EQUITYWORLD FUTURES –  Jarum jam menunjuk angka 11, Minggu (7/2/2016) malam. Guyuran hujan sedari pagi belum juga usai. Namun, ratusan orang tetap hilir mudik di Wihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Suasana semarak terasa saat berada di depan kelenteng yang berjarak sekitar 300 meter dari Pelabuhan Cirebon tersebut. Puluhan kendaraan roda dua dan empat berjejer memadati jalan.

Sejumlah gerai juga ikut memasarkan produknya. Tak ketinggalan, para pengemis di pintu masuk, berharap sedekah dari pengunjung kelenteng.

Ketika memasuki gerbang kelenteng, ratusan lilin merah berbagai ukuran, yang tingginya beberapa sentimeter hingga lebih dari semeter, langsung menyapa.

Terdapat sejumlah nama di lilin tersebut. Tampak kekaguman pengunjung, baik umat Tionghoa maupun umat lainnya. Mereka menyempatkan berfoto.

Lilin lurus itu menerangi bangunan seluas sekitar 1.800 meter persegi tersebut. “Lilin itu menandakan adanya pencerahan di tahun baru ini,” ujar Sidik Sugiharto, Ketua Wihara Dewi Welas Asih.

Di bagian dalam wihara, satu per satu pengunjung wihara bersembahyang, memanjatkan doa di hadapan patung Dewi Kwam Im. Asap dari dupa menambah khidmat suasana.

Tak ada suara yang keluar dari mulut pengunjung saat itu. Mata mereka terpejam. Tangan yang memegang dupa mengarah ke bawah seiring dengan tubuh yang menunduk, sebuah penghormatan kepada Sang Dewi.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI Malam perayaan Imlek di Wihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (7/2/2016).

Tidak hanya yang berusia lebih dari setengah abad, sejumlah anak belasan tahun juga ikut berdoa di dalam wihara yang dibangun sekitar empat abad silam. “Setiap orang memanjatkan doa dan harapannya jelang Tahun Baru Imlek,” lanjut Sidik.

Setelah bermunajat, para pengunjung bergeser ke sisi timur kelenteng. Di ruangan yang hanya sekitar 15 meter x 5 meter itu, seratusan pengunjung bersama sanak saudara berkumpul.

Hidangan makanan, seperti bubur kacang tanah, serabi solo, dan bakmoy menambah hangat suasana. “Ini momen berkumpul bersama,” ucapnya.

Malam itu, tak hanya masyarakat Tionghoa di Cirebon yang menikmati malam pergantian tahun. Masyarakat Kota Cirebon juga ikut hadir.

Mereka ikut makan bersama dan menyaksikan pertunjukan kembang api. Bahkan, Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis ikut hadir.

“Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya milik umat Tionghoa, tapi juga umat lainnya di Cirebon,” ucap Nasrudin.

Di Kota Wali itu keberagaman memang terus tumbuh dan berkembang. Sejarah Kota Cirebon tidak hanya identik dengan perkembangan Islam.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI Malam perayaan Imlek di Wihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (7/2/2016).

Etnis Tionghoa juga berperan dalam perkembangan kota itu. Berabad-abad, etnis Tionghoa hidup bersama warga Cirebon.

Selain Wihara Dewi Welas Asih, salah satu kelenteng tertua di sana, terdapat sejumlah bukti kebudayaan Tiongkok di Cirebon. Piring-piring keramik khas Tiongkok, misalnya, dapat ditemui di Keraton Kasepuhan dan makam Sunan Gunung Jati.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari pernikahan Putri Ong Tin Nio yang merupakan etnis Tionghoa dengan Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo. Hingga kini, peninggalan tersebut masih terjaga lestari.

Hari telah berganti. Tahun Baru Imlek, tahun yang disebut Monyet Api atau Monyet Emas telah menggantikan Tahun Kambing Kayu.

Malam pengharapan pun berubah menjadi hari-hari untuk mewujudkan harapan itu. “Tahun Monyet Emas ini identik dengan monyet yang lincah dan peniru. Mari meniru hal-hal baik di tahun baru ini,” ujar Sidik.

Semakin malam, semakin banyak lilin yang menyala. Selamat Tahun Baru Imlek.