EQUITYWORLD FUTURES – Nilai tukar rupiah yang terus melorot berpengaruh pada rasa khawatir masyarakat untuk berinvestasi. Dampaknya, berbagai instrumen investasi seperti saham, forex, reksadana hingga emas mulai berkurang peminat lantaran nilai jualnya datar-datar saja.

Di tengah kekalutan calon investor memilih instrumen investasi, sektor properti, khususnya apartemen, menjadi pilihan yang terus bertambah peminat. Banyak orang beralih dan tertarik dengan investasi di sektor ini, karena pasokannya banyak dan beragam terutama di kota-kota besar. Contoh, di Jakarta atau wilayah suburban yang strategis, misalnya Bumi Serpong Damai (BSD).

Khusus sektor apartemen, selama ini investor mempertimbangkan keuntungan modal dan nilai sewa, apalagi kalau produk properti yang diincar berpotensi memiliki tingkat permintaan tinggi. Dengan begitu, apartemen sebagai instrumen investasi dinilai memiliki risiko lebih kecil.

Melirik performa apartemen di kota besar, misalnya Jakarta, tingkat rata-rata pembelian apartemen pada saat pembangunannya memang tinggi, meskipun pernah mengalami penurunan permintaan saat iklim politik memanas pada 2014 lalu.

Berdasarkan riset data Colliers International Indonesia untuk kuartal kedua 2015, tingkat rata-rata pembelian apartemen pada saat dibangun atau yang akan selesai pada 2015 menurun dari 73 persen pada kuartal ketiga tahun 2014 menjadi 69 persen.

“Tetapi, tahun ini, angkanya bergerak naik sebesar 4,3 persen. Harga per meter perseginya pun rata-rata meningkat menjadi Rp28,9 juta per meter persegi untuk semua tipe apartemen,” ujar Associate Director Data Colliers International Indonesia, Ferry Salanto.

Shutterstock Potensi keuntungan dari apartemen yang dijual kembali sebelum seluruh gedung terbangun mencapai 30 persen sampai 50 persen – data Colliers International Indonesia.

Masih menurut data riset tersebut, kinerja apartemen sewa, baik servis maupun non-servis, maupun apartemen yang disewakan, sampai saat ini tetap stabil, yakni pada angka 75 persen. Rinciannya, untuk area Jakarta performa okupansi apartemen yang disewakan pada kuartal pertama hingga kedua berada dalam kisaran 75 persen hingga 80 persen, sedangkan apartemen pada nonprime area bergerak dari 69,8 persen hingga 70 persen.

Tak hanya itu. Potensi keuntungan dari apartemen yang dijual kembali sebelum seluruh gedung terbangun mencapai 30 persen sampai 50 persen. Adapun apartemen yang dijual kembali pada kurun dua sampai tiga tahun setelah terbangun bisa mencapai angka 50 persen hingga 80 persen.

Hunian vertikal menjadi gaya hidup

Melihat pertimbangan keuntungan, pantas rasanya jika apartemen menjadi incaran para investor. Apalagi, satu hal yang tak kalah penting, jika apartemen yang akan dimiliki itu berada di kawasan strategis, termasuk di dalam lokasi bisnis atau berdekatan dengan instansi pendidikan sehingga performa okupansinya tinggi.

Shutterstock Apartemen yang berada di kawasan strategis, termasuk di dalam lokasi bisnis atau berdekatan dengan instansi pendidikan memiliki performa yang baik. Pengaruhnya, tingkat okupansi semakin tinggi.

Pertimbangan kedua yang menjadikan apartemen atau hunian vertikal berpotensi menjadi instrumen investasi adalah tingginya kebutuhan. Semakin terbatas dan mahalnya harga lahan, serta ledakan penduduk yang semakin padat di kota besar menjadi salah satu alasan apartemen masih diburu berbagai kalangan.

Hal ketiga dan tak kalah penting dijadikan pertimbangan adalah gaya hidup kaum urban yang menjadikan permintaan akan hunian vertikal tersebut selalu tinggi. Biasanya, saat apartemen dibangun langsung diiringi sekaligus dengan sarana pendukung dan pelengkapnya. Misalnya, dekat dengan area perkantoran dan pusat perbelanjaan sehingga menunjang kebutuhan harian penghuninya.

Tak heran, hingga beberapa tahun ke depan, kemungkinan berinvestasi apartemen menjadi gaya hidup yang tak lagi baru, tapi menjadi dinamika yang sangat wajar di kota besar. Siapkah Anda berinvestasi?