalu dibagikan kertas bergambar untuk diwarnai. Begitulah hingga sore menjelang. Sebelum kembali ke posko, mereka mendapat oleh-oleh bingkisan makanan. Ada yang terlalu senang mendapatnya hingga berlari kencang mencari orangtuanya. Ada yang bernyanyi-nyanyi, teriak dan tertawa, tapi yang lebih banyak adalah langsung membuka dan menghabiskan bingkisan aneka makan kesukaan anak-anak itu.

Sofian Adly dari APePeBe Medan mengatakan, menghibur anak-anak pengungsi adalah sebagian dari aktivitas mereka sebagai relawan.

“Kami yang tergabung dari berbagai organisasi ini mengajak kita semua untuk turut merasakan dan membantu meringankan duka warga pengungsi Sinabung, khususnya anak-anak. Seberapa besar yang kita mampu beri, itu sangat berarti bagi mereka. Walau hanya sekedar membuat mereka tertawa,” kata laki-laki yang biasa di panggil Ali ini.

Ditanya kenapa memilih Desa Mardingding, dia bilang karena lokasi pengungsian desa ini sangat jauh dari posko pengungsi lainnya yang umumnya dekat dengan Kota Berastagi atau Kabanjahe. Jadi masih kurang terpantau dan minim fasilitas.

“Untuk sementara, konsentrasi kami di Mardingding. Mereka jauh disini, bahkan dari ibukota kecamatan. Semoga anak-anak senang dan para orang tua sedikit berkurang beban,” pungkasnya.