EQUITYWORLD FUTURES – Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengklaim mendapatkan banyak dukungan untuk kembali memimpin partai. Namun sejumlah politikus partai berlambang pohon beringin itu buru-buru menghadang.

Mereka tidak percaya Ical dapat mengembalikan kejayaan Golkar. Terlebih partai yang akrab dengan kekuasaan itu baru kali ini berada di luar pemerintahan.

Ical dianggap menorehkan sejarah kelam buat Golkar karena pada Pilpres 2014 tidak dapat mencalonkan capres dan cawapres. Ical membawa Golkar gabung dengan Koalisi Merah Putih, mendukung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Suara keras agar musyawarah nasional (Munas) dipercepat kian santer terdengar. Kubu berseberangan pun menginginkan Golkar tak lagi dipimpin oleh Ical.

Berikut politikus Golkar menolak Ical kembali nyalon ketua umum:

1. Agun nilai Ical tak berprestasi di Golkar

 

Rencana pencalonan Aburizal Bakrie (Ical) sebagai ketua umum Partai Golkar untuk periode mendatang mendapatkan penolakan dari kader partai. Teranyar, penolakan dilontarkan oleh anggota fraksi Partai Golkar Agun Gunanjar Sudarsa.

Menurut Agun, selama menjadi ketua umum Ical tak memiliki prestasi gemilang. Seseorang yang maju sebagai calon ketua umum partai, lanjutnya, harus memiliki terobosan-terobosan yang cemerlang bagi partainya.

“Komentar saya, kalau seseorang maju karena punya prestasi, prestasi dia (Ical) apa? Pileg kalah, ngusung capres wapres tak bisa,” kata Agun dengan nada ketus saat dihubungi, Senin (3/11).

Lebih lanjut, kata Agun, selama kepemimpinan Ical, organisasi atau partai diatur dengan seenaknya. Aspirasi-aspirasi dari kader partai tak dianggap oleh Ical.

Termasuk, kata Agun, ketika rapat pleno DPP Partai Golkar, Ical tidak menunjukkan kewibawaannya dalam memimpin. Rapat pleno berjalan sesuai kehendak Ical dan tidak menampung aspirasi kader.

“Tak ada rapat pleno, seenaknya. Kemudian pemilihan pimpinan DPR MPR sangat oligarki,” tegasnya.

2. Agus Gumiwang sebut Ical sudah gagal kelola Golkar

 

Politisi Partai Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita angkat bicara terkait rencana kembali majunya Aburizal Bakrie sebagai ketua umum Partai Golkar. Agus mempertanyakan rencana Ical tersebut terlebih setelah melihat hasil pemilu legislatif lalu yang dinilainya gagal.

“Oh welcome saja. Cuma kan pertanyaannya apakah seorang incumbent yang kita anggap gagal mengelola partai apakah layak kembali memimpin partai,” kata Agus kepada merdeka.com, di posko poros muda Partai Golkar di Jalan Gunawarman Nomor 49, Jakarta Selatan, Senin (3/11).

Agus menilai dengan melihat track record kepemimpinan Ical saat ini beberapa kader partai sudah tak percaya. “Dengan kemudian memberikan kepercayaan kembali partai? Apakah bisa?” tanya Agus.

Menurut Agus, pertentangan Ical kembali menjadi ketua umum sangat jelas terlihat dari beberapa kader yang siap melakukan perubahan dengan maju sebagai ketua umum. “Tujuh orang yang maju sebagai ketua umum sudah sangat terlihat,” katanya.

Agus mengaku tak risau terkait tujuh orang termasuk dirinya yang maju dalam bursa ketua umum partai Golkar. Selama persaingan itu sesuai dengan AD/ART Partai Golkar, Agus menilai tak masalah.

“Tujuh dari calon ketua umum itu Kamis (30/10) kemarin ketemu dan semua sepakat untuk perubahan. Dengan persaingan lewat cara masing-masing,” kata dia.

3. Ical dinilai pimpin Golkar kayak perusahaan

 

Penolakan terhadap rencana kembali majunya Aburizal Bakrie (Ical) sebagai ketua umum Partai Golkar terus mengalir. Selama menjabat ketua umum partai satu periode, kepemimpinan Ical dibilang gagal.

Juru Bicara Poros Muda Partai Golkar Andi Sinulingga mengatakan, bukan hal yang sulit untuk menginventarisir kegagalan Ical selama menjabat ketua umum partai. Di bawah kepemimpinan Ical, Golkar yang merupakan partai besar dan tua justru tidak mengalami kemajuan.

“Memang salah satu indikator kegagalan memimpin Golkar, Pak Ical mematikan proses demokrasi yang tumbuh di Partai Golkar. Partai dipimpin seperti perusahaan pribadi, orang diperlakukan bukan sebagai kader dan pengurus, tapi sebagai anak buah. Partai kok kayak perusahaan,” jelas Andi saat dihubungi, Jakarta, Senin (3/11).

Andi yang juga Mantan Bappilu Partai Golkar itu sama sekali tidak setuju bila Ical mencalonkan kembali sebagai ketua umum partai. Ical dia anggap lebih mementingkan ego dan kepentingan pribadi dibandingkan mengurus organisasi secara profesional.

“Itulah yang membuat dia mendengungkan matrik sistem, orientasi by result, yang penting hasil, proses enggak penting. Proses mati hasil enggak didapat, Pileg kalah, Pilpres enggak bisa nyalon. Justru mendukung partai lain kalah juga,” bebernya.

Menurut Andi, sejak reformasi tidak ada ketua umum Partai Golkar yang menjabat lebih dari satu periode. Semuanya rela dan legowo mewariskan kepemimpinan partai terhadap kader profesional lainnya.

“Keterlibatan kader partai ditutup Pak Ical, itu membuat partisipasi kader tidak ada,” tandasnya.

4. Suara Golkar bisa terjun bebas jika kembali dipimpin Ical

 

Perolehan suara Partai Golkar dalam pemilu mendatang diprediksi kuat bakal merosot jika Aburizal Bakrie (Ical) kembali menjadi ketua umum partai. Sebab, Ical dinilai tidak menorehkan sejarah prestasi selama menjadi ketua umum Partai Golkar.

“Kalau dia (Ical) maju, tunggu saja Golkar di bawah 7 persen,” kata Politisi Golkar, Agun Gunanjar Sudarsa saat dihubungi, Jakarta, Senin (3/11).

Menurut Agun, selama kepemimpinan Ical, organisasi atau Partai Golkar diatur dengan seenaknya. Aspirasi-aspirasi dari kader partai tak dianggap oleh Ical.

Oleh karena itu, pinta Agun, demi mewujudkan cita-cita partai, Ical disarankan untuk tidak mencalonkan diri sebagai ketua umum partai pada periode yang akan datang.

“Legowo saja untuk tidak maju,” pinta anggota fraksi Golkar ini.