EQUITYWORLD FUTURES – Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir memamerkan hasil produksi pesawat terbang N219, yang dinilai lebih unggul dari produk negara lain.

Menurut Nasir, pesawat N219 yang merupakan pengembangan dari N-250 secara kualitas tidak kalah bersaing dengan pesawat sejenis buatan negara lain, seperti Kanada dan China.

“Kita sudah ada N219. Kualitasnya ada, harga juga lebih murah dari yang lain,” kata Nasir di sela peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Semarang, Selasa (31/5/2016).

Pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia ini akan berfungsi sebagai penyambung ke pulau-pulau terdekat, terluar yang selama ini sulit diakses menggunakan pesawat komersial.

“Kalau daerah terdekat seperti Karimunjawa itu bisa, kalau pakai heli satu-dua orang,” kata dia.

Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Kokpit dalam pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia.

N219 merupakan pengembangan dari N250 yang telah mati suri. Menurut Nasir pesawat N-250 tidak bisa diutak atik lantaran dicatat sebagai aset negara. N250 sempat berjaya karena diterbangkan pertama kali pada 10 Agustus 1995 di Bandung. N-250 menjadi bukti nyata bahwa Indonesia telah mampu mengembangkan teknologi kedirgantaraan.

“Sampai hari ini pesawat itu dicatat sebagai aset, dan itu tidak bisa digunakan. Itu harus dihapuskan dari aset dulu, dimasukkan ke museum,” tamah dia.

Namun demikian, Nasir berharap agar semua inovasi teknologi yang diterapkan agar bisa bersaing di dunia bisnis. Sebab, persaingan bisnis yang tidak kuat membuat pengembangan inovasi akan sulit berkembang.

“Yang jadi masalah itu persaingan bisnisnya. Kami ada motor listrik di Surabaya, Mobil listrik, kita bisa menyiapkan apa saja, tapi persaingan bisnis ini perlu dikawal,” tambah dia.