EQUITYWORLD FUTURES – Suasana ramai pekerja langsung tersuguh saat memasuki halaman depan stasiun. Beberapa pekerja lengkap dengan seragamnya sibuk hilir mudik membawa peralatan untuk merenovasi stasiun.

Sebagian lagi lebih dulu bekerja di bagiannya masing-masing untuk mempersolek Stasiun Tanjung Priok. Pada bagian lobi utama, para pekerja melakukan perbaikan beberapa bangunan.

Di dekat lobi tampak berserakan besi dan kayu yang dikelilingi garis hitam kuning. Berjalan ke halaman dekat peron, pagar besi setinggi empat meter lebih masih kokoh berdiri.

Di depan pagar, dua pekerja memilah keramik yang sudah dianggap tak layak dipakai dengan cara diketuk.

Perbaikan stasiun berusia 100 tahun lebih tersebut dikebut untuk menghidupkan kembali tempat yang lama mati suri.

Dibangun pada tahun 1914 saaat masa Gubernur Jenderal AFW Idenburg dan diarsiteki Ir. C.W Koch, seorang insinyur utama dari Staats Spoorwegen (SS-Perusahan kereta api hindia belanda), gaya stasiun tak lepas dari sentuhan Eropa.

Ragam fasilitas pun dibangun, mulai dari hotel, kafe bar hingga ruang dansa di bagian bangunan lain stasiun. Ruang tersebut biasanya hanya disesaki oleh warga negara Belanda semata.

Terletak berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan Terminal Tanjung Priok menjadikan stasiun yang pada masa kejayaannya bagian dari denyut nadi perekonomian di Jakarta Utara.

Pada tahun 1925, stasiun dibuka untuk masyarakat umum dengan menyediakan rute kereta rel listrik (KRL) Tanjung Priok – Meester Cornelis (Jatinegara).

Terdapat tiga peron dengan enam lajur rel, stasiun tak sepi saat masa kejayaannya. Baik kereta barang atau pun penumpang hilir mudik di stasiun dengan atap menjulang tinggi tersebut. Namun, perubahan zaman ternyata juga berdampak pada Stasiun Tanjung Priok.

Ramainya penggunaan transportasi pesawat udara, membuat stasiun tak banyak diminati dan akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 2001. Di sekitar stasiun itu pun sempat diramaikan oleh praktek prostitusi, bahkan hingga menggunakan gerbong yang tidak terpakai.

Stasiun sempat dihidupkan kembali pada tahun 2009, namun akhirnya hanya bertahan lima tahun. Sejak 1 November 2014, kereta penumpang di stasiun resmi dihentikan.

Kini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana kembali menghidupkan stasiun yang lama mati suri dari aktivitas transportasi masyarakat umum. Awal Desember 2015, jalur Tanjung Priok – Jakarta Kota kembali diaktifkan dan dilintasi KRL.

“Saya minta PT KCJ, awal Desember (2016) sudah jalan,” kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto di Stasiun Tanjung Priok, Senin (23/11/2015).

Sistem persinyalan pun turut dibenahi. Beberapa komponen yang sempat rusak dan tua diganti. Namun, mencari komponen baru untuk sistem persinyalan di Stasiun Tanjung Priok tak mudah. Sebab, komponen tersebut sudah berumur tua.

“Kemarin masalah sinyal. Banyak komponen hilang dan nyari sparepartnya itu agak susah,” jelas Hermanto.

Meski tak lagi menghidupkan beberapa fasilitas seperti hotel, bar dan ruang dansa, stasiun akan tetap menyimpan jejak sejarahnya sendiri. Masayarakat umum akan merasakan berada di stasiun dengan gaya klasik Eropa, sebab stasiun tak akan banyak diubah.